
Rosa yang merasa sudah di tunggu segera mempercepat make up nya dan memakai baju yang sesuai.
"Aku sudah siap, mari kita berangkat sekarang." ajak Rosa sambil tersenyum simpul.
Abrisam selalu di buat terpana oleh pesona yang Rosa miliki.
Si kembar pun akhirnya menganggukkan kepalanya lalu segera bangkit berdiri dan mereka berjalan beriringan menuju mobil.
Kedua lelaki itu duduk di depan kemudi, sedangkan Rosa duduk di bangku bagian belakang bersama Zaidan. Sebelum berangkat mereka melambaikan tangan dulu ke arah bu Susi yang berdiri di depan teras rumah.
Perjalanan ke bandara cukup jauh, namun meskipun begitu, mereka tampak antusias menjemput umi Farhana dan Abi Husein. Sesekali mereka terlibat percakapan. Hingga akhirnya mereka sudah tiba di bandara.
Jantung Abigail semakin berdetak kencang, karena ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan kedua orang tuanya. Meskipun pernah sesekali melakukan video call dengan mereka, tetap saja ia merasa gugup.
Kebahagiaan seorang anak adalah, bisa melihat kedua orang tuanya masih hidup, di beri kesehatan, membalas kasih sayang mereka dengan merawatnya ketika tua nanti, dan tentunya bisa berbakti sampai orang tua kita telah tiada.
"Bi, kok malah bengong. Ayo buruan turun?" ajak Abrisam sambil menoyor lengan Abigail karena ia hanya diam saja.
"Eh, i_iya." Abigail segera mendongakkan kepalanya agar matanya yang berkaca-kaca tidak menetes, karena ia sangat terharu sebentar lagi akan bertemu dengan Abi dan umi.
Mereka segera berjalan beriringan menuju tempat kedatangan. Di tempat itu sudah banyak orang yang berdesakan untuk mengantri para anggota keluarganya.
Si kembar dan Rosa celingukan melihat satu persatu orang yang turun dari pesawat melewati garbarata.
Mata mereka langsung berbinar ketika melihat sepasang suami-istri yang sama sama mengenakan baju berwarna navi.
Mereka segera mengangkat kertas nama yang mereka pegang tinggi tinggi sambil melambaikan tangan ke arah orang tuanya yang mulai berjalan mendekat ke arah penjemputan.
Abi dan umi yang menangkap bayangan mereka langsung membalas melambaikan tangan ke arah mereka dengan senyum sumringah.
Setelah dekat, mereka saling mengucapkan salam sambil bersalaman lalu berpelukan.
__ADS_1
"Pasti kamu Abigail." umi Farhana menangkup wajah Abigail sebelum memeluknya. Keduanya berpelukan cukup lama.
"Umi. Abi kangen sekali dengan umi." lirih Abigail seperti anak kecil yang telah lama terpisah dari ibunya.
Rosa yang melihat pertemuan ibu dan anak itu tampak juga ikut terisak.
Sesaat suasana mengharu biru, semua menangis terisak meluapkan kebahagiaan masing-masing.
Senyum sumringah terlukis di wajah masing-masing. Setelah cukup melepas rindu, bersama sama mereka berjalan menuju mobil terparkir. Mereka hendak menuju ke hotel yang telah di booking jauh hari oleh Abrisam.
Abigail menggamit lengan umi Farhana dan abi Husein. Sedangkan Abrisam menggamit lengan Abi Husein dan tangan Rosa. Sangat terlihat jelas kebahagiaan mereka.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak-gerik mereka sejak tadi. Bahkan ia juga mengambil foto kebersamaan mereka dari jarak aman tanpa di ketahui oleh keluarga abi Husein.
Ia tersenyum miring penuh arti dan segera mengirim semua foto yang ia ambil tadi ke seseorang di seberang handphone. Tak hanya itu saja, bergegas ia mengikuti keluarga Abi Husein dari jarak aman.
Abrisam dan Rosa duduk di kemudi depan, sedangkan Abigail duduk di tengah-tengah antara kedua orang tuanya. Abrisam melajukan mobilnya pelan sambil ikut bercakap-cakap dengan keluarganya.
Satu persatu keluarga Abi Husein turun dari mobil.
Rosa yang baru sekali menginjakkan kaki di hotel, sangat takjub dengan suasana dan designnya yang tampak mewah hingga membuatnya berdecak kagum.
Mereka semua membawa koper dan makanan yang sudah Rosa siapkan sejak tadi pagi. Mereka melenggang santai memasuki lobi hotel sambil sesekali bercanda.
Seseorang yang sangat misterius itu tadi pun juga masih terus mengikuti mereka, sampai akhirnya tiba di sebuah kamar hotel lantai 10.
Sesampainya di dalam kamar hotel, Abi Husein dan umi Farhana sangat syok dengan kejutan yang di berikan kedua anaknya. Mereka saling mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.
Kamar itu di hias dengan sangat indah, banyak balon dan kertas warna warni yang di pasang di atap serta setiap sudutnya. Tak hanya itu saja, sebuah tulisan besar bertulisan Selamat datang Abi dan umi bergantung indah di atas tempat tidur. Di lantai juga banyak taburan bunga mawar yang wangi menusuk hidung.
Dan sekali lagi Rosa di buat terpana melihat design interior yang mewah.
__ADS_1
Abrisam yang melihat hal itu tampak menyunggingkan senyum ke arahnya. Lalu menahan tangan Rosa sebelum melangkah lebih jauh ke arah mereka yang sedang berdiri di depan jendela kamar.
"Apa kamu suka dengan suasana hotel ini?" tanya Abrisam, lalu Rosa menganggukkan kepalanya.
"Jika kamu mau, aku bisa pesankan kamar di sebelah untuk mu. Aku juga bisa meminta tolong pada pelayan untuk mendesign seperti ini."
"Tidak usah mas. Aku nanti pulang saja."
Abrisam menganggukkan kepalanya, lalu menggandeng tangan Rosa mendekat ke arah orang tuanya dan Abigail yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Abi, umi, tadi Rosa sempat masak untuk kalian. Ayo kita cicipi bersama." tawar Rosa sambil membuka paper bag yang berisi box box makanan dengan aneka jenis. Abrisam pun juga ikut membantunya.
Bau tiap makanan langsung menyeruak memenuhi kamar, membuat perut mereka keroncongan.
"Terima kasih Rosa, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan ini semua." ucap Farhana sambil mendekat ke arah Rosa yang masih berdiri di dekat meja bar sedang menyusun makanan. Di ikuti oleh Abigail dan Abi Husein.
"Rosa tidak merasa di repotkan kok umi. Justru senang bisa ikut menyambut kedatangan Abi dan umi di Indo."
"Kamu memang menantu yang baik Rosa." puji umi Farhana tulus.
Ada rasa bersalah di hati Rosa, ketika umi Farhana memujinya demikian. Karena ia hanyalah menantu siri.
Mereka pun segera mencicipi satu persatu masakan Rosa. Lalu kembali memuji masakannya yang enak.
"Kamu benar-benar istri idaman Rosa. Sudah cantik, baik jago memasak lagi. Pantas saja Abrisam sangat mencintai mu." puji Farhana lagi yang di iringi oleh tawa Abigail dan Abi.
Rosa hanya menyunggingkan senyum, sedangkan Abrisam justru cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
Karena mereka juga sudah sangat lapar, akhirnya memutuskan untuk segera makan siang. Mereka makan dengan lahap hingga tak tersisa.
"Alhamdulillah. Akhirnya hari ini kita bisa berkumpul menikmati waktu dan makan bersama." ucap Farhana.
__ADS_1
"Iya, semoga seterusnya kita bisa berkumpul dalam suasana yang lebih seru lagi." imbuh abi Husein sambil memegang tangan Farhana.