Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
106. Motor Rosa


__ADS_3

"Apa mungkin ini ada kaitannya dengan keluarga Rico. Karena tak terima dengan anaknya yang dimasukkan ke sel tahanan?" ucap Abrisam menerka-nerka.


Semua sejenak saling beradu pandang.


"Setelah 1x24 jam, kita lapor polisi saja." usul Abigail.


"Aku setuju. Mereka berdua adalah wanita yang masih muda. Aku takut jika terjadi sesuatu pada keduanya. Terlebih Rosa, yang baru saja berhasil melewati masa kelamnya."


"Sam, jauhkan pikiran buruk dari kepala mu." tegur Husein pada anaknya.


Malam itu, keluarga Rosa, keluarga Lidya, dan keluarga Farhana, tak bisa memejamkan mata barang sebentar pun.


Saat pagi tiba, bu Cici terus mendesak suaminya untuk ke rumah Rico. Ia ingin memastikan anaknya ada di sana atau tidak.


Keduanya menaiki mobil menuju kesana. Sepanjang perjalanan, Bu Cici kian terlihat tidak tenang. Jari jemarinya saling bertautan.


Akhirnya, mobil berhenti di sebuah rumah yang bergaya minimalis modern. Bu Cici dengan gerak cepat, membuka pintu mobilnya. Lalu berjalan dengan nafas yang memburu menuju ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Pak Citro, segera menyusul, untuk menenangkannya.


Tok....Tok....Tok.


Bu Cici mengetuk pintu dengan kasar.


"Ma, ingat, kita ini bertamu. Harus sopan." bisik pak Citro pada istrinya. Namun sepertinya istrinya itu tidak mengindahkan ucapannya. Berkali-kali ia menggedor pintu. Hingga membuat risih penghuninya.


"Woi, bisa sabar ngga sih!" seru pak Rahman dari balik pintu.


Ia semakin terkejut melihat kedatangan kedua orang tua Lidya sepagi itu.


"Dimana kamu sembunyikan anak saya?" cerocos bu Cici, sambil menerobos masuk.


"Heh, ini rumah ku. Bisa jaga sikap ngga? Siapa yang mengijinkan mu masuk?" sentak pak Rahman.


"Dimana kamu sembunyikan anakku?" ulang Bu Cici lagi.


Pak Rahman mengernyitkan dahi, karena tidak tahu maksud ucapan bu Cici.


"Buat apa menyembunyikan anakmu. Tak ada gunanya."


Bu Cici tetap tak percaya dengan ucapan lelaki yang ada dihadapannya. Ia bergerak kesana-kemari, mencari Lidya ke setiap sudut kamar. Namun tak juga menemukan keberadaan anaknya.


Hanya satu kamar yang belum ia periksa. Bergegas ia membuka pintu yang kuncinya masih terpasang.


Alangkah terkejutnya Bu Cici, melihat penampilan Bu Rita yang terlihat semrawut. Tidak secantik biasanya.

__ADS_1


"Ke_kenapa istrimu berpenampilan aneh?"


"Ini semua gara-gara kamu sekeluarga. Sekarang angkat kaki dari rumah ku!" sentak pak Rahman lagi. Tanpa permisi ataupun maaf, kedua orang tua Lidya keluar dari rumah itu.


Sementara pak Rahman segera mengunci kembali pintu kamarnya. Ia heran, dengan kelakuan orang tua Lidya yang mencari anaknya sepagi itu.


"Ah, masa bodoh. Kenapa aku harus memikirkannya? Mungkin itu balasan nya, karena telah memporak-porandakan keluarga ku." ucap pak Rahman dengan senyum sinisnya.


Ia terlihat senang dengan kekhawatiran yang di alami kedua orang tua Lidya.


Sementara itu, di dalam mobil, kedua orang tua Lidya terus memutar otak. Jika bukan keluarga Rico yang menculik Lidya, lalu siapa?


"Pa, kita mampir ke rumah Rosa. Siapa tahu, Lidya cerita sesuatu padanya. Mereka kan sangat akrab."


Pak Citro mengangguk setuju.


Tak butuh waktu lama, karena desa Rico dan Rosa bersebelahan, akhirnya mereka pun sampai di kediaman Rosa.


Tok...Tok...Tok


"Assalamu'alaikum." ucap Bu Cici.


Tak perlu menunggu lama, pintu akhirnya terbuka.


"Bu Cici. Apa ibu membawa kabar tentang anak saya." cerocos bu Susi. Wanita yang ada di hadapannya mengernyitkan dahi.


"Maaf Bu, saya tidak membawa kabar apapun tentang Rosa. Justru saya kesini mau bertanya. Apa kemarin Lidya main kesini? Sejak kemarin dia belum juga pulang."


"Jadi, Lidya juga hilang begitu Bu maksudnya?"


Bu Cici mengangguk cepat.


"Ya Allah, astaghfirullah. Kenapa mereka berdua bisa menghilang bersamaan?" bu Susi mengusap dadanya, agar tenang.


Bu Cici pun juga melakukan hal yang sama. Ia mengatakan pada Bu Susi, jika habis dari rumah Rico. Karena berpikir merekalah yang menculik Lidya. Namun ternyata, dugaannya salah.


"Saya juga kemarin sempat berpikir seperti itu bu. Eh, ternyata dugaan saya salah." timpal bu Susi.


"Kita tunggu sampai Dhuhur. Habis itu kita berangkat ke polisi untuk melapor." usul pak Citro.


Kedua wanita itu mengangguk setuju. Lalu bu Susi mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk. Mereka saling terdiam, namun otaknya terus berputar memikirkan anak-anak mereka.


Samar-samar terdengar suara adzan. Bergegas mereka mengerjakan sholat Dhuhur. Lalu bersiap berangkat ke kantor polisi.

__ADS_1


Saat di perjalanan, terdengar suara handphone Bu Susi. Ia segera merogoh handphone dari dalam tasnya. Bu Cici menoleh ke arah handphone bu Susi. Terlihat nama umi Farhana yang menelpon.


"Assalamu'alaikum umi. Apa ada kabar mengenai putri saya." Bu Susi langsung mencecar Farhana dengan pertanyaan.


"Wa'alaikumussalam, belum bu. Justru saya menelepon ibu, untuk menanyakan, apakah Rosa sudah ketemu."


Bu Susi membuang nafas sejenak.


"Belum umi. Ini saya berangkat ke kantor polisi bersama dengan kedua orang tua Lidya. Ternyata Lidya juga hilang."


"Oh, iya, semalam ibunya Lidya juga menelpon saya. Ya sudah kami akan menyusul ke kantor polisi, tempat ibu melapor."


Setelah saling mengucap salam, panggilan pun berakhir.


Sementara itu, di dalam kamar hotel. Farhana memberitahukan pada suami dan anaknya, bahwa orang tua Lidya dan Rosa akan melapor ke kantor polisi.


"Kita susul mereka umi." ajak Abrisam.


"Umi juga berpikir seperti itu, tapi bagaimana dengan pendapat abi kalian?"


"Aku setuju saja. Kita sholat dulu, lalu kesana." kata Husein.


Mereka segera bangkit dari duduknya, lalu bergiliran ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelahnya mereka bergegas keluar untuk mencari taksi yang akan mengantarkan mereka menuju kantor polisi. Melewati parkiran motor. Mata Abrisam terbelalak ketika melihat motor yang sangat ia hafal. Bergegas ia pun mendekati motor itu, untuk memastikan.


"Ini motor rosa. Kenapa bisa ada disini?" gumamnya.


"Apa kemarin sewaktu bertemu dengan umi, Rosa di culik?" gumam Farhana.


"Lalu kenapa pihak hotel tidak mengetahui kejadian ini?" geram Abrisam.


"Kita harus meminta cctv hotel ini. Agar bisa menangkap pelakunya." ucapnya lagi.


Mereka pun berjalan menuju pos satpam, dan segera menyampaikan maksud tujuannya. Satpam yang berjaga membulatkan matanya, mendengar laporan keluarga Husein. Ia pun segera menelpon manager hotel, bahwa ada yang ingin bertemu.


"Mari ikut saya." kata satpam itu. Mereka pun segera mengikuti satpam yang berjalan menuju ruang manager.


Seorang lelaki yang berperawakan tambun menyapa mereka, saat memasuki ruang manager.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"


"Kami ingin melihat rekaman cctv kejadian kemarin. Karena saya menemukan motor istri saya di parkiran hotel ini. Namun, dia menghilang sejak kemarin." tegas Abrisam. Membuat manager itu seketika menelan kasar saliva. Karena selama ini, belum pernah ada kejadian ganjil di hotelnya.

__ADS_1


__ADS_2