
Karena rasa capek dan lelah yang mendera, Rosa langsung tidur pulas memeluk anaknya. Dan ketika tengah malam Zaidan mulai membolak-balik tubuhnya hingga ia terisak. Beruntung Rosa bisa segera bangun, lalu segera menyusuinya sambil tidur.
Dan ketika sayup sayup mendengar adzan subuh, seisi rumah sudah terbangun. Kebiasaan mereka yang terbiasa bangun pagi itu tetap berlangsung walaupun sudah tidak bekerja lagi.
Pagi itu, bu Susi segera ke dapur untuk memasak setelah melaksanakan sholat subuh.
Sedangkan Rosa mengajak jalan-jalan Zaidan sambil menghirup segarnya udara di pagi hari.
Karena terlalu bahagia bisa kembali menikmati waktu berdua dengan Zaidan, Rosa sampai tak sadar jika sudah berjalan cukup jauh, sampai melewati rumah Rico.
"Heh, ngapain berdiri di situ? Mau cari Rico? Mau minta belas kasian? Walaupun kamu bawa anak atau ngga, dia tetap tidak akan mengakui itu sebagai anaknya. Dasar wanita ngga tahu malu. Ayo pergi pergi. Merusak pemandangan saja." maki ibunya Rico yang kebetulan baru memasuki pelataran rumah sehabis belanja sayur, tapi langkahnya terhenti karena melihat Rosa dan anaknya tengah berdiri di seberang jalan sambil menggendong Zaidan.
'Astaghfirullah, padahal ngga ada niatan sedikit pun untuk menemui mereka. Kenapa masih saja di rendahkan?' batin Rosa dalam hati. Bergegas ia segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Sayang, kalau kamu sudah besar nanti, bersikap baiklah pada semua orang ya nak. Meskipun wajah mu sangat mirip dengan papa mu, jangan pernah sekalipun kamu meniru kelakuannya." gumam Rosa sambil menghujani Zaidan dengan kecupan.
Seminggu telah berlalu dengan begitu cepat. Umi Farhana benar-benar menepati janjinya, membayar gajinya penuh selama 2 tahun. Rosa dan ibunya menangis terharu dengan kebaikannya.
Rosa dan ibunya berulang kali mengucapkan rasa terima kasihnya dan mendo'akan segala kebaikan untuk umi Farhana dan abi Husein.
Sering sekali mereka melakukan panggilan video call untuk melepas rindu. Seperti pada pagi hari itu, umi Farhana begitu kangen Zaidan, akhirnya ia menelpon Rosa duluan.
"Assalamu'alaikum cucu umi?" sapa Farhana dari layar handphonenya sambil melambaikan tangan ke arah Rosa dan Zaidan.
"Wa'alaikumussalam umi." balas Rosa sambil mengangkat tangan Zaidan dan melambaikan nya ke arah layar handphone.
Zaidan terus terkekeh ketika melihat dan mendengar suara Farhana, sehingga membuat ia semakin gemas dengan si kecil itu.
__ADS_1
Berulang kali umi Farhana memberi banyak nasehat pada Rosa tentang ilmu parenting, agar Zaidan tumbuh jadi anak yang sholih dan memiliki akhlaq karimah. Dan Rosa tak pernah bosan mendengar nasehat itu.
Setelah sekian menit bercakap-cakap dan bercanda lewat telepon, Zaidan mulai mengucek matanya, pertanda ia sudah sangat mengantuk. Rosa segera berpamitan pada umi Farhana, lalu mematikan sambungan telepon, dan segera menyusui Zaidan agar lekas tidur.
Rasa nyeri yang Rosa rasakan pada buah dadanya berangsur-angsur hilang setelah kembali rutin menyusui Zaidan. Ia pun sangat bersyukur sekali.
"Ros." ibunya ikut duduk di samping Rosa yang tengah menyusui Zaidan di ruang keluarga.
"Ada apa bu?" tanya Rosa lirih, sengaja agar suaranya tidak menggangu Zaidan yang baru saja terlelap.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan uang gaji mu nanti?"
Rosa juga masih bingung dengan apa yang akan ia lakukan terhadap gaji yang ia terima. Dan sampai sekarang, seluruh uang gajinya juga masih tersimpan dalam rekening nya.
Rosa menghela nafas beberapa saat memikirkan cara memanfaatkan uang gajinya. Jualan sembako juga tidak mungkin, karena tetangga depan rumahnya sudah jualan. Tetangganya juga banyak yang berprofesi sebagai penjual. Kerja di pabrik, umi Farhana juga tidak mengijinkan.
Setelah ibunya bertanya seperti itu, ia tidak mengungkitnya lagi. Ia tahu jika Rosa adalah anak pintar yang bisa di andalkan. Ia juga yakin, jika anaknya itu tengah memikirkan dengan baik tentang memanfaatkan uang yang nominalnya mencapai 144 juta.
Jika orang lain yang mendapat uang sebanyak itu, pasti akan langsung di belikan mobil, perhiasan atau lainnya dengan penuh suka cita.
Tapi tidak dengan Rosa. Baginya suatu saat ia harus mengembalikan sejumlah uang itu. Sehingga ia sesegera mungkin, harus menggunakan uang itu untuk modal usaha.
Setiap hari Rosa mencari referensi pekerjaan yang bisa di lakukan sembari momong anak, tapi belum mendapatkan yang sreg di hatinya.
"Ros, kamu semakin cantik saja setelah punya anak. Perawatan di salon mana? Dapat duit dari mana? Katanya merantau kok sudah pulang, ngga betah ya? Apa pilih jadi simpanan om om, kan enak dapat duit banyak." ibu ibu memberondong Rosa dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, ketika Rosa berbelanja sayur.
"Namanya wanita, pastilah cantik bu asalkan rajin merawat diri. Duit dari mana saja, yang penting halal dan ngga mencuri. Hati-hati kalau bicara bu, ngatain saya simpanan om om, nanti kalau anak kalian yang jadi simpanan om om sendiri gimana? Atau suami kalian yang justru punya simpanan." balas Rosa sambil terkekeh. Ibu-ibu bersungut-sungut kesal mendengar ucapan Rosa yang sangat menohok.
__ADS_1
"Semenjak punya anak kelakuan semakin menjadi ya. Padahal dulu pendiam banget lho." sahut ibu-ibu yang lain.
"Kalau ngga saya jawab, di kira bisu. Kalau saya jawab di kira terlalu pemberani. Terus ibu-ibu maunya gimana? Mau saya doakan agar hidup ibu dan anaknya sama seperti saya?" Rosa tetap berusaha tenang dan santai dalam menghadapi warga netizen.
Setelah membeli sayur yang di butuhkan Rosa segera berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
'Bodo amat, aku ngga peduli pada kalian. Silahkan lanjutkan saja nggibah nya. Semoga ketika aku mati, terkejut dengan kedatangan pahala yang banyak dari para lambe turah.' batin Rosa mensugesti diri.
"Ros, tumben ke warung lama banget?" tanya ibunya yang sudah menunggunya di teras rumah sambil menggendong Zaidan.
"Seperti biasa bu, mereka kembali membicarakan Rosa. Katanya tambah cantik karena dapat uang jadi simpanan om om."
"Hah! Serius mereka bicara seperti itu?" tanya bu Susi sambil membulatkan matanya. Dan Rosa sekali lagi mengangguk.
"Terus kamu diam saja?"
"Rosa lawan dong bu, masa iya cuma diam saja. Semakin diam, semakin di injak-injak."
"Ya Allah, ibu ngga menyangka, kamu semakin berani saja."
"Selama kita benar, ngga perlu takut bu."
Bu Susi menghela nafas lega, karena Rosa semakin menunjukkan keberanian nya pada orang yang merendahkan nya.
"Em, tapi Ros, perkataan ibu-ibu itu mungkin ada benarnya. Kamu semakin terlihat cantik, kulit mu semakin terlihat bersih dan segar."
"Masa sih bu?" balas Rosa sambil memegang pipinya sambil cengar-cengir.
__ADS_1