
Untuk pertama kalinya Oma Sekar benar-benar meluapkan amarahnya pada kedua cucunya. Karena sudah tidak bisa lagi menguasai emosi di hatinya.
Si kembar tertunduk sambil berpikir, kenapa Oma menyinggung soal kedua orangtuanya.
"Iya Oma, kita tahu kalau kedua orang tua kami sudah meninggal." kata Abigail yang tetap berusaha lembut pada omanya, walau sebenarnya bertentangan dengan hatinya.
Sedangkan Abrisam justru tampak geram dengan sikap omanya, hingga ia mengepalkan tangannya. Ia tak bisa berbasa-basi.
"Kalau kalian tahu mereka sudah mati, kenapa masih tetap mencari mereka? Dan siapa yang kalian temui di dalam kamar hotel tadi? Jangan pernah meremehkan Oma."
Setelah berkata seperti itu, dengan bersungut-sungut kesal Oma Sekar meninggalkan kedua cucunya, dan berlalu menuju kamarnya. Sengaja melakukan hal itu, agar kedua cucunya sadar akan kesalahannya.
Sementara itu si kembar tampak terkejut, dengan ucapan omanya. Yang ternyata sudah mengetahui apa yang mereka sembunyikan. Darimana omanya tahu tentang hal itu, pikir keduanya.
Keduanya pun menghempaskan punggungnya di sofa ruang tamu, dan tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Sekian menit berlalu, keduanya akhirnya memutuskan untuk ke kamar. Mereka menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang ada di kamar Abigail.
"Karena kita sudah ketahuan, sebaiknya kita kasih tahu ke abi dan umi saja Sam."
"Iya, aku setuju dengan ide mu. Toh, tak perlu ada yang ditutupi lagi. Lebih cepat lebih baik."
"Iya, semoga orang tua kita setuju bertemu dengan Oma."
Abigail segera merogoh handphone yang terselip di saku celana, lalu menelpon uminya.
"Assalamu'alaikum umi." sapa Abigail setelah panggilan terhubung.
"Wa'alaikumussalam nak. Ada apa sayang, malam-malam telepon?" balas Farhana di seberang sana.
"Umi, Oma sudah mengetahui semuanya. Sebaiknya besok Abi dan umi kesini ya. Kita selesaikan masalah ini baik-baik."
Farhana terdiam sekian detik, dengan jantung yang berdegup kencang. Tiba-tiba Husein mengejutkannya dengan memeluk pinggangnya dari belakang.
Farhana menoleh ke samping dan tengah melihat suaminya tersenyum. Wanita itu segera membisikkan apa yang baru saja putranya bicarakan.
__ADS_1
Senyum yang tadi mengembang seketika memudar. Ia menghempaskan nafas panjang sebelum mengambil keputusan.
Sementara di ujung sana, si kembar berulangkali memanggil uminya, karena hening, tak ada jawaban sama sekali. Abigail melihat layar handphonenya, dan melihat telepon masih berlangsung.
"Umi, kenapa umi diam saja?" ulang Abigail.
"Eh, iya nak." balas Farhana di seberang sambil memandang suaminya. Dan, setelah sekian waktu terdiam, Husein mengangguk.
"Umi bersedia kan bertemu dengan Oma di rumah? Apa perlu kami jemput?"
"In shaa Allah kami bersedia nak, tidak perlu kamu jemput, biar kami naik taksi online saja."
Si kembar seketika berbinar matanya, mendengar jawaban uminya.
"Alhamdulillah, kita tunggu di rumah ya umi, abi. Semoga Allah beri jalan atas setiap masalah yang sedang kita hadapi saat ini."
"Aamiin, semoga doa anak sholih umi dikabulkan Allah. Umi selalu menyayangi kalian berdua." balas Farhana.
Husein yang mendengar jawaban dari Abigail tadi, ikut terharu, karena ia mirip sekali sifatnya dengan Farhana.
Percakapan panjang lewat saluran telepon itu akhirnya selesai dengan saling mengucapkan salam dan doa.
Sementara itu, di kamarnya, Oma Sekar menitikkan air mata. Terbayang jika kedua cucunya akan meninggalkannya, setelah anaknya sendiri.
Baru saja memejamkan mata, sayup-sayup, Oma Sekar mendengar suara adzan subuh. Sehingga membuat ia kesal.
Sejak semalaman Oma Sekar memang tidak bisa tidur karena terus memikirkan cucunya, hingga ia terus membolak-balikkan badannya.
Ia pun menutup telinganya dengan bantal. Badannya miring ke kanan dan kiri hingga akhirnya ia terduduk.
"Sial, kenapa semua orang selalu saja mengusik hidupku? Tidak membiarkan ku hidup dengan nyaman." maki Oma Sekar.
Akhirnya, ia mandi pagi untuk menghilangkan rasa penat di hatinya.
Guyuran air shower yang terasa dingin, tetap tak bisa menghilangkan penat dihatinya. Sehingga perlu waktu yang cukup lama, Oma Sekar mandi.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tinggal diam. kedatangannya kembali mulai mengusik ketenangan hati ku selama 24 tahun ini." gumamnya.
Pagi itu, seperti biasanya Oma Sekar sudah menunggu kedua cucunya untuk menikmati sarapan pagi bersama.
Tak berselang lama, si kembar turun dan menghampiri omanya yang tengah duduk menghadap meja makan dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
Meskipun ragu, si kembar tetap menyapa omanya dengan menarik senyum yang kaku.
"Selamat pagi Oma." seru mereka sambil mengecup kedua sisi pipi oma, namun wanita sepuh itu tetap terdiam.
Si kembar saling beradu pandang, lalu Abrisam lebih memilih untuk segera duduk di kursinya, dan di ikuti oleh Abigail.
Oma segera mengambil sedikit salad sayur, lalu meletakkan di piring yang selebar nampan. Mukanya tetap dingin, tanpa mempersilahkan kedua cucunya untuk mengambil makanan seperti biasanya.
Dengan ragu, akhirnya keduanya mengambil roti panggang dan mengoles dengan selai kesukaan masing-masing.
Setelah memotong kecil-kecil, Abigail melahap satu persatu roti itu. Sedangkan Abrisam yang tak sabar, langsung melahap roti itu tanpa memotongnya.
"Mulai hari ini, kalian bekerja dari rumah dulu. Semua berkas akan di antar oleh karyawan." ucap Oma di sela-sela makannya.
Si kembar saling beradu pandang mendengar ucapan omanya, dengan pipi yang menggembung karena sedang mengunyah.
"Kenapa kita harus bekerja di rumah Oma? Siapa yang akan mengawasi kinerja para karyawan?" sanggah Abrisam. Sementara Abigail tengah diam sambil mengamati wajah omanya.
Abigail berpikir, pasti omanya melakukan itu untuk membatasi ruang gerak keduanya agar tidak bisa bertemu dengan kedua orang tua mereka.
"Kalian tak perlu cemaskan hal itu, semua mudah di atur. Oma hanya ingin kalian mengikuti apa saja yang menjadi perintah Oma."
"Tapi sampai kapan Oma, kira harus bekerja dari rumah" tanya Abrisam yang semakin gusar. Karena tak mampu menahan rindu untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan Rosa sekeluarga.
"Sampai kalian tak bisa berjumpa lagi dengan mereka." ucap Oma tegas.
Di dunia ini, Sekar hanya memiliki kedua cucunya, jadi akan melakukan apapun untuk menjaga miliknya agar jangan sampai hilang.
Sementara itu, si kembar semakin terkejut dengan ucapan Omanya yang terdengar seperti sebuah ancaman.
__ADS_1
'Ya Allah, kenapa aku baru mengetahui oma memiliki sifat seperti itu? Seperti pernah memiliki trauma batin yang sulit untuk disembuhkan. Semoga sebelum ajal menjemputnya, Oma bisa berubah. Kebahagiaan terbesar adalah melihat orang-orang terdekat kita, saling hidup rukun dengan penuh kasih sayang, dan selalu menyelipkan untaian doa untuk mereka.' batin Abigail sambil menatap omanya.
Mereka pun saling diam, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring, sampai acara sarapan pagi itu selesai.