
"Jadi, kamu sengaja ingin menjatuhkan kami!" hardik Bu Rita penuh emosi. Bahkan ia sampai mendorong Rosa. Beruntung Abrisam segera menangkapnya.
"Anda jangan macam-macam dengan kami. Jika tidak mau hukuman untuk putra anda semakin berat bu." ucap Abrisam yang mulai naik pitam.
"Saya tidak ada urusannya dengan kamu. Jangan ikut campur." balas Bu Rita tak kalah bengis.
"Semua yang berhubungan dengan Rosa, akan menjadi urusan saya. Karena saya adalah suaminya." ucap Abrisam lantang.
Kini semua mata tertuju pada Abrisam. Rico sekeluarga tidak menyangka jika diam-diam Rosa telah menikah.
Apalagi lelaki yang mengaku suaminya terlihat lebih dewasa dan tampan. Di lihat dari wajahnya, bisa dipastikan dia berasal dari golongan orang kaya.
'Lantas, bagaimanakah ceritanya mereka bisa bersatu? Ataukah hal itu hanya isapan jempol belaka? Demi menyelamatkan reputasi Rosa?
Hal itulah yang tengah dipikirkan oleh keluarga Rico.
Rosa pun juga tengah menatap Abrisam tanpa kedip. Ia bisa melihat keseriusan di mata lelaki tampan itu.
"Baiklah, sidang kami lanjutkan kembali. Silahkan duduk di kursi masing-masing." ucap sang hakim memecah keheningan sekaligus ketegangan yang sejak tadi terjadi.
Beberapa petugas mendekat ke arah mereka, untuk mengarahkan agar duduk kembali.
Dengan bersungut-sungut kesal, Bu Rita kembali ke tempat duduknya.
Setelahnya, pengacara dari pihak Rico meminta keringanan untuk kliennya, karena masih berstatus pelajar.
Melihat banyaknya bukti yang begitu memberatkan Rico, hakim telah menetapkan keputusannya, dan tidak dapat dirubah.
Bu Rita menghampiri Rico. Ia memeluk dan menangisi nasib anaknya yang tragis. Rico pun juga menangis di pelukan ibunya.
Hal itu berjalan sekian waktu. Hingga akhirnya kedua petugas mengarak Rico menuju sel tahanan. Keduanya pun terpaksa mengurai pelukan, dan tangisnya kian pecah.
__ADS_1
Pak Rahman segera menghampiri istrinya untuk menenangkannya. Keduanya berjalan beriringan keluar. Keluarga itu benar-benar merasa terpukul dengan keputusan hakim.
Sementara Rosa dan rombongan, keluar dari ruangan, dengan perasaan yang sangat lega. Senyum terpancar di wajah mereka. Akhirnya lelaki yang menghancurkan hidupnya mendapatkan balasannya.
"Semoga setelah ini, perjalanan hidup mu kian mulus ya Ros." ucap umi Farhana sambil memeluk Rosa.
"Terima kasih umi. Semua ini tak luput dari doa umi Farhana." balas Rosa sambil tersenyum.
Ia bahagia berada di pelukan umi Farhana. Yang telah menganggapnya seperti anak sendiri.
"Sepertinya kita harus merayakan kemenangan kita." usul Abrisam. Semua pun mengangguk setuju.
"Kita makan siang bersama di restoran dekat sini saja gimana?" imbuh Abigail. Semua pun kembali mengangguk setuju.
Akhirnya mereka berjalan keluar dari kantor pengadilan bersama-sama.
Di tengah kebahagiaan yang mereka rasakan, kedua orang tua Rico tengah memandang dengan sinis, dan benci yang kian membara. Apalagi melihat senyum Rosa, membuat keduanya semakin muak.
Tak berselang lama, setelah kedua orang tua Rico keluar, pengacaranya pun juga keluar. Karena harus merapikan berkas-berkasnya terlebih dahulu. Melihat kliennya berdiri tak jauh darinya, bergegas ia menghampiri.
Kedua orang tua Rico pun menoleh ke asal suara. Pengacaranya mengulas senyum tipis, sebelum melanjutkan bicaranya.
"Semoga bapak ibu sekeluarga diberi ketabahan dalam menerima cobaan ini. Yakinlah, di balik semua ini ada hikmah yang bisa di ambil."
"Kembalikan uang saya." balas bu Rita pada pengacaranya, sehingga membuatnya tersentak kaget.
"Maaf ibu, uang yang sudah dibayarkan tidak bisa di minta lagi."
"Percuma saya mengeluarkan banyak uang, tapi anak saya tetap di penjara." gerutu Bu Rita dengan nada yang tinggi.
"Saya hanyalah manusia biasa. Semua tergantung dengan yang di atas. Hakim menganggap mas Rico layak mendapatkan hukuman, karena banyaknya perbuatan buruk yang ia lakukan. Harusnya kita sebagai orang tua tidak terlalu membela anak ketika salah. Karena, itu sama saja dengan kita mendukung perbuatan buruknya."
__ADS_1
"Jangan sok menasehati kami. Kami sudah kenyang dengan kata-kata manis." balas Bu Rita dengan amarah yang belum juga padam.
Baginya kata-kata nasehat yang ia dengar, seolah-olah seperti sebuah ejekan.
Pak Rahman semakin pusing, oleh ulah anak dan istrinya. Ia pun mengibas-ngibaskan tangannya memberi instruksi agar pengacaranya pergi. Pengacaranya yang paham, membungkuk memberi hormat, lalu pergi.
"Ayo Bu, kita pulang saja." ucap pak Rahman yang mulai capek. Karena sejak peristiwa penangkapan Rico, ia memang tak bisa memejamkan matanya sama sekali.
Meskipun berat, Bu Rita mengikuti suaminya yang sudah berjalan lebih dulu. Sepanjang perjalanan, Bu Rita selalu saja mengeluarkan kata-kata kasar dan penuh umpatan.
Hal itu berbanding terbalik dengan rombongan Rosa. Kini, mereka tengah berkumpul mengelilingi meja yang di penuhi oleh bermacam-macam jenis makanan.
Lidya duduk di apit oleh kedua orang tuanya. Rosa di apit oleh ibunya dan umi Farhana. Si kembar duduk di apit oleh kedua orang tuanya. Lalu, di samping Abi Husein, duduk kedua pengacaranya.
Abrisam mempersilahkan mereka untuk segera menikmati hidangan yang sudah tersaji. Walaupun awalnya mereka tampak sungkan, tapi akhirnya mereka mau mengambil dan mencicipi hidangan itu.
Sambil mengunyah, mereka saling memperkenalkan diri. Karena saat di kantor persidangan, tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkenalan.
Itu adalah pertama kalinya kedua orang tua si kembar bertemu dan berkenalan dengan orang tua Lidya.
Dalam hati, kedua orang tua Lidya memuji umi Farhana yang anggun dalam balutan gamis lebar dan mengenakan cadar. Meskipun begitu, terlihat ia tidak kesulitan untuk makan. Sejak tadi ia terus memperhatikan, sikapnya yang terlihat begitu lemah lembut.
'Ini wanita, terbuat dari apa sih? Aku perhatikan sejak tadi, sikapnya begitu lembut sekali. Hem, coba kalau Lidya kelak memiliki mertua seperti ibunya nak Abi, pasti tiap hari diajari caranya bersikap lemah lembut. Eh, tapi nak Abi itu juga orangnya lemah lembut. Sifatnya persis dengan ibunya. Beruntung sekali Lidya memiliki teman seperti nak Abi.' batin Bu Cici.
Sambil mengunyah, ia melempar senyum, ketika pandangannya bersirobok dengan umi Farhana.
Sedangkan umi Farhana dulu hanya pernah bertegur sapa dengan ibunya Rosa melalui handphone. Dan sekarang akhirnya bisa bertemu di dunia nyata. Ia pun juga melempar senyum ke arah ibunya Rosa, saat pandangannya bersirobok.
Kedua pengacara itu juga bersyukur, memiliki klien yang sangat baik dan kooperatif. Sehingga akhirnya bisa memenangkan sidang pada hari itu.
Zaidan yang sejak tadi berada dalam gendongan Abi Husein, tiba-tiba meronta menangis. Mungkin bayi itu tahu, kalau sudah waktunya makan siang. Semuanya sudah makan, tinggal ia yang belum.
__ADS_1
Abrisam melihat ke arah Rosa yang memang makanannya belum habis. Ia pun meraih Zaidan dan menggendongnya untuk memberi waktu Rosa menghabiskan makanannya. Sengaja ia menjauh dari kerumunan.
Rosa yang tak tega, bergegas menyusul mereka.