
Di sekolah.
Karena memikirkan soal lamaran, Lidya menjadi kurang konsen dalam menerima pelajaran. Akibatnya, beberapa kali ia tegur oleh guru pembimbing. Tentu saja hal itu mengundang sorak-sorai teman sekelasnya.
Saat jam istirahat tiba, ia juga hanya duduk di kursinya, tanpa berniat keluar kelas sama sekali. Berulang kali ia menanyakan pada diri sendiri, apakah perasaan nyamannya selama ini hanya sekedar rasa nyaman seorang adik pada kakak, atau justru lebih dari itu.
'Witing tresno jalaran soko kulino. Cinta itu asalnya karena terbiasa. Mungkin selama ini aku terlalu lama nyaman berada di samping kak Abi, hingga tak sadar telah jatuh cinta dengannya.'
Selepas sholat isya', Lidya berganti pakaian dengan yang lebih formal. Namun ternyata, ia tak mempunyai baju kebaya. Akhirnya, ia memilih memakai gamis warna moccha yang dipadukan dengan jilbab warna marun. Terlihat ia semakin cantik.
Tak berselang lama, terdengar suara deru mobil. Lidya beranjak dari duduknya dan mengintip dari balik tirai jendela. Terlihat mereka membawa beberapa barang seserahan.
"Mereka sudah datang." desisnya. Setelah itu, ia kembali duduk di depan cermin. Jantungnya berdetak kencang.
Apalagi ketika terdengar suara knop pintu yang di putar. Jantungnya semakin berdebar. Ia bisa menebak jika yang sedang membuka pintunya adalah mamanya.
"Lidya, mereka sudah datang. Ayo temui mereka." Bu Cici menepuk pelan bahu anaknya. Tapi Lidya hanya menganggukkan kepalanya.
Untuk yang kesekian kalinya, ia merapikan dandanannya, yang di rasa masih kurang rapi. Padahal ia sudah terlihat sempurna.
Dengan di gandeng mamanya, Lidya menuruni anak tangga. Setelah sampai di ruang tamu, ia menyalami semua tamunya, lalu duduk di samping papanya, di ikuti oleh mamanya.
Sesaat Abigail melihat ke arahnya. Ia semakin memuji kecantikan Lidya dalam balutan gamis dan jilbab yang cocok dengan kulit putihnya.
Lidya memang belum seperti Rosa yang selalu mengenakan gamis dan jilbab kemanapun ia pergi. Hanya saat acara tertentu ia mengenakannya.
Namun mengingat kata-kata Abigail yang mengajarkannya untuk menutup aurat, dalam hatinya mulai berniat untuk selalu mengenakan gamis dan jilbab kemana pun ia pergi.
Setelah sejenak berbasa-basi, Abigail mengutarakan niatnya untuk melamar Lidya.
'Lidya, maukah kamu menerima lamaran kakak?"
Lidya menundukkan kepala sambil mengangguk.
__ADS_1
"Alhamdulillah." ucap mereka.
Sebuah kotak bludru warna merah Abigail keluarkan dari balik baju batiknya. Lalu membukanya.
"Lidya, ulurkan tanganmu." pinta Oma Sekar.
Dengan patuh Lidya mengulurkan tangannya di hadapan Abigail. Lelaki itu pun menerima uluran tangannya, lalu menyematkan sebuah cincin berlian nan indah di jari manisnya, dengan tangan yang bergetar. Sehingga membuat mereka terkikik geli.
Acara lamaran Lidya berjalan lancar. Hari pernikahan mereka juga telah di tentukan. Yakni seminggu setelah acara pernikahan Abrisam.
Dan, seminggu setelah acara di rumah Lidya, ia akan di boyong ke rumah Oma Sekar. Karena di sana akan di gelar pernikahan untuk si kembar secara bersamaan.
Oma Sekar tak mau menunda lebih lama merayakan pesta pernikahan untuk kedua cucunya. Di dorong karena rasa kecewanya dulu yang tak bisa mengadakan pesta pernikahan untuk Husein dan Farhana.
Setelah berbincang-bincang sejenak, mereka berpamitan pulang.
____
Tidak terasa waktu 2 minggu yang diberikan oleh Oma Sekar untuk mengadakan sebuah persiapan pernikahan, telah habis.
Penghulu yang menikahkan mereka juga telah datang. Dengan ditemani oleh kedua orang tuanya, Abrisam menghadap penghulu. Untuk mengucapkan ikrar ijab qobul.
"Saudara Abrisam Clancy, saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri saya, Rosana Sahara binti Sastro Wijaya dengan maskawin seperangkat alat sholat dan perhiasan senilai 200 juta rupiah di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Rosana Sahara dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan senilai 200 juta rupiah di bayar tunai." ucap Abrisam dengan lantang.
"Bagaimana saksi, sah?"
Semua terdiam, karena syok mendengar mahar yang di terima oleh Rosa.
"Bagaimana saksi, sah?" ulang penghulu.
"Eh, sah. Sah. Sah." sahut mereka.
__ADS_1
"Alhamdulillah."
Setelah mendengar kata sah, Rosa di ajak ke depan, dengan di dampingi oleh ibunya. Ia duduk di kursi samping Abrisam.
Rosa tampak cantik dan mempesona dalam balutan broklat warna putih dan kain jarik warna hitam. Sehingga membuat Abrisam terpukau.
Penghulu mempersilahkan Rosa untuk mencium punggung tangan suaminya. Dan wanita itu segera melakukan apa yang diperintahkan penghulu dengan takzim.
Setelah itu, keduanya dipersilahkan duduk di kursi mempelai. Untuk melaksanakan acara selanjutnya.
Di saat prosesi sungkeman dengan ibunya, Rosa menangis terisak. Mengingat bapaknya yang telah tiada. Ia juga masih tak percaya dengan apa yang didapatkannya. Terasa seperti sebuah keberuntungan untuknya. Abrisam bahkan sampai mengusap punggung istrinya, untuk menenangkannya.
Setelahnya, keduanya sungkem dengan abi Husein dan umi Farhana. Kini Abrisam juga ikut terisak. Karena tak di sangka bisa bersimpuh dihadapan orang tuanya untuk meminta restu.
Setelahnya, di lanjutkan acara foto bersama. Lidya yang terlihat hadir dengan kedua orang tuanya, di ajak ikut serta.
Di siang hari itu, semua tampak menikmati serangkaian acara dengan penuh binar kebahagiaan. Hingga tak terasa tiba di penghujung acara. Satu persatu tamu undangan meninggalkan tempat acara. Termasuk kedua orang tua Abrisam.
Kedua mempelai, ke kamar untuk berganti baju. Setelah mengunci pintu, Abrisam bergerak cepat memeluk Rosa dari belakang. Sehingga membuat wanita itu terkejut.
"Rosa, aku tak menyangka, akhirnya kita bisa bersatu. Aku sangat senang sekaligus bersyukur sekali." bisiknya lembut ditelinga Rosa.
"Aku juga senang mas, ternyata ada orang yang mau menerima kekurangan dan masa lalu ku yang kelam."
Abrisam memutar tubuh istrinya sehingga berhadapan dengannya. Ia menatapnya dengan intens, sedangkan yang ditatap tampak menundukkan wajahnya.
"Jangan pernah menyinggung kekurangan mu, karena aku juga memiliki kekurangan. Dan bagi ku kau tampak begitu sempurna. Tak ada cacat yang terlihat sama sekali. Dan untuk masa lalu mu, jangan pernah mengatakannya pada siapapun juga. Karena itu hanya akan membuat kita bersedih."
Rosa mendongak menatap suaminya.
"Terima kasih mas, untuk semua yang kamu berikan padaku. Semoga Allah membalas mu dengan kebaikan yang berlebih."
"Aamiin, sekarang doa tulus mu yang mas harapkan."
__ADS_1
"Dan, satu lagi, nanti malam kita siap tempur kan?" Abrisam menaikkan satu alisnya sambil tersenyum, yang membuat Rosa tersipu malu.