Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
45. Menjemput mempelai


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa, Abrisam berangkat ke kantor terlebih dahulu, agar tidak menimbulkan kecurigaan semua orang. Begitu juga dengan Abigail yang pergi ke rumah sakit. Dan setelah mengerjakan tugas tugasnya, tak berselang lama, Abigail menjemput Abrisam di kantornya.


Hal yang sama terjadi pada Abigail ketika sampai di kantor Abrisam. Semua menatapnya penuh tanya, baru saja bos mereka masuk, tidak tahu kapan keluarnya, dan sekarang sudah masuk lagi dengan mengenakan pakaian yang berbeda. Bahkan resepsionis sampai di buat melongo ketika Abigail bertanya dimana ruangan Abrisam.


'Apa pak Abrisam terkena amnesia? Kenapa tiba-tiba bertanya dimana ruangannya?' batin resepsionis itu.


"Hallo." Abigail melambaikan tangannya pada resepsionis sehingga membuatnya gelagapan.


"Eh, i_iya pak, di lantai 10 ruang khusus CEO."


"Okay, thanks." balas Abigail sambil tersenyum yang membuat resepsionis itu semakin terpesona padanya yang di sangka CEO mereka.


Abigail segera menaiki lift menuju ruangan Abrisam.


Ting...


Pintu lift terbuka, karyawan yang sudah berada di dalam lift melongo melihat Abigail yang di sangka CEO mereka masuk ke dalam lift.


'Tak biasanya pak Abrisam pakai lift karyawan.' batin seluruh karyawan yang berada dalam lift.


Tapi Abigail hanya memasang muka datar, sampai akhirnya hanya tinggal ia seorang yang berada di dalam, karena satu persatu karyawan keluar. Dan tak berselang lama pintu terbuka, bergegas ia keluar dan mencari ruangan Abrisam.


"Hei, calon pengantin, ayo segera berangkat." suara Abigail mengejutkan Abrisam yang tengah khusu' berlatih ijab qobul.


"Huft, aku sangat speechless Bi." tutur Abrisam polos yang membuat Abigail tergelak.


"Woi, ini kan cuma nikah siri, ngapain pakai acara speechless segala sih, santai saja kali." kekeh Abigail lagi.


Benar apa yang di katakan kembarannya, tapi Abrisam tetap tak mampu menyembunyikan perasaan gugupnya. Berulang kali ia membuang nafas panjang agar perasaannya jauh lebih tenang.


Sedangkan Abigail duduk santai di sofa sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang lengang, karena hanya ada mereka berdua. Kontras dengan suasana rumah sakit yang cukup bising.


"Kamu mau terus mengheningkan cipta atau kita berangkat sekarang?" ucap Abigail yang melihat kembarannya terus berkomat kamit seperti mbah dukun yang sedang mengucapkan mantra.

__ADS_1


"Iya iya, cerewet." gerutu Abrisam kesal sambil bangkit dari duduknya.


Keduanya kembali menggemparkan kantor Abrisam, dengan berjalan beriringan.


"Oh ternyata pak Sam punya kembaran, pantesan mirip sekali gantengnya."


"Iya, aku juga mau satu."


"Ah, aku ngidam pengen cium mereka. Barang kali bisa nular gantengnya ke anak ku."


"Hu.... dasar cari kesempatan. Padahal yang pengen nyium ibunya, tapi anaknya yang di jadikan alasan." dan masih banyak lagi cicitan para netizen yang mengomentari si kembar. Rasa penasaran mereka tadi, kini terjawab sudah.


Keduanya memasuki mobil Abigail, dan tak lama mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah ustadz Burhan.


Sepanjang perjalanan Abrisam kian merasa gugup. Padahal selama ini, ia tak pernah memiliki penyakit gugup ketika memimpin rapat atau melakukan presentasi.


Abigail hanya geleng-geleng kepala melihat kekhawatiran saudaranya. Ia pun lebih memilih diam. Hingga tak terasa keduanya sudah sampai di pelataran rumah 2 lantai yang cukup sederhana.


"Ayo." seru Abigail membuyarkan konsentrasi Abrisam.


'Hei, kita sudah sampai, memangnya kamu mau akad nikahnya di dalam mobil ku?" kekeh Abigail.


Abrisam pun segera mengedarkan pandangan ke arah luar, karena sedari tadi sibuk menghafal, sampai tak sadar jika sudah sampai.


Bergegas keduanya turun dan menekan bel rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka. Beruntung ustadz Burhan sendiri yang menyambut kedatangan mereka. Abrisam segera di persilahkan masuk, sementara Abigail segera melajukan mobilnya menuju kediaman Rosa.


Walaupun belum tahu pasti, ia berbekal pada alamat yang di beri kembarannya. Menempuh jalan yang berbelok belok selama 20 menit, akhirnya ia sampai di rumah kecil nan asri.


"Bener nih, rumahnya yang ini?" gumamnya menyakinkan diri. Ia pun segera melakukan panggilan video call pada Abrisam, setelah panggilan terhubung, ia mengarah kan kamera handphone ke arah rumah kecil itu. Setelah mendapat jawaban pasti, Abigail segera mematikan sambungan teleponnya, lalu segera keluar dari mobilnya.


Sementara di kamar Rosa. Ia tengah merias diri semampu yang ia bisa, serta mengenakan set gamis warna nude yang ia beli kemarin. Sengaja tak mengundang seorang mua, mengingat pernikahan nya hanyalah pernikahan siri. Namun ia tetap berusaha berpenampilan sebaik mungkin.


Tiba-tiba ibunya membuka pintu kamarnya, dan tertegun di ambang pintu, melihat Rosa yang tengah bersolek cantik.

__ADS_1


"Kamu yakin mau menikah dengan pria itu Ros?"


"In shaa Allah bu." Rosa mengangguk sambil tersenyum hangat pada bayangan ibunya yang tercipta pada cermin riasnya.


"Ibu berharap, pernikahan mu ini bisa langgeng."


"Semoga semua sesuai dengan harapan kita bu. Rosa juga tak ingin mengecewakan ibu." kata Rosa berusaha menenangkan hati ibunya. Ia sadar diri jika pernikahan nya memiliki tujuan tertentu. Bukan seperti pernikahan pada umumnya yang berdasarkan cinta dari kedua calon mempelai.


Tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya, selain keheningan yang mengharu biru. Sampai suara deru mobil yang membuat keduanya saling beradu pandang heran. Lalu tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu, bergegas bu Susi segera berjalan ke arah depan untuk melihat siapa yang datang.


"Nak, Abrisam?" seru bu Susi, Rosa yang berada di kamarnya tersentak kaget ketika mendengar ibunya menyebut nama Abrisam. Ia pun menajamkan pendengarannya.


"Bukan bu, saya Abigail. Saya kesini atas perintah Abrisam untuk menjemput Rosa. Dan ini kebaya yang sudah di persiapkan untuk Rosa dari Abrisam." ucap Abigail dengan sopan.


"Oh terima kasih nak, silahkan masuk, sebentar lagi Rosa selesai."


Abigail segera melangkahkan kaki ke dalam ruangan berukuran 2x3 meter itu, yang di sebut ibunya Rosa sebagai ruang tamu. Ia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan barang barang mewah yang terpajang.


'Benar-benar, hakikat cinta itu ngga bisa di atur. Kalau Abrisam sampai ketahuan oma, bisa ngamuk parah, rumah istrinya saja, memang benar-benar kecil.' batin Abigail.


Sementara di dalam kamar, Rosa tak menyangka jika Abrisam sudah mempersiapkan kebaya putih untuknya. Bergegas ia pun mengganti baju miliknya. Sementara bu Susi segera keluar kamar sambil menggendong Zaidan.


Setelah memastikan penampilan nya, tak berselang lama, Rosa pun keluar. Abigail dan bu Susi menatap Rosa dengan takjub, karena kecantikannya. Baju yang di pilihkan pun ukuran nya juga pas di badan Rosa.


Sementara Rosa, ia cukup terkejut ketika melihat lelaki yang ada di hadapannya sangat mirip dengan Abrisam. Tapi ia segera menyadari, jika yang ada di hadapannya saat ini adalah kembaran Abrisam, karena ia sempat mendengarkan percakapan antara ia dan ibunya.


"Kalau semua sudah siap, ayo kita berangkat." ajak Abigail, dan Rosa serta ibunya mengangguk.


Abigail mempersilahkan keluarga Rosa duduk di belakang, lalu mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Seumur hidup, baru kali ini Rosa dan ibunya menaiki mobil mewah, yang harganya tidak main main tentunya.


Ternyata memang enak menaiki mobil mewah di banding angkot. Tidak terasa getaran atau goncangan ketika melewati jalan yang berlubang, dan tahu tahu mobil sudah berhenti di rumah lantai 2 yang cukup asri. Bahkan Zaidan sejak tadi berceloteh dengan girang.

__ADS_1


"Silahkan turun, kita sudah sampai." ucap Abigail sambil menahan senyum, yang menyadarkan anak dan ibu itu dari kekaguman mereka berada di tempat baru.


__ADS_2