Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
116. Penolakan


__ADS_3

"Ini pesan dari nak Abi?" gumam Bu Cici sambil mengambil handphone Lidya.


"I_iya ma." Lidya menjawab dengan ragu.


"Kira-kira apa tanggapan mama?"


Lidya sebenarnya ragu dengan pesan yang ia terima. Bisa jadi itu yang mengirim Oma Sekar. Bukankah handphone kak kembar di sita oleh omanya?


Mungkin saja ia berniat menjebaknya, agar bisa kembali menyekapnya. Tapi bisa jadi itu ungkapan terima kasih karena Lidya telah menolongnya.


Gadis itu tak bisa menerka apa maksud pesan itu yang sebenarnya. Karena masih trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu.


"Mama khawatir kalau kamu di sekap lagi olehnya Lid. Cuma kamu satu-satunya anak mama."


Dan ternyata mamanya Lidya juga merasakan kekhwatiran seperti yang Lidya rasakan.


"Ya sudah, Lidya abaikan saja pesan itu."


"Hem, begitu lebih baik. Mama ngga mau terjadi apa-apa sama kamu."


Baru saja mamanya berhenti bicara, handphone Lidya berdering. Melihat nama Rosa yang tertera, gadis cantik itu mengangkat teleponnya.


"Wa'alaikumussalam Ros. Ada apa nih, tumbenan telepon aku? Kangen ya?" cerocos Lidya sambil terkekeh. Mamanya yang masih duduk di ranjang tempat tidurnya hanya bisa menyunggingkan senyum sambil geleng-geleng kepala.


"Aku baru saja dapat pesan dari mas Sam. Undangan makan malam di rumah oma nya. Bukankah rumah Oma itu tempat kita di sekap kemarin. Menurut mu aku harus bagaimana?" jelas Rosa.


Lidya cukup terkejut. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang mendapat pesan. Rosa pun juga mendapat pesan yang sama.


"Aku juga bingung Ros harus memberi mu saran yang bagaimana. Karena aku juga mendapat pesan seperti itu dari kak Abi. Mungkin ngga sih, kalau pesan yang kita terima itu, Oma Sekar yang menulisnya? Aku hanya takut saja, jika nanti kembali di sekap. Mama ku pasti akan mengkhawatirkan ku."


Di seberang sana, Rosa juga cukup terkejut. Karena ternyata Lidya juga mendapat pesan tang sama seperti dirinya.


"Mungkin benar apa yang kamu katakan Lid. Jadi kita abaikan saja isi pesan itu?"


"Hem, iya Ros begitu. Lagian aku tuh bukan siapa-siapa di keluarga itu. Aku pengen hidup tenang saja, sambil fokus belajar."


Setelah saling mengucapkan salam, panggilan pun berakhir.

__ADS_1


"Keputusan yang kalian ambil sudah tepat sayang. Mereka orang kaya, jangan masuk ke dalam kehidupan mereka. Takutnya jika mereka tak suka dengan kita, bisa melakukan sesuatu yang membahayakan kita."


Lidya menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan mamanya.


"Sudah sore, buruan mandi. Mama tinggal bantuin mbak jaga toko." bu Cici pun pergi meninggalkan anaknya yang masih duduk di tepi ranjang.


__


Ba'da Maghrib, seperti biasanya Lidya belajar. Terdengar suara klakson berulang kali. Ia yang penasaran, menghentikan aktivitasnya mengerjakan pe-er. Lalu mengintai dari balik tirai jendela.


"Apa itu mobil yang sengaja di kirim untuk menjemput ku? Kok aku jadi merinding kayak gini ya? Seperti ketemu hantu saja. Bodo amat ah, aku tinggal belajar lagi saja." Lidya pun kembali duduk menghadap buku-buku yang berserakan di atas meja.


Sedang berada di dalam mobil. Sopir itu menggerutu kesal. Karena ia telah membunyikan klakson berulang kali, tapi yang di jemput tidak juga terlihat batang hidungnya. Ia pun turun dari mobil.


Setelah menekan bel, tak lama kemudian pintu terbuka. Tampak bu Cici mengernyitkan dahi, karena sebelumnya memang tak pernah melihat lelaki di hadapannya yang berprofesi sebagai seorang sopir.


Dengan ramah sopir itu memperkenalkan diri, lalu mengatakan maksud kedatangannya. Namun, Bu Cici segera menolaknya, dengan alasan Lidya sibuk belajar.


Sopir itu segera kembali ke mobil. Lalu melaporkan pada majikannya. Terdengar majikannya itu mendengus kecewa, karena tidak berhasil membujuk Lidya. Akhirnya, majikannya menyuruh untuk menjemput Rosa.


Tak perlu waktu lama, sopir itu sudah berhenti di sebuah rumah yang sederhana. Ia pun membunyikan klakson.


Ternyata benar dugaannya, memang ada mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya.


'Apa itu mobil yang di kirim untuk menjemput ku? Berarti pesan itu sungguhan.'


"Siapa sih Ros yang mainin klakson?" suara ibunya mengejutkan Rosa yang bermonolog.


Karena yang ditunggu tidak kunjung kelihatan, bergegas sopir turun dan memasuki pelataran rumah.


Belum sempat Rosa menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Menambah ketegangan Rosa dan ibunya.


"Siapa sih Ros yang mengetuk pintu? Kok ngga segera dibukain?"


Rosa menempelkan ujung jarinya di depan mulut. Isyarat agar ibunya tidak mengeluarkan suara. Ia mendekati ibunya mengatakan apa yang diketahuinya sambil berbisik.


"Sebaiknya, kita temui dulu. Katakan baik-baik kalau kamu menolak. Jika memang berniat baik, pasti orang itu mau menerima alasan kamu."

__ADS_1


Rosa mempertimbangkan baik-baik saran ibunya. Akhirnya ia pun mengangguk setuju.


Setelah mengetuk pintu berulang kali, akhirnya pintu terbuka. Sopir itu bernafas sedikit lega.


Seperti halnya bu Cici, ibunya Rosa juga mengernyitkan dahi melihat lelaki yang berperawakan tinggi besar berdiri dihadapannya.


"Ada apa ya pak malam-malam ke rumah saya?" tanya Bu Susi.


"Permisi bu, saya kesini di suruh mas Abrisam untuk menjemput mbak Rosa. Katanya mau di ajak makan malam di rumah omanya."


"Maaf pak, saya kurang enak badan. Tidak bisa menghadiri undangan mas Abrisam. Tolong sampaikan permintaan maaf saya." dusta Rosa.


Sopir itu menghela nafas, karena merasa gagal melaksanakan tugasnya. Akhirnya ia pun pamit undur diri.


"Hem, pasti nanti dimarahi sama ndoro." gerutu sopir sepanjang perjalanan.


Tepat pukul 7, sopir itu sampai rumah majikannya. Ia mengetuk pintu kamarnya, untuk melaporkan tugasnya. Tentu saja dengan degup jantung yang kian kencang.


Hanya sekali ketukan, terdengar suara majikannya yang menyuruhnya masuk. Ia memutar knop pintu pelan, lalu berjalan mendekati majikannya.


"Maaf ndoro, mbak Lidya tidak diijinkan orang tuanya. Sedangkan mbak Rosa mengeluh kurang enak badan. Mereka juga menyampaikan ucapan permintaan." ucap sopir dengan wajah menunduk.


"Hem, pergilah."


'Hah. Apa aku tidak salah dengar? Biasanya diceramahi dulu, baru diijinkan keluar. Kenapa tumben sekali langsung disuruh keluar.' batin sang sopir tak percaya.


"Heh, kamu mau terus berdiri di situ sampai kapan?" sentak Oma Sekar mengagetkan sopirnya.


"Eh, i_iya ndoro, maaf. Kalau begitu saya permisi dulu." ucap sopir dengan gelagapan. Segera ia meninggalkan kamar majikannya.


'Sepertinya keduanya takut jika aku menyekapnya lagi. Lalu bagaimana caranya agar bisa memberi kejutan untuk kedua cucuku?' Sekar berpikir keras, hingga terdengar suara ketukan pintu yang mengejutkannya.


"Masuk."


Terlihat Husein yang memasuki kamarnya. Ia mendekati mamanya untuk mengajak makan malam bersama.


"Siapa yang menyiapkan masakannya?"

__ADS_1


"Farhana ma."


__ADS_2