
1 Minggu sudah Abrisam menghabiskan waktunya di Riyadh. Meskipun ia masih sangat ingin berada di situ, namun kedua orang tuanya melarangnya.
Bukan karena tak suka, tapi pasti oma Sekar akan mengkhawatirkan dirinya. Selain itu, pekerjaan nya pasti juga akan menumpuk.
Kedua orang tuanya berjanji akan ke Indonesia secepatnya. Mereka pun sudah tak sabar bertemu dengan Abigail.
Jadilah malam itu setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga, untuk menghabiskan malam terakhir di sana. Karena esok hari, Abrisam dan akan pulang.
Mereka pun bercanda dan tertawa bersama, meluapkan kebahagiaan yang selama ini tertunda karena sebuah perpisahan. Hingga tanpa terasa malam kian larut.
"Sam, ajak Rosa dan Zaidan tidur, kasian kan sudah larut malam." titah umi Farhana.
Abrisam menoleh ke arah Rosa sambil mengedipkan sebelah matanya. Walaupun terlihat genit, Rosa tetap beranjak dari duduknya menuruti keinginan suami siri nya.
"Baiklah umi, Abi. Sam tinggal ke kamar tidur ya." pamit nya.
Abrisam segera berdiri sambil menggendong Zaidan.
Sesampainya di kamar, Rosa segera ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Dan setelah sekian menit berlalu, ia keluar.
Ia sedikit kaget melihat Zaidan yang sudah mulai menutup matanya perlahan dalam pelukan Abrisam.
"Giliran kamu mas yang membersihkan diri." ucap Rosa sambil naik ke ranjang tempat tidur.
Mendengar suara Rosa, Abrisam mengangguk sambil tersenyum lalu segera beranjak dari tempat tidur. Tanpa di sangka, Zaidan kembali terbangun dan mulai menangis karena Abrisam melepaskan pelukan nya.
Abrisam dan Rosa sama sama tercengang dengan tingkah bayi itu. Lalu Abrisam pun merebahkan diri dan memeluk bayi itu.
Sementara Rosa beranjak dari tempat tidur menuju ke sofa di dekat jendela. Ia menunggu Abrisam yang tengah berusaha menidurkan bayinya. Namun justru Rosa tidur duluan.
__ADS_1
Lalu tak berselang lama, di atas ranjang tempat tidur Abrisam dan Zaidan juga tidur berpelukan.
Di tengah malam, tiba-tiba Zaidan terbangun dan menangis, sehingga membuat Rosa yang masih tidur di atas sofa tersentak kaget.
Bergegas ia mendekati bayinya untuk melihat apa yang terjadi. Setelah mengecek namun tak ada apa-apa ia segera membaringkan tubuhnya untuk menyusui bayinya.
Rosa sangat was was ketika melihat di depannya ada Abrisam yang tengah tertidur pulas. Ia takut jika tiba-tiba Abrisam terbangun dan melihatnya dalam ranjang yang sama.
Namun untuk tidur di sofa tidaklah mungkin Rosa lakukan. Ia takut jika sewaktu-waktu mengantuk ketika menyusui sambil memangku, bayinya akan jatuh. Ia berusaha terjaga selama menyusui di atas ranjang. Namun siapa sangka, ia tak dapat menahan rasa kantuknya, sehingga ia langsung tertidur pulas.
Entah bagaimana tingkah polah mereka semalam, sehingga pagi ketika bangun tidur, Abrisam justru tengah memeluk Rosa. Sedangkan Zaidan berada di bawah kaki keduanya.
Abrisam yang lebih dulu mengerjapkan matanya, lalu samar samar mengedarkan pandangannya.
Ia tersentak kaget ketika melihat yang ada di sampingnya justru adalah Rosa dengan baju bagian atas yang tersingkap, sehingga buah apelnya terlihat jelas, karena semalam belum sempat mengancingkan bajunya.
Abrisam seketika menelan saliva melihat hal itu.
Entah karena kecapekan atau apa, Rosa tak mendengar suara adzan subuh sama sekali. Dan ketika ia menggeliat, sedikit merasakan sesuatu yang berat yang melingkar di perutnya. Ia pun mengerjapkan matanya lalu memindai ke sekitar.
"Astaghfirullah." pekiknya dengan mata membulat sempurna melihat tangan Abrisam melingkar di perutnya. Sehingga hal itu juga membuat Abrisam tersentak kaget.
"Ada apa?" tanya Abrisam dengan suara serak khas bangun tidur.
Rosa tidak segera menjawab namun matanya sekilas melirik tangan Abrisam yang masih melingkar di perutnya.
"Apa yang mas lakukan semalam?"
"Memangnya apa yang aku lakukan? Perasaan aku tidak melakukan apapun pada mu. Sumpah." balas Abrisam sambil menjauhkan tangannya dari perut Rosa, dan mengangkat dua jarinya.
__ADS_1
Rosa tidak segera menjawab namun kembali memindai ke sekelilingnya sambil mengingat-ingat.
Dan sekali lagi Abrisam berkata untuk meyakinkannya bahwa tidak terjadi sesuatu yang serius. Beruntung Rosa percaya padanya walaupun tak ada senyum di bibirnya.
Rosa segera mendekati Zaidan yang berada di bawah kakinya. Mengecup dan mengusap pelan kepalanya.
Abrisam semakin tersentuh dengan sikap Rosa yang dewasa sebelum waktunya. Ia pun segera berlalu menuju kamar mandi untuk berwudhu, lalu di susul oleh Rosa. Setelah siap, keduanya melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Selama seminggu memang Abrisam banyak belajar tentang ilmu agama dari Rosa. Ia sering menggoda Rosa dengan memanggilnya dengan sebutan ustadzah.
Tentu saja Rosa langsung mengerucutkan bibirnya. Baginya ia tak layak di panggil ustadzah, karena masih dalam taraf belajar.
"Mana ada ustadzah yang hamil di luar nikah?" ucap Rosa ketika pertama kali Abrisam menggoda nya.
"Jika semua orang harus menempuh suatu pendidikan yang tinggi serta harus memiliki perilaku yang baik untuk menjadi seorang ustadzah. Niscaya tidak akan ada orang yang saat ini di sebut ustadz atau ustadzah. Meskipun aku masih fakir ilmu, tapi aku tahu, kamu layak di juluki ustadzah. Karena selama aku mengenal mu, kepribadian mu sangat lah baik. Mau membimbing ku mempelajari agama yang selama ini hanya tertera di KTP ku saja. Biarkan orang lain memanggil mu dengan sebutan apa, yang jelas kamu tetaplah ustadzah bagi ku, penerang hati ku." ucap Abrisam kala itu.
Dan ketika mendengar penjelasan Abrisam itu, membuat wajah Rosa bersemu merah.
Setelah selesai sholat, keduanya bergiliran mandi, lalu membangunkan Zaidan. Si kecil itu sedikit merengek ketika bangun sebelum waktunya. Sehingga Abrisam harus menggendong dan mengajaknya bercanda lebih dulu, sebelum akhirnya di mandikan.
Setelah semua selesai, mereka segera bergabung bersama kedua orang tuanya di dapur. Mereka segera menghabiskan sarapan pagi agar tidak telat sampai bandara.
Setelah sarapan selesai, Abrisam dan Rosa kembali ke kamar untuk memastikan barang bawaan mereka tidak ada yang tertinggal. Sementara itu Zaidan berada dalam gendongan umi Farhana.
Abrisam sudah selesai dengan kopernya dan duduk di tepi ranjang memperhatikan Rosa dengan seksama.
Seminggu adalah waktu yang singkat bagi keturunan Adam untuk memastikan sebuah rasa yang hinggap di hati.
Namun semakin keras menolak, semakin dalam rasa itu. Abrisam sepertinya tak mampu menolak pesona yang di miliki oleh ibu karbitan seperti Rosa. Karena sudah menjadi seorang ibu sebelum waktunya.
__ADS_1
Setelah mengalami pergolakan batin, Abrisam memberanikan diri mendekati Rosa yang baru saja selesai mengecek barangnya.