Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
71. Curhat


__ADS_3

Malam pun tiba. Lidya duduk termenung di dekat jendela kamarnya.


Pikirannya melayang dengan kejadian hari ini yang membuatnya benci dengan Rico. Bahkan berulang kali panggilan dan pesan darinya, hanya Lidya diamkan saja.


Tak hanya itu saja, sekelebat bayangan Rosa beserta kisah masa lalunya kembali melintas di benak Lidya.


"Kenapa setiap lelaki harus meminta hal itu pada pacarnya untuk membuktikan kesetiaannya?" gumamnya.


"Alhamdulillah, untung ada kak Abi yang datang tepat waktu dan menyelamatkan ku. Jika tidak ada dia, mungkin aku akan bernasib sama seperti Rosa. Terima kasih kak Abi. Terima kasih untuk semua kebaikan yang kak Abi lakukan untuk ku. Akan ku hapus nama Rico dalam memori ingatan ku. Aku akan kembali fokus belajar. Aku ingin membuat kedua orang tua ku dan kak Abi bangga pada ku." ucapnya dengan yakin.


"Sepertinya aku butuh teman ngobrol. Sebaiknya besok pagi aku ke rumah Rosa saja. Aku kangen sekali dengannya dan juga Zaidan. Apa kabarnya keponakan ganteng ku itu?"


Setelah cukup bermonolog seorang diri menyadari setiap kesalahannya, Lidya segera membersihkan diri sebelum tidur.


Sayup-sayup adzan subuh terdengar, Lidya menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhnya. Kaki jenjangnya menjejak ke lantai, dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah berwudhu, ia pun menunaikan sholat subuh, dan dilanjutkan dengan membaca Al Qur'an.


Ia akui, setelah berpacaran dengan Rico, ia jadi mengulang kebiasaan buruknya. Tidak sholat, tidak mengaji serta malas belajar.


"Terima kasih kak Abi, sudah menyadarkan ku dari kekhilafan ini." gumam Lidya untuk yang kesekian kalinya, setelah menyelesaikan aktivitas nya itu.


Sekitar pukul 9, Lidya sudah rapi. Ia menghampiri mamanya lalu berpamitan untuk ke rumah Rosa.


"Tumben ngga main sama Rico." celetuk mamanya, yang membuat Lidya tercubit hatinya. Ia kembali teringat dengan perilaku buruk Rico kemarin.


"Em... ngga apa-apa kok ma. Sudah lama ngga ketemu Rosa dan Zaidan, sehingga membuat Lidya jadi kangen. Ya sudah, Lidya pamit dulu ya ma. Assalamu'alaikum." ucap Lidya sambil mencium punggung tangan mamanya dengan takzim.


"Wa'alaikumussalam. Hati hati ya Lid." balas mamanya sambil berteriak, karena Lidya sudah menghambur keluar menuju motornya berada.


"Assalamu'alaikum." ucap Lidya sambil mengetuk pintu rumah Rosa.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." tak berselang lama, setelah terdengar suara balasan salam, pintu terbuka.


Kedatangan Lidya yang tiba-tiba, membuat Rosa kaget. Keduanya saling berpelukan erat.


"Kamu semakin cantik saja Ros." ucap Lidya setelah keduanya saling mengurai pelukan. Ia memperhatikan Rosa dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Ah, kamu bisa saja Lid. Bukankah semua ini juga berkat dirimu. Setiap ucapan mu yang ceplas-ceplos itu membuat ku bangkit untuk berubah Lid. Kamu lupa ya?" balas Rosa sambil terkekeh, yang membuat Lidya semakin menyadari semua kesalahannya.


"Ayo masuk." tawar Rosa sambil merangkul bahu Lidya.


Setelah menyediakan minuman dan cemilan di meja, Rosa mempersilahkan Lidya untuk mencicipinya.


"Wih, berasa di negeri Arab aku Ros, cemilannya ada kurma dan kacang arab juga." celetuk Lidya sambil mencomot satu kurma, lalu memasukkan ke mulutnya.


Rosa tersenyum menyadari ucapan Lidya. Ia memang tak memberi tahu apapun pada Lidya soal ia pernah menjadi TKI dan kemarin baru saja main nikah nikahan dengan Abrisam.


Dan, pagi itu Rosa memberitahu semuanya pada Lidya. Karena ia sudah menganggap Lidya sebagai seorang sahabat dan saudara, yang takkan pernah bisa dilupakan segala kebaikannya.


Lidya di buat ternganga dengan ucapan Rosa yang panjang kali lebar sehingga menghasilkan keliling bangunan.


Rosa menggeleng sambil tersenyum.


"Pernikahan itu dilakukan semata-mata demi menjaga martabat ku saja Lid. Sebelum pernikahan itu sah di mata agama, aku ngga mau melakukan hal itu. Masa lalu ku, cukup untuk ku jadikan sebagai pelajaran."


"Pasti dia adalah seorang lelaki yang baik hati. Walaupun sudah menikah, masih mau menahan hati untuk tidak melakukan hal itu. Jauh berbeda dengan pacar ku. Walaupun hubungan kami masih sebatas pacar, tapi dia berani-beraninya meminta hal itu pada ku dengan segala bujuk rayunya......"


"Apa! Lalu kamu mengikuti kemauannya? Bukankah sudah ku bilang, untuk selalu berhati-hati dengan setiap lelaki." ucap Rosa dengan suara yang meninggi.


"Dengarkan dulu Ros, kalau ada orang yang lagi bicara. Jangan main potong saja." ucap Lidya sambil membuang nafas kasar.


"Maaf, aku sangat terbawa emosi Lid. Ayo cepat lanjutkan bicara mu." ucap Rosa sambil meringis menyadari kesalahannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, aku sangat bersyukur. Di saat iman ku mulai layu, ada yang menolong ku tepat waktu. Sehingga aku selamat dari bujuk rayu, Rico si cowok kadal."


"Alhamdulillah, aku lega mendengarnya Lid." ucap Rosa sambil menghembuskan nafas lega.


"Siapa namanya tadi Lid?" ulang Rosa, takut salah mendengar.


"Rico." ulang Lidya sekali lagi.


"Rico Relando maksud mu? Yang bersekolah di SMA Binus?" ucap Rosa memperjelas.


Lidya menoleh ke arah Rosa sambil mengangguk yakin.


"Kamu, kenapa bisa kenal dengannya juga Ros? Apa kamu juga di dekati?" tanya Lidya dengan penasaran.


"Dia ayah dari anak ku Lid." lirih Rosa, yang membuat Lidya terkejut.


"Apa! Bisa-bisanya kita menjadi korban dari cowok kadal seperti dia." pekik Lidya.


Keduanya saling terdiam sekian waktu. Tak menyangka jika hal itu bisa terjadi.


"Kamu sudah tahu bagaimana buruknya dia kan Lid? Mulai sekarang kamu putuskan saja semua akses komunikasi dengannya." saran Rosa.


"Beberapa hari ini dia selalu menghubungi ku, namun aku acuhkan saja Ros."


"Apa, kita perlu melakukan sesuatu untuk membalas rasa sakit hati kita padanya Ros? Jujur saja aku tak terima dengan perlakuannya pada kita."


"Aku bingung harus membalas dengan cara yang bagaimana. Memikirkan dia dan keluarganya hanya akan mengotori pikiran ku. Lebih baik aku memanfaatkan waktu ku untuk sesuatu yang berguna Lid."


"Kita bisa saja berhenti memikirkan dia. Tapi, apa kamu ngga kasian dengan gadis gadis lain, yang bisa saja menjadi incarannya saat ini? Kita tak boleh egois memikirkan diri sendiri. Paling tidak, kita harus memberi efek jera padanya dan keluarganya. Agar tidak melakukan hal buruk itu lagi." ucap Lidya yakin.


Rosa mencerna, lalu membenarkan ucapan Lidya. Ia menyadari jika dirinya terlalu egois. Demi menjaga harga dirinya dan agar berita itu tak tersebar lebih luas lagi, ia diam tanpa melakukan sesuatu untuk memberi efek jera pada Rico.

__ADS_1


"Baiklah, aku setuju dengan pendapat mu Lid. Lalu kira-kira apa yang akan kita lakukan untuk memberikannya sebuah pelajaran?"


"Kita jebak dia." ucap Lidya dengan penuh keyakinan.


__ADS_2