Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
23. Anita di tangkap polisi


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi, Anita segera di giring ke kantor penyidikan.


Beberapa pertanyaan di ajukan oleh polisi dan harus ia jawab dengan sejujurnya. Sambil berlinangan air mata, Anita menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Anita tidak terima ketika di tuduh mandul oleh Rosa. Sehingga hal itu di jadikan nya latar belakang untuk memberikan Rosa pelajaran.


"Ibu tahu dengan sanksi yang bisa saja ibu terima atas perbuatan ibu tersebut?" tanya polisi itu dengan lantang, dan Anita hanya bisa menggeleng lemah.


"Dalam Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP ditegaskan bahwa barang siapa dengan siapa dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun."


Seketika Anita kembali menangis histeris mendengar hukuman berat yang bisa menimpanya karena kejahilannya.


Anita segera memohon pada polisi itu untuk membebaskannya. Namun polisi itu tak menggubris permintaan Anita. Dan justru membawanya ke ruang tahanan untuk sementara waktu, sampai sidang putusan hakim di tetapkan.


Tak ada pilihan lain bagi Anita selain berjalan dengan pasrah mengikuti langkah polisi yang menyeretnya masuk ke dalam ruang tahanan.


"Anak bau kencur sialan, bisa bisanya dia menjebloskan ku ke penjara." rutuk Anita.


_____


Sementara itu, di kediaman Rosa.


Rosa yang baru saja memandikan bayi nya mendengar handphone nya berdering, bergegas dia mengangkat nya ketika mengetahui polisi yang menelponnya.


Rosa menyimak baik-baik ucapan polisi, yang ternyata tengah mengabarkan jika Anita kini tengah di amankan di kantor polisi. Seketika hal itu membuat nya bisa bernafas lega.


Rosa berharap, Anita bisa jera dan tak lagi membully orang lain. Pembullyan memang hanya sekedar ucapan, namun ucapan itu bisa menjadi sembilu bagi korban nya.


Sejak dulu Rosa selalu di hadapkan pada kasus pembullyan. Entah itu di sekolah maupun di desanya sendiri. Dan ia selalu diam tanpa melawan.


Tapi kini, ia memutuskan untuk tidak tinggal diam jika ada yang membicarakan buruk tentangnya. Cukup sudah hinaan yang ia terima selama ini. Ia akan melawan siapa pun yang menghina nya.


_____


Dan pada waktu yang bersamaan, untuk yang kesekian kalinya Rico menjemput Lidya pulang sekolah. Setiap kali itu pula, Lidya tak pernah mau di ajak untuk sekedar mampir jajan di pinggir jalan.


Meskipun begitu, Rico tetap tak pantang menyerah. Baginya, penolakan Lidya justru dijadikannya cambuk semangat untuk terus mendekati nya. Karena, hanya dia satu-satunya gadis yang sangat sulit untuk di taklukkan. Padahal, banyak di luar sana, gadis yang antri untuk mendapatkan cinta Rico yang tampan itu.

__ADS_1


Lidya segera berlari ke kamar nya, karena sebentar lagi Abigail akan datang untuk memberikan les privat pertama nya.


Lidya segera mandi, setelah itu barulah ia menyiapkan buku buku pelajaran nya. Karena kali ini guru lesnya adalah laki-laki, ia tak mau belajar di dalam kamar.


Bergegas ia menuruni anak tangga dan meletakkan buku-bukunya di teras samping rumah, yang memiliki pemandangan yang cukup indah. Karena di sana banyak terdapat bunga hias yang selalu di rawat mamanya dengan baik.


Tak berselang lama, suara deru mobil terdengar. Bergegas Lidya berlari kecil menuju pintu depan rumah, hendak melihat siapa yang datang.


Mata Abigail membulat sempurna ketika melihat Lidya yang hanya mengenakan short pant dan tang top. Lekuk tubuhnya semakin terlihat jelas.


Rambut panjangnya yang masih basah tergerai indah. Semakin cantik dan menawan gadis SMA itu. Siapa yang melihat pasti akan meneteskan air liur.


"Selamat datang kak?" ucap Lidya ramah menyapa Abigail.


"Kamu mau les privat, atau mau menggoda ku?" ceplos Abigail. Sehingga senyum Lidya perlahan memudar.


Kini Lidya pun menelisik penampilan nya saat ini. Seperti biasanya ia berpakaian seperti itu, karena pulang sekolah cuacanya sangat panas. Dan orang tuanya selama ini tak mempermasalahkannya.


"Memang ada yang salah?" gumam Lidya sambil mengernyitkan dahi.


"Pelajaran pertama adalah PPKn, tentang sopan santun. Dimanapun berada kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai sopan santun. Apa pantas menyambut tamu dengan pakaian kurang bahan?" ucap Abigail tegas.


"Mau jadi apa dia nanti kalau sudah besar? Nilainya jelek, ceroboh, angkuh, sama tamu pun ia tak sopan." gumam Abigail sembari menyenderkan punggungnya di pintu masuk.


"Nak dokter, kenapa bersandar di pintu? Mari masuk." ucap bu Cici pada Abigail, yang membuatnya sedikit terkejut.


Abigail pun menyunggingkan senyum dan mengikuti bu Cici masuk rumah.


"Silahkan tunggu sebentar ya nak, ibu panggilkan Lidya dulu." Setelah berkata seperti itu, bu Cici segera berlalu menuju kamar anaknya.


"Lidya, nak dokter sudah datang. Cepat kamu temui dia." seru mamanya dari balik pintu.


"Iya ma." teriak Lidya dengan keras. Bahkan terlalu kerasnya, sampai Abigail yang berada di lantai bawah bisa mendengar dengan jelas teriakan nya.


"Astaghfirullah, itu bocah tingkah nya sungguh di luar dugaan." gumam Abigail sembari mengusap dadanya karena terkejut.


Sementara itu di kamar, Lidya tengah membolak-balik bajunya, mencari yang pas untuk di pakai di hadapan guru les barunya.

__ADS_1


"Mungkin aku pakai ini saja." gumam Lidya setelah seluruh bajunya ia keluarkan.


Ia memegang midi dress selutut warna hitam, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Bergegas ia kembali menemui Abigail.


"Sudah kak." kata Lidya yang kini sudah berdiri di hadapan Abigail.


"Hem, lumayan." balas Abigail datar, yang membuat Lidya mendengus kesal.


Padahal ia sudah mengeluarkan seluruh stok bajunya, dan hanya itu yang di anggap cocok. Namun Abigail masih memberinya nilai lumayan.


'Oh no, ngga apa-apa lah lumayan, daripada lu manyun.' batin Lidya, sambil meringis.


"Dimana kita akan memulai belajarnya?"


"Di teras samping kak." Lidya segera berjalan mendahului Abigail menunjukkan tempat yang di maksud.


Kini keduanya duduk berhadap-hadapan. Sejenak Abigail memperhatikan Lidya yang sudah siap dengan buku-buku pelajaran nya. Entah kenapa ia mau mengorbankan waktunya untuk memberi les pada gadis ingusan yang baru ia kenal.


Ia pun segera memulai les pada sore hari itu. Baru sekali Abigail memberi les pada Lidya, tapi Lidya mampu menerima dengan baik apa yang dia ucapkan.


Lidya pun mengeluarkan sifat aslinya ketika tugasnya sulit di kerjakan. Terkadang Lidya menggerutu kesal, mengumpat, namun kadang ia tersenyum puas ketika berhasil mengerjakan tugas yang diberikan oleh Abigail. Hal yang sama yang ia rasakan ketika menerima les dari Rosa.


"Nih, tugas ku dah selesai." ucap Lidya menyodorkan bukunya pada Abigail yang membuatnya sedikit terkejut. Karena sejak tadi ia terus memperhatikan Lidya.


Abigail pun memeriksa buku Lidya. Terkadang ia mengernyitkan dahi, lalu tersenyum.


Sedangkan Lidya ia tengah meneguk jus jambu nya dan menikmati brownies buatan ibunya dengan lahap.


Abigail terkekeh ketika melihat Lidya yang tengah makan dengan lahap. Bahkan di mulutnya terdapat sisa makanan dan minuman yang menempel.


"Dek, kamu kelaparan ya?"


Seketika Lidya menghentikan kunyahannya. Lalu kembali mempercepat kunyahannya sambil meraih tisu yang ada di tengah mereka.


Bersamaan dengan itu pula, Abigail juga hendak meraih tisu untuknya. Sehingga tangan keduanya saling bersentuhan.


Seketika Lidya menarik tisu terlebih dulu dan mengelap mulutnya.

__ADS_1


"Tentu saja aku kelaparan, selalu pulang sore tiap sekolah." ucap Lidya pada akhirnya. Yang membuat Abigail terkekeh, melihat Lidya yang apa adanya.


__ADS_2