Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
40. Menikahi mu


__ADS_3

Abrisam kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia merasa asing melewati jalan yang selama ini tak pernah di laluinya. Sampai mobilnya menepi di sebuah rumah kecil yang ukurannya mungkin hanya sebesar kamarnya.


"Ini rumah atau kamar? Kenapa kecil sekali? Berapa ekor penghuninya kira-kira?" gumam Abrisam.


Setelah menghela nafas panjang, Abrisam keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke pekarangan rumah yang tidak bisa di bilang lebar itu.


Ia yang tak sabar langsung mengetuk pintu berulang kali.


Rosa yang mendengar suara ketukan pintu yang tak biasa, terpaksa menghentikan aktivitas menyusui Zaidan dan segera melihat siapa yang datang.


Ceklek


Suara pintu di buka.


Abrisam langsung membulatkan matanya dengan mulut yang terbuka lebar. Ia benar-benar syok dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.


Sementara Rosa juga diam mematung melihat seorang lelaki yang akhirnya diam tak berkutik setelah di bukakan pintu.


"Apa kamu sengaja mau menggoda ku?" ucap Abrisam kemudian, setelah ia menelan saliva berulang kali.


"Apa maksud kamu? Kamu mengetuk pintu seperti rentenir menagih hutang saja. Memang nya kita pernah kenal, sampai aku berani menggoda mu?" balas Rosa dengan jutek. Ia merasa tak kenal dengan lelaki itu tapi ia sudah berani menuduhnya yang tidak tidak.


"I_itu apa?" Abrisam menunjuk ke arah dada Rosa. Terus terang saja, melihat hal itu membuat jantungnya berpacu dengan cepat.


Selama ini banyak gadis-gadis cantik nan seksi yang selalu mengejar nya, namun Abrisam tak pernah menghiraukan mereka.


Tapi melihat Rosa dengan pakaian yang terbuka mampu menggetarkan hati dan jiwanya sebagai seorang lelaki.


Rosa pun segera mengikuti arah pandang lelaki itu. Sungguh ia begitu terkejut dengan penampilannya saat ini.


Karena terburu-buru membukakan pintu, ia sampai lupa mengancingkan bajunya. Sehingga buah dadanya terlihat jelas, bahkan ia juga lupa tidak memakai jilbabnya. Rosa langsung menutup dada dengan kedua tangannya dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Ya ampun, kenapa besar sekali?" gumam Abrisam yang masih mematung di depan pintu, karena belum di ijinkan duduk.


Setelah menunggu lama, akhirnya Rosa keluar dengan mengenakan stelan gamis. Lagi-lagi Abrisam memandang nya dengan tatapan yang berbeda sambil mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Silahkan duduk." ucap Rosa pada Abrisam.


Sengaja ia mengajak duduk di teras, karena ibunya sedang tak ada di rumah. Ia tak ingin tetangganya memfitnah dirinya yang tidak-tidak.


"Jadi kamu lebih suka berdiri dari pada duduk?" ulang Rosa yang menyadarkan Abrisam dari lamunannya.


"Apa rumah mu terlalu sempit, sehingga aku tidak di ijinkan masuk?" ucap Abrisam polos.


"Terus saja kamu menghina dan menuduh ku yang tidak-tidak. Asal kamu tahu, ibu ku ngga ada di rumah, ngga mungkin aku memasukkan tamu pria ke dalam rumah. Aku ngga mau sampai timbul fitnah." ucap Rosa dengan ketus.


Banyak nya hinaan yang di terima Rosa selama ini, membuatnya semakin berani pada setiap orang.


Abrisam yang mendengar jawaban lugas dan tegas dari mulut Rosa seketika tertunduk malu.


Selama ini ia tak tahu tentang ilmu agama yang di anutnya, karena oma dan opanya tak pernah mengajari demikian. Akhirnya ia duduk di kursi samping Rosa.


"Sekarang katakan tujuan kamu datang kemari." ucap Rosa tak mau bertele-tele.


"Em, apa ini milik mu?" ucap Abrisam sambil menyodorkan dompet berwarna coklat muda. Rosa yang sangat hafal dengan dompetnya, langsung mengambil dompet itu dari tangan Abrisam dan membuka serta mengecek isinya.


"Aku tak mengambil satu pun isinya."


"Iya sama-sama. Aku minta maaf sudah membuat mu tak nyaman soal tadi." akhirnya Abrisam mengucapkan permintaan maafnya, yang selama ini jarang ia lakukan.


Saat berkata seperti itu, Abrisam terus memandang Rosa sambil mengingat-ingat.


"Bukankah kamu wanita yang tidur di pangkuan ku saat di pesawat itu?" tebaknya. Yang membuat Rosa mengernyitkan dahi sambil memikirkan perkataan lelaki yang ada di hadapannya saat ini.


"Jadi kamu lelaki yang memeluk ku dengan erat sampai aku ngga bisa bernafas?" ucap Rosa dengan nada yang tinggi dan membuat Abrisam meringis.


'Kenapa 2 kali bertemu dengannya selalu membuat hati ku bergetar?' batin Abrisam.


"Em, aku rasa, kita sama-sama punya salah, jadi sebaiknya saling memaafkan." ucap Abrisam kemudian. Daripada terus menerus saling menuduh. Dan Rosa pun mengangguk setuju.


Abrisam mulai bertanya soal foto yang ada di dompet Rosa. Karena hal itulah yang membuatnya nekad datang ke desa asing yang tak pernah ia lewati.

__ADS_1


Rosa pun mulai menceritakan tentang foto bayi kembar yang ada di dompetnya. Sehingga membuat jantung Abrisam kembali berdetak kencang.


"Antar kan aku kesana." ucap Abrisam setelah mendengar penjelasan Rosa, yang terdengar seperti sebuah perintah. Tentu saja hal itu membuat terkejut Rosa.


"Memangnya jarak sini ke sana bagaikan jarak rumah ku ke rumah tetangga yang bisa di tempuh dengan berjalan kaki." Rosa geleng-geleng kepala menghadapi lelaki aneh yang ada di hadapannya saat ini.


"Tenang, semua akomodasi aku yang urus. Kita tinggal berangkat." Abrisam berusaha meyakinkan Rosa. Ia tahu pasti gadis yang ada di hadapannya saat ini tengah memikirkan biaya untuk kesana.


"Ngga mau. Aku bukan perempuan bodoh yang dengan mudahnya di ajak kesana-kemari oleh orang tak di kenal, terlebih ia adalah seorang lelaki."


Karena mereka selalu adu mulut dengan keras membuat Zaidan terbangun dari tidurnya dan menangis histeris.


Rosa segera berlari ke kamarnya berusaha untuk menenangkan Zaidan, tapi tak kunjung tenang. Sehingga, ia keluar sambil menggendong nya.


Karena masih saja menangis, Abrisam memberanikan diri mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut oleh Zaidan yang juga mengulurkan tangannya. Tak di sangka Rosa segera menghalau keduanya yang membuat Zaidan kembali menangis.


"Tenang, aku tidak akan menculik adik mu."


"Adik? Dia anak ku mas." yang membuat Abrisam terkejut.


Ia tak menyangka jika wanita yang ada di depannya saat ini sudah punya anak. Ia pun juga merasa aneh ketika Rosa memanggilnya dengan sebutan mas, karena sedari tadi keduanya hanya menyebut aku dan kamu saja.


Sekali lagi Abrisam meyakinkan Rosa sambil mengulurkan tangannya pada Zaidan, yang langsung di sambut oleh tawa dari si kecil itu.


Melihat Zaidan yang tampak tertawa lepas dan nyaman dengan seorang laki-laki, akhirnya Rosa pun mengijinkan.


Rosa sadar, jika sejak lahir, Zaidan tak pernah merasakan dalam gendongan lelaki. Sehingga melihat hal itu membuat matanya berkaca-kaca.


"Kamu takut di marahi suami mu jika kita pergi bersama?" Rosa seketika menengadahkan kepalanya, agar air matanya tak keluar ketika di todong dengan pertanyaan seperti itu.


"Aku tidak memiliki suami."


"Maksudnya? Apa suami mu sudah meninggal?" Abrisam terus mencecarnya dengan pertanyaan.


"Yah, anggap saja begitu."

__ADS_1


Abrisam terdiam sesaat, bingung dengan langkah apa yang harus dia ambil, agar wanita itu mau mengantarkannya ke Riyadh, menemui pemilik foto. Hingga suatu keputusan besar ia ambil.


"Aku akan menikahi mu sebelum berangkat kesana."


__ADS_2