Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
22. Menangkap Anita


__ADS_3

Pagi itu orang tua Lidya menjemput Rosa untuk mengantarkannya ke kantor polisi. Tapi sayangnya Lidya tidak ikut, karena harus bersekolah.


Sesampainya di kantor polisi, mereka di persilahkan masuk ke ruangan SPKT.


Rosa menjelaskan semua yang ia alami pada polisi tanpa ada rasa takut. Beban yang menumpuk di hatinya seakan terangkat ketika selesai bercerita pada polisi.


polisi pun berjanji akan menangani masalah ini secepatnya.


Kini mereka pun pulang dengan perasaan yang jauh lebih baik. Untuk yang kesekian kalinya, bu Susi mengucapkan terima kasih pada orang tua Lidya yang sudah banyak membantu.


Setelah mengantar Rosa dan ibunya pulang, pak Cokro mengantar bu Cici pulang, barulah ia berangkat ke kantor.


Sesampainya di rumah, bu Cici pun segera membantu karyawan nya melayani pembeli. Karena sejak kejadian itu, Anita sementara waktu ia suruh libur.


Sedangkan di rumah Rosa, ia tengah menyusui anaknya. Meskipun ia masih remaja, tapi ia sangat telaten, seperti seorang ibu yang sudah lama merawat bayi.


Bayi tampan itu kini ia beri nama Zaidan Ajmal. Artinya seorang bayi tampan. Ketampanan nya menurun seperti ayahnya, tapi semoga tidak dengan perilakunya.


Kelahiran bayi itu memberi warna tersendiri bagi Rosa. Ia menjadi tempat ternyaman untuk bercerita. Walaupun bayi tampan itu belum bisa bicara, tapi hanya dengan melihatnya saja, sudah sangat menenangkan hati Rosa.


"Zaidan, semoga kamu jadi anak sholih ya sayang. Mama sayang banget sama kamu. Mama yakin kamu bisa jadi seorang yang sukses. Mama akan terus mendoakan kamu. Buat papa mu kecewa dan menyesal karena telah meninggalkan mu." gumam Rosa pada Zaidan.


_____


Sementara itu di tempat lain, yakni di sekolah Rico. Pemuda itu tampak memainkan handphonenya ketika istirahat tiba.


Sejak pertemuan nya dengan Lidya, ia tak bisa untuk tidak memikirkan nya. Bayangan Lidya menari indah dalam kepalanya. Hingga hatinya berniat untuk mendapatkan Lidya bagaimana pun caranya.


Rico segera mengirim pesan pada Lidya. Namun tak kunjung di balas. Ia pun membuka aplikasi birunya untuk mencari info lebih banyak tentang Lidya.


Rico menyunggingkan senyum ketika melihat foto foto Lidya yang di upload dalam aplikasi biru itu. Ia pun menscreenshootnya.


"Belum pernah aku menemukan gadis cantik seperti diri mu Lidya. Kamu harus bisa aku dapatkan." kukuh Rico dalam hatinya.


Hingga akhirnya, jam pulang sekolah pun tiba. Rico melajukan mobilnya menuju sekolah Lidya yang tak jauh dari sekolahnya.

__ADS_1


Hatinya berdebar-debar menyaksikan semua siswa yang keluar satu persatu melewati pintu gerbang. Tatapan matanya tajam pada setiap siswa yang melintas. Berharap tak kehilangan jejak Lidya.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Yang di tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya. Lidya berjalan melewati pintu gerbang sambil memainkan handphone, hendak memesan ojek online.


"Hai, Lidya." seru Rico tiba-tiba yang membuat Lidya terkejut sambil menekan dadanya.


"Bukan kah kamu yang ...."


"Iya, seminggu yang lalu kita pernah kecelakaan. Aku Rico, masa lupa." kekeh Rico.


"Kenapa kamu ada di sini?"


"Aku kesini untuk mengantarkan mu pulang." Rico mulai beraksi mendekati cewek secantik Lidya.


Lidya mengernyitkan dahi tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh pemuda itu.


"Kamu mau mengantarkan aku pulang?" ulang Lidya dan Rico pun mengangguk.


"Dari mana kamu tahu kalau aku ngga bawa motor?"


"Itu hal yang mudah bagi ku. Ayo naik ke motor ku." ajak Rico dengan penuh semangat.


Rico serasa terbang ke angkasa kala Lidya mulai membonceng di belakangnya.


"Mau mampir beli es ngga?" tawar Rico, sengaja ia ingin berlama lama dengan Lidya. Namun Lidya menolaknya.


Ini adalah kali kedua ia di antar lelaki pulang, setelah dulu di antar kak Abi. Lidya tak ingin di ajak mampir ke segala tempat. Hal yang menimpa Rosa selalu menjadi pegangan hidupnya.


Selama perjalanan, Rico terus mengajak Lidya bercerita, namun Lidya hanya menjawab seperlunya saja, tanpa ada niatan untuk bertanya balik.


"Hem, rumah mu besar juga ya." kata Rico setelah motor berhenti di depan rumah Lidya.


"Rumah papa dan mama ku kak, bukan rumah ku." jawab Lidya dengan tegas yang membuat Rico terkekeh.


"Besok pagi aku jemput ya, kita berangkat sekolah bareng. Sekolah kita kan satu jalur."

__ADS_1


"Sepertinya tidak usah kak, papa ku yang akan mengantarkan ku."


"Okay, kalau begitu, pulang sekolah aku jemput. Aku ngga mau kamu menolak tawaran ku. Tuhan mempertemukan kita secara tidak sengaja, itu tandanya kita di suruh berteman dengan baik." ucap Rico sebelum melajukan motornya meninggalkan Lidya yang masih mematung di jalan.


"Hah, ngga salah tuh cowok? Kok maksa banget?" gumam Lidya, lalu ia segera masuk rumah.


"Ya Allah mama. Ngagetin Lidya saja." seru Lidya. Ia menekan dada berulang kali, melihat mama nya yang sudah berdiri di belakangnya.


"Siapa lagi itu?" tanya bu Cici sedikit sewot.


"Dia yang dulu pernah menabrak Lidya ma. Katanya minta maaf sekalian nganterin Lidya pulang. Kebetulan sekolah nya juga searah dengan Lidya."


"Ingat kejadian yang menimpa Rosa lho Lid, jangan asal percaya sama orang."


"Iya iya ma." Setelah berkata seperti itu, Lidya pun berjalan menaiki tangga.


Sesampainya di kamar Lidya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merogoh handphone dari dalam tas nya, yang jarang ia sentuh ketika sekolah.


Lidya membulatkan matanya ketika melihat rentetan pesan dan panggilan tak terjawab dari Rico.


"Ya ampun, ternyata sejak tadi ia menghubungi ku. Pantesan saja, dia langsung menjemput ku." gumam Lidya tanpa menjawab nya.


Sementara Rico, ia terus bersiul dengan bahagia sepanjang perjalanan pulang. Misi pertama nya mendekati Lidya, ia nyatakan berhasil. Ia akan terus berusaha sampai ia bisa mendapatkan hatinya.


_____


Dan setelah mendapatkan laporan dari Rosa, polisi bergerak cepat dengan mendatangi rumah Anita.


Tulang persendian Anita seakan remuk, ketika mendengar suara sirine mobil polisi yang berhenti tepat di pelataran rumah nya.


Tentu saja hal itu membuat keluarga Anita kaget. Polisi segera memberikan keterangan garis besar pada keluarga Anita sebelum membawa Anita ke kantor polisi.


Anita tak menyangka jika perbuatan iseng nya bisa mengantarkan nya pada meja hijau. Ia pun semakin gemetar, dan badannya seketika luruh ke lantai.


"Ayo ikut kami ke kantor polisi bu Anita. Ibu bisa jelaskan semua di kantor polisi." ucap polisi dengan tegas, namun Anita hanya menangis sesenggukan.

__ADS_1


Keluarga Anita dengan tegas menolak Anita di bawa ke kantor polisi. Namun hukum tetap hukum, polisi itu mendekati Anita dan langsung menariknya untuk berdiri. Anita memberontak dan kian menangis histeris.


Suami dan keluarganya tak bisa berbuat banyak selain hanya menangisi kepergian Anita bersama aparatur negara tersebut.


__ADS_2