
"Daripada papa sama mama terus menerus berdebat, mending kita cek cctv-nya saja." cetus Lidya yang membungkam perdebatan di antara kedua orang tuanya.
"Nah, betul itu apa kata anak ku." cetus pak Citro.
"Memang nya cuma anak mu saja." balas bu Cici sambil mengerucutkan bibirnya.
Lidya geleng-geleng kepala melihat pertikaian itu lagi.
"Sudah besar tapi kayak anak kecil saja, ngga ada yang ngalah." celetuk Lidya. Bu Cici dan pak Citro saling beradu pandang dan kembali membuang muka.
Lidya mengotak atik handphone ayahnya untuk mengecek cctv. Matanya seketika membulat dan mulut kembali menganga ketika melihat serangkaian kejadian di luar kamar mandi.
"Apa aku tidak salah lihat." gumam Lidya dengan lirih.
"Ada apa sayang?" bu Cici bertanya sambil menoleh, dan melihat ekspresi anaknya yang sulit untuk diartikan itu.
Lidya segera menyodorkan handphonenya pada ibunya. Karena masih syok dan tak mampu untuk berkata-kata.
"Anita!" seru bu Cici setelah melihat tayangan dari handphone suaminya. Ia membanting keras handphone itu.
"Mama! Kenapa banting banting handphone papa? Kalau rusak gimana?" pak Citro tersentak kaget melihat ekspresi istrinya yang tak terkendali itu.
"Ma_maafkan mama pa. Mama khilaf." ucap bu Cici sambil meringis. Ia sedikit berjongkok untuk mengambil handphone suaminya yang ia lempar sampai jatuh ke bawah kolong mobil.
"Hah, untung saja ngga pecah. Rekaman nya juga masih ada." bu Cici mengelus dadanya.
"Lihat ini yah." bu Cici menyodorkan handphone suaminya yang langsung ia terima.
Sambil berjalan, pak Citro melihat video itu. Matanya membelalak tak percaya.
"Lhoh, bukannya ini Anita ma ? Kok dia tega sama Rosa ? Apa mereka berdua ada masalah ?" tanya pak Citro yang juga tidak percaya dengan video itu, tapi itu memang adalah video asli. Ketiganya tercengang, dan sangat geram dengan perbuatan Anita.
Sementara itu di rumah sakit, Rosa mulai sadar ketika waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia mulai mengerang kesakitan.
"Ibu... ibu." ia mengigau memanggil nama ibunya.
"Ros... Rosa, ibu di sini." bu Susi bangkit dari duduknya dan mengecek suhu tubuh Rosa.
"Ibu." lirih Rosa lagi.
"Iya nduk, ibu di sini. Kamu mau minta sesuatu?"
Bu Susi yang melihat bibir Rosa yang sedikit mengering segera mengambil minum yang sudah tersedia di nakas kemudian meminumkannya pelan-pelan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi bu? Kenapa badan Rosa sakit semua? Rasanya sulit sekali untuk digerakkan."desis Rosa.
"Tenanglah, kamu akan segera sembuh. Hanya kecapekan saja."
"Bu." lirih Rosa sambil meraba perut nya yg sudah datar.
"Kamu sudah melahirkan, semuanya sehat. Besok kamu bisa lihat bayinya." ucap bu Susi dengan tersenyum sambil membelai lembut kepala anaknya.
"Sekarang kamu jangan mikir yang macam-macam. Sebaiknya segera tidur lagi, besok pagi badan mu harus sudah sehat dan bersiap untuk menyusui anak mu." imbuh bu Susi lagi.
Rosa mengangguk patuh dan kembali memejamkan matanya. Rasa pusing di kepala membuat ia tak mau memikirkan hal yang macam-macam.
Keesokan harinya di rumah bu Cici ketika mereka tengah menikmati sarapan bersama, mereka mulai membahas tentang kejadian kemarin.
"Apa yang harus mama lakukan pa? Mama ngga mau memperkerjakan seorang penjahat seperti Anita? Ibu takut di penjara." keluh bu Cici yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya tapi tak kunjung masuk ke mulutnya.
"Mama tenang saja. Sebaiknya tanyakan dulu ke Anita langsung apa yang terjadi." saran suaminya.
"Kalau tidak mau mengaku gimana yah?" celetuk Lidya.
Pak Citro menghela nafas panjang.
"Ya sudah, papa berangkat ke kantor nya agak siangan saja, sambil nunggu Anita datang. Nanti papa akan menemani mama menanyakan soal kemarin pada Anita." kata pak Citro sambil menggenggam tangan istrinya.
"Lidya bolos ya pa. Pengen dengar langsung dari mulut mbak Anita."
"Lidya!" seru kedua orangtuanya bersamaan.
"Kamu mau di marahin Rosa, kalau sampai ketahuan bolos." kat bu Cici, Lidya langsung mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, Lidya berangkat sekolah. Tapi nanti kalau ada apa-apa kasih tau Lidya ya."
"Pasti." jawab ibunya.
Setelah itu Lidya mencium tangan ayah dan ibunya bergantian sebelum berangkat sekolah. Lidya segera melajukan motornya menuju sekolah yang letaknya tak jauh dari rumah nya.
Hari itu, ia begitu terburu-buru berangkat sekolah. Karena tadi sempat bangun kesiangan. Semalaman ia tidak bisa tidur, karena terus kepikiran tentang Rosa. Di jalan ia kurang fokus, dan menyerempet pengguna jalan yang kebetulan juga melintas di daerah itu.
Bruk....
Keduanya ambruk bersamaan, dengan posisi motor Lidya berada di atas motor lelaki itu.
"Arghhh...."
__ADS_1
Lidya mengerang kesakitan, sama hal nya lelaki itu.
"Heh, cepetan bangun!" bentak lelaki itu pada Lidya, karena tertindih badan Lidya.
"Iya iya maaf." jawab Lidya sambil berusaha bangun.
Lelaki itu juga segera bangun dan membangunkan sepeda motor Lidya yang berada di atas motornya. Sedangkan Lidya sendiri membuka helmnya karena merasa sedikit pusing. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hati dan pikiran nya.
'Gila, cantik banget tuh cewek.' batin lelaki itu ketika selesai mendirikan motornya.
Niatnya hendak memarahi Lidya karena malah duduk selonjoran, tapi melihat kecantikan Lidya, akhirnya ia mengurungkan niatnya itu.
"Apa kamu terluka parah?"
Lidya mendongakkan kepalanya menatap lelaki yang ada di depan nya itu.
'Tadi maki-maki aku, kenapa sekarang berubah jadi lembut banget? Apa dia kesurupan?' batin Lidya sambil mengernyitkan dahi.
"Tangan dan kaki mu tergores, kamu tunggu di sini ya. Biar aku belikan hansaplast untuk mu." imbuh lelaki itu lagi.
"Eh, ini tidak apa-apa kok. Cuma luka gores, nanti juga sembuh sendiri. Aku hanya sedikit pusing, makanya aku duduk di sini dulu." papar Lidya.
"Oh baiklah, aku tunggu kamu sampai kembali bisa melajukan motor mu." ucap lelaki itu yang kemudian duduk di samping Lidya.
Mereka duduk bersama, dan saling berkenalan.
"Aku Rico, kamu?" tanya lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Lidya. Maaf sudah menyerempet mu."
"Oh, ngga apa-apa. Yang penting kita berdua tidak terluka parah." jawab Rico sambil tersenyum ramah.
"Gimana kondisi motor mu? Ada yang rusak ngga? Nanti aku ganti rugi."
"Sepertinya tidak ada sesuatu yang serius."
"Eh, tapi kurang tahu juga sih. Sebaiknya aku minta nomor telepon kamu dulu, kalau ada kerusakan pada motor ku. Baru aku beri tahu kamu." imbuh Rico sambil mengeluarkan handphone dari dalam tasnya.
"Oh baiklah." ucap Lidya lalu menyebutkan deretan angka nomor teleponnya.
"Aku mau berangkat sekolah dulu." ucap Lidya yang perlahan berdiri.
"Iya, aku juga mau berangkat sekolah." kata Rico yang juga beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali, aku pasti bisa mendapatkan mu. Lidya, nama yang indah dan cantik seperti orangnya." gumam Rico sambil tertawa sinis melihat Lidya yang sudah mulai melajukan motornya pelan.