Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
69. Tertangkap basah


__ADS_3

Rico dan Lidya sudah sama-sama sembuh. Rico pun kembali mengantar jemput Lidya. Tak hanya itu saja, ia juga sering mengajak pergi jalan-jalan kemana pun Lidya suka. Rico juga sangat bersemangat mengajaknya pergi. Hingga jadwal les Lidya kembali berantakan, sehingga nilainya turun. Dan orang tua Lidya belum mengetahui hal itu.


Dan di hari itu, Rico seperti biasa menjemput Lidya berangkat sekolah. Karena Rico baru mendapat jatah uang saku dari ayahnya, ia berniat mengajak Lidya pergi jalan-jalan ke daerah wisata yang ada di daerah pegunungan.


Tentu saja Lidya sangat bersemangat, karena pasti akan terasa menyenangkan melihat pemandangan yang menyegarkan mata dan hawanya yang dingin menyejukkan pikiran.


Tanpa pikir panjang, Rico langsung memutar haluan menuju puncak gunung yang di maksud. Lidya melingkarkan tangannya ke pinggang Rico dengan mesra. Sepanjang perjalanan, mereka bercanda tertawa bersama.


Di tengah asyiknya mereka bercerita, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang serius mengawasinya.


"Bukan kah itu Lidya? Kenapa dia ngga sekolah?" gumam lelaki itu sambil fokus menyetir.


Ia yang berniat hendak ke rumah sakit, terpaksa memutar kemudi mengikuti mereka. Entah kenapa hatinya justru tak tenang. Apalagi mereka sudah lama tidak belajar bersama.


"Kenapa kamu senekad itu Lidya?" gumamnya frustasi sambil memukul kemudi mobil.


Setelah menempuh hampir 1 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di puncak pegunungan.


Setelah turun dari motor, Lidya memejamkan matanya sambil menghirup dalam-dalam sejuknya udara pegunungan. Membuat lelaki yang masih berada di dalam mobil terkesima dan takjub. Namun senyum di wajah lelaki itu sirna ketika melihat Rico menggandeng erat tangan Lidya.


Keduanya berjalan beriringan dengan penuh canda tawa menuju tempat wisata. Dan hal itu membuat lelaki itu merasa jengkel sedih dan kecewa.


Namun ia tak bisa berbuat banyak, selain hanya mengikuti mereka, dan memastikan Lidya aman.


Dari jarak aman lelaki itu terus membuntuti keduanya berjalan.


"Sial, di rumah sakit aku begitu di puja. Tapi di sini aku harus bertindak hati-hati seperti maling yang takut tertangkap." desisnya pelan.


Lelaki itu terkadang bersembunyi di balik pohon ketika keduanya berhenti dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat yang banyak di tumbuhi pohon pohon yang menjulang tinggi lagi lebat.


Rico mengajak duduk Lidya di tepi aliran sungai yang cukup jernih airnya. Seperti sepasang muda-mudi yang tengah di mabuk asmara, keduanya saling menyiratkan air hingga membasahi baju dan mukanya.


Karena baju seragam yang di pakai Lidya berwarna putih, dan basah terkena air, membuat lekuk tubuh dan ********** terlihat jelas.


Lelaki itu ingin rasanya menutup tubuh Lidya dengan selimut. Namun jangan kan selimut, yang ada justru hanya dedaunan.

__ADS_1


Namun, rasa yang berbeda justru di rasakan oleh Rico. Melihat kemolekan tubuh Lidya, keinginan untuk mencicipinya mulai tumbuh di hati.


Selama ini, Rico berusaha merayu, namun Lidya selalu menolak. Dan mungkin ini adalah saat yang tepat baginya untuk merayu Lidya agar mau mengikuti keinginannya.


"Sayang, kita sudah cukup lama pacaran, apa kamu ngga mau nyoba rasanya itu?" Rico mulai memancing Lidya.


Lelaki yang sejak tadi membuntuti mereka mengernyitkan dahi mendengar ucapan Rico.


'Apa maksudnya?'


"Maksud kamu apa sayang?" Lidya mengernyitkan dahi serius menatap Rico.


"Itu tuh, kayak hubungan suami-istri." ucap Rico sambil meringis.


Lelaki yang membuntuti mereka menatap tajam ke arah Rico sambil mengepalkan tangannya. Nafasnya terasa sesak, karena tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar.


"Hubungan suami-istri?" ulang Lidya.


"Iya, sekamar berdua. Trus kita begini." bujuk Rico sambil memainkan kedua tangannya.


Lidya bergidik ngeri. Pikirannya langsung teringat akan Rosa. Ia tak ingin mengalami nasib sama seperti nya.


"Hentikan ocehan mu anak ingusan!" ucap lelaki yang mengintai tadi. Kesabarannya sudah habis, ia tak tega melihat Lidya terus di desak seperti itu. Dan sekarang ia tengah berdiri dengan tegap di belakang Lidya dan Rico.


"Kak Abi?" Lidya menoleh ke arah lelaki itu dengan mata yang membulat.


Lidya dan Rico tak menyangka jika akan bertemu dengan Abigail di tempat wisata. Abigail mendekat ke arah Lidya, lalu menutup tubuh Lidya dengan jas dokter nya.


"Kalian masih anak kecil, harusnya sekolah yang benar, biar jadi kebanggaan orang tua. Lidya, sebaiknya kamu ikut kakak pulang. Apa kamu ngga takut kedinginan, dengan baju yang basah seperti itu?"


Lidya tertunduk malu sekaligus takut dengan Abi yang berwajah seram. Tidak seperti biasanya yang lembut dan penuh canda tawa.


"Ayo Lidya, kakak antar kamu pulang." Abigail mendekati dan mengulurkan tangannya pada Lidya.


Walaupun agak takut jika akan di marahi, Lidya bangkit berdiri menerima uluran tangan Abigail.

__ADS_1


"Lidya, kamu tega meninggalkan aku sendirian? Kamu ngga cinta dengan ku?"


Abigail segera menarik tangan Lidya, sebelum ia sempat menjawab pertanyaan kekasihnya.


Di dalam mobil, Lidya terus terdiam. Ia takut jika Abigail akan menceritakan kejadian itu pada orang tuanya.


Sedangkan Abigail, ia terus menatap ke depan untuk menetralisir perasaannya. Ia sadar, mungkin suaranya yang terdengar lantang dan keras tadi membuat Lidya takut. Sampai akhirnya, keduanya menoleh dan,


"Kak."


"Lid."


Keduanya serempak hendak bertanya.


"Kak Abi duluan."


"Ngga, kamu duluan saja. Mau bicara apa?"


Lidya terdiam menimbang baik buruknya apa yang akan di katakan pada Abigail.


"Em, boleh aku minta sesuatu?"


"Asal jangan minta seperti apa yang lelaki itu minta padamu. Kakak akan berusaha penuhi."


Lidya menarik nafas dalam-dalam, karena malu.


"Bukan soal itu kak. Boleh aku minta tolong pada kakak untuk merahasiakan hal ini pada kedua orang tua ku. Aku janji akan belajar lebih rajin lagi. Dan aku mau kak Abi kembali mengajari ku lagi. Pliss banget." Lidya menangkupkan kedua tangannya sambil memejamkan mata. Abigail yang melihat nya sedikit luluh hati.


"Jika kamu melanggar janji, kamu mau di hukum apa?"


Lidya membuka mata, tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Em, terserah kak Abi saja. Aku bakal terima semua hukumannya." jawab Lidya penuh kesungguhan hati.


Cukup sekali ia berpacaran. Ia berjanji tidak akan mengulangi lagi, karena akhirnya akan seperti itu. Ia sangat merasa bersyukur dengan kehadiran Abigail yang menyadarkan nya tadi.

__ADS_1


"Baiklah, jika kamu melanggar janji, aku akan menghukum mu menikah dengan ku."


"Apa!" Lidya membulatkan matanya tak percaya. Keduanya saling beradu pandang.


__ADS_2