Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
50. Belajar sholat


__ADS_3

Mengetahui Abrisam tidak bisa sholat, membuat Rosa sedikit terkejut. Ada sesuatu yang patah terasa di hatinya. Tapi Rosa salut dengan kejujurannya.


Tak mungkin Rosa menjadi seorang imam bagi makmum laki-laki. Ia pun memutar otak agar secepatnya bisa melaksanakan sholat. Akhirnya ia memutuskan melaksanakan sholat sendiri sendiri.


Rosa terlebih dulu melaksanakan sholat, dengan sedikit mengeraskan bacaan, berharap Abrisam bisa menghafalnya.


Sedangkan Abrisam yang duduk di samping Zaidan, terus mengamati gerakan, dan berusaha menghafal setiap doa yang di lantunkan Rosa. Sambil membuka google.


Setelah Rosa sholat, kini tiba giliran Abrisam. Walaupun sedikit ragu, ia mencoba untuk melaksanakan sholat.


"Allaahu Akbar." ia mengungkapkan takbiratul ihram dengan keras dan yakin. Setelahnya, ia terdiam sekian detik karena lupa bacaan yang harus di baca. Akhirnya Rosa mentartil setiap bacaan, dan Abrisam pun mengikutinya.


"Terima kasih, sudah mengajari ku sholat." ucap Abrisam setelah selesai sholat, dan kini duduk berdekatan dengan Rosa di atas sajadah.


"Sama-sama." balas Rosa singkat.


Abrisam berjanji dalam hati, setelah ini, ia akan belajar sholat, agar bisa menjadi imam yang baik.


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. Bergegas Rosa membukanya. Ternyata umi Farhana yang mengetuk. Ia mengajak Rosa untuk makan malam bersama. Rosa pun mengangguk mengiyakan. Bergegas ia melepas mukenanya, lalu keluar bersama Abrisam dan Zaidan menuju ruang makan.


Di meja sudah tersusun berbagai hidangan. Ada nasi biryani yang lengkap dengan acar nya, serta buah-buahan dan kurma. Aroma nasi dan daging kambing menusuk hidung mereka yang membangkitkan selera makan. Keduanya segera di persilahkan duduk di kursi mengitari meja.


Acara makan malam pun di mulai. Abi Husein dan umi Farhana menawarkan Abrisam dan Rosa untuk kembali mengambil makanan, ketika makanan di piring mereka hampir habis.


Abrisam tanpa sungkan kembali mengambil nasi. Biasanya ia jarang melakukan hal itu, tapi kali ini entah kenapa ia sangat ingin memakan masakan buatan mantan majikannya Rosa itu. Umi Farhana dan abi Husein tersenyum senang, melihat tamunya yang terlihat menyukai hidangan yang mereka sajikan.


Zaidan terus berceloteh riang. Membuat mereka merasa lebih terhibur dengan kehadiran nya. Umi Farhana yang sejak dulu belum pernah merasakan menggendong bayi, akhirnya mendekati Zaidan dan menggendongnya. Hatinya terasa bagai di siram air ketika untuk pertama kalinya bisa menggendong bayi. Abi Husein yang melihat hal itu membiarkan saja, asal bisa membuat istrinya bahagia.

__ADS_1


Setelah selesai acara makan malam, Abrisam memberanikan diri mengatakan tujuan yang sebenarnya mereka datang ke rumah umi Farhana. Ia pun menghela nafas panjang sebelum mengatakan nya. Dan semua yang ada memandangnya dengan serius.


Jantung nya terus berdetak kuat ketika untaian kata-kata keluar dari mulutnya. Di akhir kalimat, ia memperlihatkan foto yang di milikinya dengan foto dari Rosa.


Umi Farhana dan abi Husein terdiam sekian menit, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sedangkan Abrisam juga semakin bergemuruh dadanya.


Rosa yang berada di sampingnya, dengan gerak refleks memegang tangan Abrisam yang terasa dingin, untuk memberinya kekuatan. Ia pun mengangguk sambil menyunggingkan senyum, mengatakan semua akan baik-baik saja. Melihat perlakuan Rosa padanya, membuatnya bisa lebih tenang.


"Siapa nama kakek dan nenek mu?" tanya Abi Husein pada Abrisam.


"Opa Tirta Brawijaya dan Oma Sekar Puspita Ningrum." ucap Abrisam sambil memperlihatkan foto oma dan opa nya di handphone.


Semakin bergetar lah hati abi Husein dan umi Farhana, ketika 2 nama itu di sebut di hadapan mereka. Air mata yang sejak tadi di tahan langsung terjun bebas. Apalagi setelah melihat foto mereka.


Umi Farhana yang tak mampu menahan perasaan nya, langsung menghambur dan mendekap erat tubuh Abrisam sambil menangis sesenggukan. Ia yakin, bahwa Abrisam adalah putra mereka yang hilang 24 tahun silam.


Abrisam masih duduk terdiam, air matanya pun juga ikut meleleh. Ia membiarkan umi Farhana memeluk dan mengusap kepalanya.


Bahkan ia juga membalas pelukan dari umi Farhana. Yang membuat umi Farhana menangis lebih keras lagi. Air mata yang selama ini coba untuk di hapus, malam ini ia tumpahkan seluruh nya karena perasaan leganya.


Abrisam semakin yakin jika pasangan suami-istri yang ada di hadapannya saat ini adalah benar-benar orang tua kandungnya. Tapi kenapa opa dan omanya tega mengatakan jika orang tuanya telah meninggalkan.


Sedangkan Rosa yang melihat semua kejadian itu, juga merasa speechless. Ia tak mampu berkata apa-apa, selain ucapan syukur. Ia merasa lega, bisa membantu orang lain. Menyatukan orang tua dan anak yang sudah terpisah selama puluhan tahun.


Setelah sekian menit dalam isak tangis penuh haru, abi Husein mulai berbicara.


"Besok kita harus mengadakan tes DNA, agar semua semakin jelas."

__ADS_1


Semua pun mengangguk setuju dengan ucapan abi Husein. Walaupun mereka menyimpan keyakinan yang besar di hati masing-masing, hanya dengan sebuah foto tadi.


Setelah menghabiskan waktu penuh haru, karena hari sudah beranjak malam, abi Husein segera menyuruh mereka untuk istirahat.


"Kamu ke kamar lah mas dengan Zaidan. Aku akan membantu umi Farhana membersihkan ini semua." ucap Rosa.


"Biar abi yang membantu umi, kalian segera lah istirahat. Karena besok masih ada yang harus kita bicarakan." ucap abi Husein, dan umi Farhana menyetujui ucapan suaminya itu.


"Sam ke kamar dulu ya abi, umi." pamit Abrisam dengan suara yang tercekat. Yang membuat umi Farhana kembali menitikkan air mata. Ia pun tersenyum sambil mengangguk. Abi Husein yang melihat hal itu, segera mengusap punggung istrinya untuk memberi kekuatan.


Akhirnya dengan langkah gontai, Abrisam berjalan memasuki kamarnya. Rosa yang berjalan di sampingnya sambil menggendong Zaidan, menggandeng tangan nya untuk memberi kekuatan.


"Kenapa kamu masih terlihat sedih? Bukan kah seharusnya senang, karena bisa bertemu dengan orang tua kandung mu mas?" ucap Rosa sambil menutup pintu.


Abrisam membalikkan tubuhnya dan menatap Rosa.


"Aku sangat bingung, kenapa oma dan opa tega membohongi ku selama ini." ucap Abrisam dengan suara bergetar.


Ia yang tak mampu membendung rasa yang bercampur aduk dalam hatinya, langsung memeluk tubuh Rosa.


Sehingga membuatnya membulatkan matanya. Jantung Rosa berdetak kencang karena pelukan Abrisam. Ia pun mengusap punggung Abrisam memberi kekuatan.


"Aku tak berniat mencari kesempatan, maafkan aku sudah memeluk mu." ucap Abrisam sembari mengurai pelukan. Rosa yang paham langsung mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu bersih bersih dulu saja mas, biar bisa tidur nyenyak. Setidaknya tujuan kita kesini berhasil."


"Iya sayang. Eh, maksudnya iya Ros."

__ADS_1


__ADS_2