Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
53. Di dalam lift


__ADS_3

"Ap_apa, yang akan kamu lakukan?" ucap Rosa dengan suara yang tercekat. Tapi Abrisam tetap tak memperdulikannya.


"Pasti pikiran mu sudah traveling kemana-mana. Padahal aku cuma mau merapikan lipstik mu yang sedikit nyopret." ucap Abrisam sambil meringis untuk mengalihkan kegugupan nya. Sebenarnya ia ingin mengecup bibir Rosa, yang menggoda, tapi pasti ia akan menghindar.


'Ya Allah, aku kira dia mau...' batin Rosa yang bisa menghirup nafas lega, tapi sekaligus juga malu dengan ucapan terakhir Abrisam. Entah kenapa ia ingin terlihat cantik di hadapan Abrisam.


"Kemarin kamu ngga pakai lipstik, kenapa sekarang pakai? Sengaja menggoda ku ya?"


"Aku bukan wanita penggoda." balas Rosa sambil memanyunkan bibirnya.


"Iya iya aku tahu, pasti kamu baru belajar jadi istri yang baik kan? Aku senang melihatnya, ternyata kamu pandai ya menyenangkan hati suami." ucap Abrisam dengan percaya dirinya, tak lupa ia mencubit gemas bibir Rosa yang manyun itu. Tapi Rosa justru mengerutkan keningnya dengan tingkah Abrisam.


"Tapi aku berdandan bukan...." ucapan Rosa tertahan karena ia malu mengakui jika dirinya memang ingin berdandan untuk lelaki di hadapannya itu. Dan keinginan itu muncul tiba-tiba saja.


"Ah sudahlah, sepertinya kamu terlalu percaya diri. Lagian kita menikah tujuannya bukan untuk ibadah, tapi hanya untuk menjaga martabat ku saja kan?" sengaja Rosa kembali mengingatkan tujuan mereka menikah, agar tidak terjebak dalam perasaan yang mungkin bisa menyakiti.


" Kalau aku berubah pikiran gimana? Aku ingin memperbaiki niat ku menikahi mu, tidak hanya menjaga martabat mu saja, tapi juga melindungi, menyayangi mu dan Zaidan sampai maut memisahkan kita."


Rosa memberanikan diri menatap mata Abrisam cukup lama, mencari kejujuran lewat tatapan matanya. Kata-katanya sangat menyentuh hati Rosa. Tapi untuk yang kedua kalinya ia tak ingin jatuh ke dalam pelukan lelaki yang salah.


"Maaf, tapi aku ngga suka lelaki yang mudah berubah pikiran." Rosa langsung melepaskan pelukan Abrisam dan mencari jilbabnya.


Sebenarnya hatinya sangat nyaman dalam pelukan Abrisam, tapi kembali lagi ia tak ingin terjebak dalam permainan yang bisa menyakitkan hatinya.


'Apa aku butuh berjuang lebih keras untuk mendapatkan mu Rosa?'


Bergegas Abrisam segera menuju kamar mandi. Ia mengguyur seluruh tubuhnya. Entah kenapa begitu banyak air yang sudah ia guyurkan tapi tak mampu untuk menghilangkan bayangan Rosa yang begitu menawan.


Bukan hanya itu saja, kepribadian yang di miliki oleh wanita yang belum memiliki KTP itu menjadi salah satu daya tarik baginya.

__ADS_1


Tapi, mengingat apa yang di katakan Rosa tadi, serta umur mereka yang terpaut cukup jauh, akankah Rosa mau menerima bunga cinta yang kini mulai tumbuh di hati Abrisam?


Setelah selesai sarapan, kini mereka bergegas menuju ke sebuah rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Abrisam duduk di dekat kemudi, sedangkan Rosa di belakang bersama umi Farhana.


Zaidan berceloteh sepanjang perjalanan, yang membuat mereka terkekeh. Sehingga membuat perjalanan tidak terasa membosankan. Dan tak lama kemudian mereka sudah memasuki halaman parkir rumah sakit.


Beruntung abi Husein memiliki banyak relasi, sehingga ia tak perlu menunggu waktu lama untuk melakukan pemeriksaan. Mereka segera menuju ke ruangan dokter Afrizal. Yang mana dokter berhidung mancung dan berwajah khas timur tengah itu sudah menunggunya. Abi Husein memperkenalkan Abrisam dan Rosa padanya.Ia menyapanya dengan senyum sumringah.


Dokter itu menyangka bahwa Rosa adalah adik Abrisam, karena Rosa masih terlihat sangat muda. Tentu saja hal itu membuat Abrisam menciut hatinya.


Rosa mendongakkan kepalanya menatap Abrisam sambil terkikik.


"Apa wajah ku memang terlihat sudah tua?" bisik Abrisam pada Rosa.


"Iya, seperti kakek kakek." gurau Rosa.


"Sam." tegur umi Farhana yang melihat anaknya tengah ribut kecil dengan istrinya. Dokter Afrizal pun terkekeh melihatnya.


Setelah mereka cukup bercengkrama, akhirnya serangkaian tes pun di mulai. Dari pengambilan sample darah dan rambut. Dokter mengatakan jika hasil akan keluar dalam kurun waktu 1x24 jam. Mereka pun cukup tegang menunggu hasilnya. Mereka berharap jika hubungan nya adalah benar-benar anak dan orang tua kandung.


Setelah pulang dari rumah sakit, untuk menghilangkan kecemasan dalam menunggu hasil tes, abi Husein sengaja mengajak mereka berkeliling mengunjungi tempat wisata di Riyadh. Mereka pun tampak antusias ketika mendapat tawaran seperti itu.


Pertama mereka menuju Kingdom Centre. Juga biasa di sebut dengan Kingdom Tower, adalah sebuah gedung pencakar langit 99 lantai tertinggi di dunia. Yang terkenal dengan puncak melengkung unik, jembatan gantung, platform pengamatan publik.


Rosa berdecak kagum sewaktu tiba di sana. Seumur hidupnya baru kali ini ia bisa melihat bangunan yang tinggi seperti itu.


"Kamu ingin berdiri di sini sampai nanti, atau ikut masuk ke dalam?" tanya Abrisam yang melihat Rosa masih mematung di halaman parkir. Padahal sejak tadi abi dan umi sudah mengajak mereka masuk.


"Aku..... takut." ucap Rosa dengan wajah pias.

__ADS_1


"Takut kenapa?" Abrisam mengerutkan keningnya heran.


"Gedung itu terlalu tinggi, aku takut jatuh." ucap Rosa dengan polosnya, sehingga membuat Abrisam terkekeh.


'Kenapa dia justru menertawakan ku?' batin Rosa dengan sebal.


Setelah sekian detik Abrisam terkekeh ia menghentikan tawanya karena melihat Rosa yang terdiam dengan wajah yang di tekuk.


"Sorry sayang, lupakan kejadian tadi ya. Ayo kita bergandengan biar kamu ngga takut."


"Kamu ngga sedang mencari kesempatan kan mas? Kenapa panggil sayang sayang segala?" ucap Rosa dengan ragu.


"Kesempatan apa? Kita kan sudah menikah, sah sah saja kan kita melakukan apa saja. Lagian cuma panggil sayang dan gandengan tangan apa salahnya? Ayo, abi dan umi sudah masuk duluan." dengan gerak cepat Abrisam menggandeng erat tangan Rosa. Mau tak mau ia pun akhirnya mengikuti.


Ting


Suara pintu lift terbuka.


"Lhoh, kita ngga naik tangga mas?" lagi-lagi Rosa bertanya dengan polosnya, sehingga Abrisam juga kembali terkekeh. Ia segera melangkahkan kaki masuk, tentunya sambil menarik tangan Rosa.


"Kalau naik tangga, belum sampai atas di pastikan kita sudah pingsan."


Rosa semakin mengerutkan keningnya karena hanya ada dia dan Abrisam di dalam lift. Sedangkan abi dan umi serta Zaidan sudah terlebih dulu menaiki lift. Ia juga mulai berkeringat dingin, campur aduk rasa di hatinya. Abrisam pun terus menggenggam tangan dan melihatnya.


'Asyik nih, kalau cuma berduaan seperti ini.' batin Abrisam sambil tersenyum nakal.


Untung Rosa tidak mendongakkan kepalanya. Jika sampai ia tahu, pasti akan semakin takut dan tegang melihat senyum nakal Abrisam.


Tangan Abrisam lainnya bergerak pelan menaikkan wajah Rosa. Kali ini ia tak mau membuang kesempatan untuk merasakan bibir ranum milik Rosa.

__ADS_1


__ADS_2