
Setelah menelpon, Umi Farhana dengan penuh semangat tengah duduk di atas ranjang tempat tidur, sambil mengemas barang barang yang akan di bawa untuk ke indo. Abi Husein yang melihatnya terlihat menyunggingkan senyum lalu mendekatinya.
"Sayang, aku sangat senang melihat mu bersemangat seperti ini." bisiknya lembut di telinga umi Farhana, sambil tangannya melingkar di pinggang rampingnya.
"Bagaimana aku tidak bersemangat, sebentar lagi aku akan bertemu dengan anak dan cucu ku sayang." umi Farhana sambil menoleh dan menatap ke arah suaminya dengan mata yang berbinar.
Abi Husein terkekeh ketika istrinya berkata soal cucu. Menurutnya istrinya itu masih terlihat muda. Apalagi setelah ia di nyatakan sembuh dari sakitnya, wajahnya terlihat semakin cantik dan mempesona. Tidak terlihat jika sudah memiliki cucu.
"Kenapa kamu justru tertawa seperti itu mas?" umi Farhana mengernyitkan keningnya.
"Kamu terlihat cantik dan awet muda sayang. Tidak terlihat jika sudah memiliki seorang cucu." dengan gemas Abi Husein mencubit kedua pipi umi Farhana yang merona merah karena tersipu malu.
"Jika sedang berdua seperti ini, aku selalu teringat dengan awal kita menikah dulu sayang." ucap Abi Husein mengingat masa lalunya yang selalu ia penuhi dengan sikap romantis pada Farhana.
"Bukankah sejak dulu sampai sekarang kita selalu berdua mas?"
"Kamu benar sayang. Dari dulu sampai sekarang kita memang selalu berdua. Tapi meskipun begitu, kamu selalu mencurahkan kasih sayang yang sama setiap harinya. Sehingga membuat ku selalu merasa nyaman berada di samping mu."
Umi Farhana menarik senyum di wajahnya karena suaminya itu selalu memujinya sehingga membuatnya melambung tinggi.
"Bukan aku yang mencurahkan kasih sayang, tapi justru kamu mas, yang selalu mencurahkan segala kasih sayang dan perhatian pada ku setiap hari. Di saat Allah menguji ku dengan penyakit ganas itu, kasih sayang yang kamu berikan tidak pernah berkurang dan justru bertambah. Padahal, bisa saja kamu meninggalkan ku, karena aku sudah tidak memiliki apa-apa, dan mungkin ajal bisa saja menjemput ku sewaktu-waktu. Terima kasih mas. Terima kasih untuk semua kebaikan yang kamu berikan pada ku." umi Farhana mengecup bibir suaminya dengan penuh cinta. Abi Husein pun membalas kecupan itu dengan lembut.
_____
Samar-samar terdengar suara adzan subuh berkumandang. Umi Farhana menggeliat sambil mengerjapkan matanya. Ia tersenyum ketika melihat Abi Husein masih melingkarkan tangan di perutnya.
"Terima kasih suami ku. Aku sangat sayang dengan mu." umi Farhana mendekat ke wajah suaminya hendak mengecup keningnya, namun justru ia langsung membuka matanya.
"Mas, kamu sudah bangun?"
"Iya, sudah sejak tadi." abi Husein menyunggingkan senyum, lalu mengajak umi Farhana mandi dan sholat subuh bersama.
Mereka kembali mengecek barang barang mereka lalu sarapan bersama, dan terakhir berangkat menuju bandara.
__ADS_1
______
Sementara itu, di belahan bumi lain, Abrisam pagi pagi setelah sarapan, bergegas ia berangkat ke kantor, untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum menjemput kedua orang tuanya. Dan Abigail pun juga sama.
"Kita berangkat dulu ya Oma." si kembar berpamitan sambil mengecup kedua pipi oma secara bersamaan.
"Wajah kalian berbinar sekali, ada apa?" oma Sekar menatap wajah kedua cucunya bergantian. Abrisam dan Abigail pun saling beradu pandang.
"Alhamdulillah, cabang perusahaan kita berkembang baik Oma. Sam sangat bersyukur sekali." ucap Abrisam memberi alasan.
"Sam, Oma ngga suka dengan awal perkataan mu."
Mendengar ucapan omanya, Abrisam langsung menutup mulutnya dan meminta maaf. Sedangkan Abigail mengernyitkan dahi, semenjak kembarannya itu pulang dari Riyadh, ia bisa berkata yang sedikit lebih agamis dan mau mengerjakan sholat.
"Abi juga bahagia Oma, mendengar Sam bisa mengurus perusahaan sampai sukses seperti ini." imbuh Abigail.
"Hem, ya sudah, kalau begitu kalian segera berangkat. Urus usaha kita dengan baik."
"Baik Oma." Mereka segera menyalami tangan oma bergantian lalu berangkat kerja.
Abrisam menganggukkan kepalanya menanggapi nasehat kembaran nya. Tak lupa, Abigail juga memujinya, karena sekarang sudah mau melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
"Kamu tahu ngga Bi, aku bisa berubah seperti ini karena siapa?"
"Sam, jika kamu berubah karena manusia, bersiaplah untuk kecewa. Karena manusia bisa saja mengecewakan kita, tak sesuai dengan harapan kita. Berubah lah karena Tuhan kita, karena Dia lah sang pemegang kendali kehidupan dan tak pernah mengecewakan para makhluknya."
Abrisam mencerna setiap kata kata yang di ucapkan kembarannya, lalu menganggukkan kepalanya.
"Thanks brow, kamu memang saudara sekaligus teman baik ku."
Mereka saling berpelukan sebentar sebelum akhirnya melajukan mobil ke tempat kerja.
Sesampainya di tempat kerja, mereka segera mengerjakan tugas masing-masing sambil sesekali kali melihat jam di pergelangan tangan dan mengecek handphone, barangkali ada pesan dari umi dan Abi.
__ADS_1
______
Sementara itu, di tempat lain, Rosa tengah membuat aneka cemilan, mulai dari cake red Velvet, sampai aneka jenis jajanan pasar, untuk menyambut kedatangan umi Farhana. Tak hanya itu saja, ia juga memasak menu ayam spicy wings untuk makan siang nanti.
Setelah semua siap, tak berselang lama handphonenya berdering kencang yang membuatnya terkejut. Bergegas ia mencari keberadaan handphone nya.
Jantungnya berdetak kencang ketika melihat nomor Abrisam yang menghubungi nya. Ia pun segera menekan tombol warna hijau lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Bersiaplah Rosa, kurang dari 15 menit aku akan segera datang untuk menjemput mu dan Zaidan."
"Iya."
Keduanya hanya berbicara singkat, dan Rosa segera menutup teleponnya, karena hendak bersiap siap mandi. Ia belum sempat mandi, karena sejak sebelum subuh sudah berada di dapur membuat segala macam hidangan.
Deru mobil terdengar memasuki pelataran rumah Rosa. Bergegas bu Susi mengintai dari balik kaca jendela, untuk melihat siapa yang datang.
Melihat si kembar yang keluar dari dalam mobil, bergegas bu Susi membukakan pintu ruang tamu dan mempersilahkan keduanya masuk.
Abrisam mengulurkan tangan pada Zaidan yang tengah menatapnya sambil tersenyum. Dengan senang hati Zaidan menyambut uluran tangan Abrisam, lalu di gendongnya si kecil itu masuk ke dalam rumah.
Setelah berbincang bincang sebentar, Bu Susi mengangkat satu persatu makanan yang sudah di buat Rosa menuju ke ruang tamu.
"Ini apa Bu." tanya Abrisam heran dengan banyaknya makanan yang di bawa oleh Bu Susi.
"Ini semua memang sengaja di buat oleh Rosa untuk menyambut kedatangan kedua orang tua kalian nak. Mungkin hanya ini yang bisa Rosa lakukan."
Si kembar saling bertukar pandang karena terkejut dan bercampur haru.
"Terima kasih bu, pasti orang tua kami sangat senang dengan pemberian Rosa ini."
Belum hilang rasa kagum di hati Abrisam karena kebaikan Rosa, ia justru kembali di buat tak berkutik ketika melihat Rosa yang baru saja selesai mandi. Ia terlihat segar dengan titik air yang masih membasahi wajahnya. Abigail yang melihat saudara nya tak bisa mengkondisikan matanya, segera menyikut pelan lengannya.
__ADS_1
"Matamu di kondisikan dong Sam." bisik Abigail yang membuat Abrisam nyengir kuda.