
"Mas, kok bau mu ngga enak? Menyingkir dong dari sini." ucap Rosa sambil menutup hidungnya.
Abrisam memeriksa ketiaknya, dan ia merasa tak ada yang salah. Karena ia baru saja mandi dan menyemprotkan parfum di tubuhnya.
"Aku? Bau ku ngga enak? Aku habis mandi lho sayang."
"Tetap saja bau mu ngga enak. Mandi lagi sana."
Abrisam mengernyitkan dahi, heran dengan sikap istrinya belakangan ini. Akhirnya ia mengalah, kembali melangkah ke kamar mandi.
___
Sedangkan di kamar samping, yakni kamar Abigail. Lidya tidak mau makan kalau tidak disuapi suaminya. Akhirnya ketika sarapan pagi, Abigail meminta asisten rumah tangga untuk mengantarkan sarapannya ke kamar.
Lidya pun makan dengan sangat lahap, bahkan sampai tambah. Abigail tersenyum melihat tingkah istri kecilnya.
"Bagus, kalau begini terus istri kakak cepet gede." Abigail tersenyum sambil mengusap pucuk kepala istrinya hingga keduanya terkekeh.
"Kakak nanti aku mau belanja."
"Boleh. Habiskan makanan mu, lalu kita ke mall."
Setelah menghabiskan makanannya, dan berpamitan pada keluarga. Keduanya berangkat menuju super market.
Di dalam super market, Lidya tampak bersemangat menyusuri setiap tempat. Namun belum juga membeli satu barang pun. Abigail yang di belakang mengikutinya hanya bisa membuang nafas.
"Kita cari cemilan di marketnya dulu yuk sayang?" ajak Abigail kemudian. Mengingat stok cemilan di kamarnya juga hampir habis. Lidya mengangguk setuju.
Lidya mengambil varian cemilan yang cukup banyak. Sehingga membuat Abigail geleng-geleng kepala.
"Oh iya, kenapa tidak beli keperluan kamu sekalian. Seperti pembalut, atau yang lainnya." celetuk Abigail.
"Masih kok kak." balas Lidya santai sambil memasukkan cemilan di kereta dorong.
"Bukan kah sudah lama itu belinya?" Abigail mengernyit heran.
"Sepertinya sudah 2 atau 3 bulan lalu kak." Lidya mengingat-ingat.
Abigail cukup terkejut dengan ucapan istrinya. Spontan ia meraba perut istrinya, tapi tangannya segera di tepis oleh Lidya.
"Kakak apa-apaan sih. Malu tau."
"Sssttt diam." Abigail menempelkan jari telunjuknya, lalu kembali meraba perut Lidya. Jantungnya berdegup kencang ketika menyadari perut istrinya yang sedikit buncit.
Setelah selesai berbelanja, Abigail membelokkan mobilnya menuju apotik.
"Siapa yang sakit kak? Kok mampir ke apotik segala?" Lidya mengernyitkan dahi.
"Ngga ada. Kakak mau beli sesuatu." Abigail segera turun lalu berjalan menuju apotik. Tak lama kemudian ia sudah kembali.
Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang. Dan ketika sudah sampai rumah, Abigail buru-buru mengajak Lidya ke kamar.
__ADS_1
"Kakak ini kayak di kejar hantu saja, jalannya cepat sekali." gerutu Lidya sambil duduk di tepi ranjang.
Namun Abigail tetap tak acuh. Ia justru mencari sesuatu di balik meja.
"Sayang, kamu pipis dulu ya. Airnya kamu tampung di gelas ini."
"Air pipisnya?" tanya Lidya sambil mengernyitkan dahi. Abigail pun mengangguk.
"Buat apa?"
"Sudah jangan cerewet. Kamu ikutin apa kata kakak."
Akhirnya dengan langkah gontai, Lidya berjalan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu terbuka, ia keluar sambil menutup hidung. Lalu menyerahkan air kencingnya pada Abigail.
Lelaki itu duduk di kursi rias sambil memasukkan benda pipih di dalam gelas yang berisi cairan air kencing. Ia menunggu reaksi benda kecil itu dengan was-was. Sampai akhirnya benda kecil itu menunjukkan 2 garis berwarna merah.
"Berhasil!" seru Abigail kegirangan. Ia mengangkat tubuh Lidya tinggi, lalu bergerak memutar.
"Kakak, lepaskan. Lidya takut jatuh." pekik Lidya sambil meronta-ronta.
Setelah sekian detik berlalu, Abigail menurunkan tubuh Lidya.
"Kakak kenapa sih? Apanya yang berhasil?" Lidya bersungut-sungut kesal menatap wajah suaminya.
"Benih kakak sudah tumbuh dalam perut mu." ucap Abigail dengan wajah yang berbinar.
"Maksudnya?" Lidya terlihat belum paham.
"Apa! Hamil?" Abigail mengangguk sambil tersenyum, lalu memeluk istrinya. Namun Lidya masih diam terpaku. Tak percaya jika di dalam perutnya tumbuh berudu.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? Kamu ngga senang ya?" tanya Abigail sambil mengurai pelukannya.
"Lidya...... Ngga tau harus bagaimana kak. Lidya takut melahirkan. Pasti rasanya sakit."
Abigail membimbing Lidya berjalan menuju tempat tidur. Ia mendudukkan istrinya dengan pelan-pelan. Lalu berjongkok di hadapannya.
Setelahnya, ia memberikan pengertian seputar kehamilan dengan penuh kesabaran. Terakhir ia mengusap lembut perut istrinya lalu mengecupnya cukup lama.
Lidya merasa lebih tenang dan nyaman setelah menerima penjelasan dari suaminya. Ia pun berjanji akan menjaga buah cintanya dengan Abigail dengan sebaik-baiknya.
Saat acara makan malam, Abigail mengajak Lidya untuk makan malam bersama dengan anggota keluarganya. Sekaligus untuk mengumumkan berita kehamilan istrinya.
Dan, terlihat binar bahagia di wajah seluruh anggota keluarganya. Terlebih Husein, Farhana dan Oma Sekar.
"Sebentar lagi cicit ku akan bertambah. Kalian harus menjaganya dengan sebaik-baiknya."
"In shaa Allah Oma." balas mereka.
"Oh iya, sebaiknya kalian segera periksa. Siapa tahu Rosa juga hamil. Bukankah kalian menikahnya bersamaan."
Abrisam dan Rosa sejenak beradu pandang. Lalu mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Memang tanda orang hamil itu seperti apa?" tanya Abrisam.
"Banyak sekali Sam. Dan terkadang perempuan itu kalau ngidam, pasti aneh-aneh." balas Husein.
Abrisam manggut-manggut, dan tak lama kemudian teringat akan Rosa yang aneh belakangan ini. Ia segera meminta asisten rumah tangga untuk membelikan test peck.
Setelah makan malam, Abrisam meminta Rosa untuk menggunakan test peck itu. Memegang benda kecil itu membuat Rosa bergetar. Ia teringat akan peristiwa menyedihkan beberapa tahun silam.
Namun, ia segera menepis bayangan itu. Karena sekarang sudah ada lelaki yang benar-benar mencintainya sepenuh hati. Bahkan ia berdoa semoga ia segera mengandung benih cintanya bersama lelaki yang dicintainya.
Sambil memejamkan matanya ia menunggu reaksi benda kecil itu. Dan tak lama kemudian, ia membuka matanya perlahan. Senyum mengembang di wajahnya ketika melihat garis dua merah.
Ia segera keluar menghampiri suaminya yang mondar-mandir menunggu dirinya. Lalu memeluknya dari belakang. Satu tangannya menyerahkan benda pipih itu. Abrisam menerima dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh.
"Ini maksudnya apa sayang? Aku ngga tahu?"
"Di dalam perutku, ada buah cinta kita." balas Rosa.
Abrisam membalikkan tubuh menghadap Rosa, dan menatapnya.
"Ka_kamu hamil sayang?"
Rosa pun mengangguk sambil tersenyum. Sehingga membuat Abrisam juga ikut tersenyum. Lalu memeluk Rosa dengan erat. Bahkan ia menghujani wajah Rosa dengan kecupan.
"Terima kasih sayang, kamu membuat ku merasa menjadi lelaki seutuhnya. Ayo kita sampaikan kabar gembira ini pada mereka. Enak saja, masa aku kalah dengan Abi."
Abrisam menggandeng Rosa keluar kamar. Ia memanggil seluruh penghuni rumah.
"Ada apa sih Sam? Teriak-teriak seperti ada maling saja." sungut Oma Sekar. Ia yang hendak tidur, terbangun gara-gara mendengar suara cempreng cucunya.
"Sam juga mau ngasih kejutan untuk Oma. Nih." Abrisam menyodorkan benda pipih itu.
Mata Oma Sekar berbinar melihat benda pipih yang ia pegang. Yang lainnya juga ikut mengerubungi benda yang di pegang Oma Sekar.
"Ternyata aku tidak kalah dengan mu. Terbukti istri ku juga hamil Bi." si kembar pun saling berpelukan.
Malam itu semua penghuni rumah berkumpul di ruang keluarga dengan penuh kegembiraan karena Lidya dan Rosa hamil bersamaan.
Tak ada lagi dendam yang mengakar di hati Oma Sekar.
❤️❤️
ASSALAMU'ALAIKUM
Cukup sampai disini author menemani perjalanan kisah cinta Rosa ya. Apabila ada salah kata itu datangnya dari author, dan apabila ada baiknya itu dari Allah.
Wahai kaum perempuan, tetap semangat ya. Meskipun kita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, tulang itu akan tetap kuat untuk menopang segala cobaan hidup, asal kita mau bersabar. Tidak ada laki-laki yang sukses tanpa wanita hebat di sampingnya.
Bagi yang berkenan, bisa mampir ya ke novel author yg berjudul JURAGAN MUDA dan KISAH CINTA ANAK JURAGAN.
WASSALAMU'ALAIKUM. 🥰🥰😘😘
__ADS_1
TERIMA KASIH, PELUK JAUH UNTUK KAKAK READERS SEMUA.