
Setelah sholat, Lidya kembali merebahkan tubuh di ranjang tempat tidur. Tak berselang lama, pintunya terbuka dan kepala ibunya menyembul ke dalam.
Bu Cici melangkah pelan mendekati Lidya, lalu segera mengecek kondisinya.
"Lhoh, kamu sudah bangun nak?" ucap Bu Cici ketika melihat Lidya sudah membuka matanya.
"Sudah ma." balas Lidya singkat.
"Kamu kenapa?"
"Lidya ngga kenapa-kenapa ma. Memangnya kenapa?"
Bu Cici menghela nafas panjang.
"Ditanya, malah tanya balik. Kamu ngga bisa membohongi mama. Katakan sejujurnya, kenapa kamu semalaman menangis."
Lidya cukup terkejut, sehingga memperbaiki posisi tidurnya. Ia tak menyangka jika mamanya tahu jika dirinya tengah menangis semalaman.
"Lidya, kamu ngga mau cerita sama mama?" ulang Bu Cici yang mengejutkan Lidya.
"Mama ngga mau kejadian buruk menimpa mu lagi. Cukup sekali saja hal itu terjadi dalam hidup mu. Jika ada masalah sekecil apapun, kamu harus cerita pada mama. Jadi, tolong sekarang ceritakan apa masalahmu." ucap Bu Cici tegas. Ia duduk di tepi ranjang.
Lidya menghirup nafas dalam-dalam. Lalu meraih handphonenya, dan memperlihatkan isi pesan dari Abigail.
Bu Cici mengernyitkan dahi, bukan malah menjawab pertanyaannya, tapi Lidya menyerahkan handphonenya padanya.
Ia pun mulai membaca deretan kalimat. Dan tak lama kemudian, wajahnya terlihat merah padam, karena murka.
"I_ini Abigail yang mengirim Lid?" tanya mamanya yang seolah masih tak percaya.
Lidya hanya mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu membenamkan wajahnya di dalam selimut.
Sekarang bu Cici tahu masalah apa yang membuat Lidya menangis semalaman, hingga matanya bengkak dan bangun kesiangan.
Ia mengusap pelan bahu anaknya sambil berpikir, kenapa Abigail tiba-tiba bisa berubah 180 derajat.
"Apa kamu pernah mengatakan suatu hal yang menyinggung perasaannya sayang?"
Lidya menggelengkan kepalanya dari balik selimut.
"Terakhir kali kita bertemu, saat penangkapan Rico. Setelah kami menjebak, lapor polisi, lalu kami makan siang bersama. Tidak hanya Lidya dan kak Abi saja. Ada Rosa dan kak Abrisam, kembarannya kak Abi. Kami selalu bercanda saat ketemu ma." tutur Lidya apa adanya.
"Emm, baiklah, mama percaya sama kamu. Mungkin Abigail baru ada masalah. Kamu jangan mudah menyimpulkan segala sesuatunya sendiri. Cari tahu apa penyebabnya."
"Maksud mama, Lidya di suruh ke rumahnya atau ke tempat kerjanya gitu? Ih ogah, kayak pacarnya saja. Memang Lidya cewek apaan?"
__ADS_1
"Hem, ya sudah kalau kamu ngga mau ikutin saran mama."
"Bukannya ngga mau ngikutin ma. Cuma Lidya sebagai wanita kayak ngga ada harga dirinya, nyari informasi soal kak Abi."
"Iya iya mama paham. Ya sudah, sekarang kamu mandi, lalu makan siang sana."
Lidya menuruti apa kata mamanya.
Hari beranjak malam, Lidya masih betah berada di kamarnya. Karena tak dapat menyembunyikan rasa khawatir, sedih dan serba campur aduk, ia menelpon sahabat satu-satunya, yaitu Rosa.
"Assalamu'alaikum Rosa." sapa Lidya ketika telepon sudah tersambung.
"Wa'alaikumussalam Lid."
"Gimana kabarnya Ros?"
"Aku ngga baik-baik saja." cetus Rosa apa adanya, yang membuat Lidya terkekeh.
"Kamu kok jahat sih. Aku sungguhan tau." balas Rosa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku juga sedang tidak baik-baik saja. Makanya aku tertawa mendengar kamu juga sedang tidak baik-baik saja."
Keduanya lalu terkekeh bersama dalam waktu yang cukup lama. Hingga keduanya merasakan mulutnya terasa capek.
"Ros, kamu serius sedang tidak baik-baik saja?" ulang Lidya lagi.
"Iya Ros. Tiba-tiba semalam kak Abi mengirim pesan, yang membuat hatiku sakit."
"Aku... juga sama seperti Lid. Mas Sam juga mengirim pesan yang membuat ku sakit hati."
Setelah percakapan singkat itu, keduanya sepakat menutup telepon, dan saling mengirim pesan dari si kembar.
Keduanya mengernyit heran, kenapa dalam waktu yang bersamaan, si kembar mengirim pesan yang membuat wanita sakit hati. Padahal sejak dulu mereka selalu baik.
_____
Seminggu sudah sejak mendapat pesan yang menyakitkan itu, perlahan Rosa dan Lidya mulai bisa move on.
Keduanya sepakat, untuk menjalani hari-harinya seperti biasa. Tanpa bayang-bayang si kembar. Lidya kembali sekolah, dan Rosa melayani onlinenya.
Seminggu pula si kembar berada dalam sangkar emas. Yang membuat keduanya semakin yakin untuk merencanakan kabur dari rumah.
Setiap jam makan bersama, kedua saling berkirim surat untuk mematangkan rencana kabur.
Dan, pada malam hari itu, ketika semua orang tengah tertidur lelap. Si kembar keluar dari kamar masing-masing, dengan melewati jendela yang menghadap balkon.
__ADS_1
Keduanya saling melempar pandang, lalu mulai merayap pelan menuju pohon mangga yang berdiri koko do samping rumah.
Berkat pohon mangga itu, keduanya bisa turun dengan selamat. Selanjutnya, keduanya berjalan mengendap-endap, dan harus menaiki pagar setinggi 3 meter agar bisa keluar.
Awalnya keduanya merasa kesulitan, namun berkat kegigihannya, keduanya berhasil menaiki pagar, dan langsung terjun bebas.
Keduanya langsung terduduk, sambil memegang dadanya. Merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Karena untuk pertama kalinya melakukan hal seperti maling.
"Ayo Sam, kita harus segera pergi dari sini, sebelum ketahuan penjaga."
Abrisam pun mengangguk, lalu keduanya segera berjalan meninggalkan rumah megah yang selama ini mereka tempati.
Cukup jauh mereka berjalan, hingga membuat keduanya kelelahan. Keringat pun menetes membasahi wajah tampan mereka.
"Bi, ayolah kita cari tempat untuk singgah dulu." ajak Abrisam sambil ngos-ngosan.
"Kita cari masjid saja, sekalian sholat subuh."
Keduanya pun tetap meneruskan perjalanan, sambil pandangannya beredar mencari masjid.
Setelah menemukan masjid, keduanya bergegas mengambil air wudhu. Yang sangat terasa menyegarkan. Lalu segera masuk masjid untuk menunaikan sholat subuh berjamaah.
Setelah para jama'ah pulang, si kembar merebahkan tubuhnya di lantai masjid. Tak lama kemudian, keduanya sudah tertidur pulas, hingga mendengkur.
Mereka menggeliat, sambil mengerjapkan matanya, ketika sinar matahari memasuki dalam masjid.
"Sudah siang sepertinya Bi."
Abigail menganggukkan kepalanya. Ia melihat arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 8. Seketika ia terduduk. Dan di susul Abrisam.
"Kita harus segera sampai di hotel." celetuk Abrisam, yang disertai anggukan kepala oleh Abigail.
Setelah mandi di kamar mandi yang ada di masjid, keduanya berjalan menuju jalan raya, untuk menyetop taksi.
Tak berselang lama, sebuah taksi lewat, keduanya segera menyetop. Selama perjalanan, keduanya terdiam sambil memikirkan rencana selanjutnya.
Tanpa terasa, mobil sudah sampai di pelataran hotel.
"Berapa pak tarifnya?" tanya Abigail.
"200rb mas."
Abigail membuka dompetnya, lalu sejenak mengamati. Sambil menghembuskan nafas, ia menarik 2 lembar uang merah, lalu menyerahkan pada sopir.
Setelahnya, mereka segera berjalan menuju lift yang mengantarkan mereka menuju lantai atas, dimana kedua orang tuanya berada.
__ADS_1
Mendengar suara bel berbunyi, Farhana bergegas membuka pintunya. Ia membulatkan matanya, tak percaya dengan yang ada dihadapannya saat ini.