
Rosa langsung mengambil handphonenya, ketika mendengar suaranya yang nyaring berbunyi.
Ia mengernyitkan dahi ketika notif pesannya menampilkan nama Abrisam, yang ia sangka notif dari pelanggan cream wajahnya.
Wanita cantik itu segera membuka isi pesannya.
'Hai Rosa. Maafkan jika nanti aku tidak bisa datang dalam persidangan mu melawan lelaki itu, karena sekarang aku sedang repot dengan pekerjaan baru. Tapi aku akan mengirim seorang pengacara untuk membantu mu memenangkan persidangan itu. Semoga berhasil ya. Salam sayang untuk kamu sekeluarga dari ku.'
Ia tersenyum mendapat pesan dari seorang laki-laki yang sekarang berstatus suaminya, meskipun siri.
"Kenapa dia selalu lupa mengucapkan salam? Hem, dasar." gumamnya, lalu segera membalas pesan itu.
'Assalamu'alaikum. Tidak apa-apa mas, cukup doa dari mu saja, aku sudah sangat senang. Apalagi mendapat bantuan seorang pengacara. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengucapkan terima kasih padamu. Semoga pekerjaan baru mu cepat selesai ya.'
Abrisam yang berada di kamarnya sedikit terobati dengan notif balasan pesan dari Rosa. Bergegas ia membuka isinya. Ia tersenyum ketika membaca isinya.
"Cukup kamu balas rasa sayang ku pada mu, aku sudah senang Rosa." gumamnya masih dengan tersenyum.
Pesan berhasil terkirim, dan tak lama kemudian sudah ceklist biru.
"Katanya baru sibuk, kok langsung ceklist biru sih." gumam Rosa, lalu meletakkan handphonenya karena hendak membungkus paket selanjutnya.
'Wa'alaikumussalam Rosa. Maaf ya, tadi lupa tidak mengucapkan salam. Terima kasih atas do'anya. Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan segala kebaikan mu hingga mempertemukan aku dengan kedua orang tua ku.'
'Iya mas, kalau begitu, kita impas ya, ngga ada yang berhutang diantara kita. Aku lanjut membungkus paket dulu. Lumayan untuk menyambung hidup. Hihihi. Assalamu'alaikum.' balas Rosa disertai emoticon tertawa.
Abrisam tersenyum gemas, membayangkan Rosa tertawa. Karena melihat emoticon tertawa yang ada di ujung kalimatnya.
Kata-kata Rosa yang terkesan apa adanya semakin membuat Abrisam jatuh cinta padanya.
"Apakah kisah cinta ku juga akan sama dengan Abi? Mengingat Rosa adalah seorang wanita miskin." gumamnya.
Baik Abrisam maupun Abigail, segera menghubungi pengacara terbaik mereka. Meskipun lewat telepon, mereka menjelaskan secara gamblang.
Di tengah-tengah kegalauan hati mereka, sayup-sayup terdengar suara adzan dhuhur. Bergegas mereka mengambil air wudhu dan mulai melaksanakan kewajibannya.
__ADS_1
Mereka memanjangkan waktu sujud, dan saat berdzikir. Keduanya terisak saat mengadukan masalahnya pada sang pemilik kehidupan.
Oma menggeliat ketika mendengar suara adzan dhuhur.
"Hemm, lagi-lagi suara itu." gumamnya.
Ia melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12. Bergegas ia ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Walaupun kepalanya sedikit berat, karena tadi banyak meluapkan emosinya, ia tetap berjalan ke dapur untuk makan siang bersama kedua cucunya.
Ia harus memastikan kesehatan kedua cucunya dengan tidak telat makan. Wanita sepuh itu menyuruh asisten rumah tangganya untuk memanggil kedua cucunya.
Setelah sekian menit berlalu, si kembar pun selesai berdo'a. Mendengar pintu yang sedang di buka, mereka segera mendorong sajadahnya ke bawah tempat tidur. Karena tak ingin ketahuan omanya.
"Mas, di suruh ndoro Oma turun untuk makan siang bersama."
Abigail dan Abrisam tersenyum lega, melihat siapa yang berdiri di ambang pintu. Karena bukan omanya yang tengah berdiri di sana, melainkan asisten rumah tangga mereka.
"Iya Bi, nanti Abi akan segera ke sana." balas Abigail.
"Ogah ah bi, Sam malas makan bareng Oma." balas Abrisam, ketika bibi berkata seperti itu.
Sejenak Abrisam mencerna ucapan asisten rumah tangganya, lalu ia pun mengangguk setuju.
"Iya_iya bi, Sam akan segera turun."
Abigail dan Abrisam keluar kamar bersamaan. Keduanya saling terdiam sampai akhirnya sudah tiba di dapur.
Keduanya langsung duduk di kursi yang telah disediakan, tanpa mengecup pipi oma seperti biasanya. Sehingga membuat wanita sepuh itu kembali memasang wajah dinginnya.
"Hanya karena 2 makhluk aneh tadi pagi, kalian sampai melupakan kebiasaan kalian ya. Hebat banget."
Si kembar pun saling beradu pandang dan menyadari kesalahannya. Lalu bangkit dari duduknya dan mengecup pipi oma.
Oma tersenyum samar, lalu menyuruh kedua cucunya untuk mengambil makanan yang disukainya.
__ADS_1
Abigail hanya mengambil sepotong chicken Cordon blue, lalu meletakkan di piringnya. Chicken Cordon blue adalah paduan filet daging ayam, slice daging asap, slice Mozarella, telur, kentang dan beberapa bumbu pendukung lainnya.
Sedangkan Abrisam mengambil macaroni schotel. Yaitu makanan perpaduan dari macaroni, susu, keju, smoked beef, telur dan bumbu pendukung lainnya.
Keduanya memasukkan makanan itu ke mulut dengan tidak berselera.
Tiba-tiba, handphone Abigail yang berada dalam saku celana bergetar. Yang membuat oma memicingkan mata ke arahnya.
"Keluarkan handphone mu." titah Oma.
Abigail pun menurut mengeluarkan handphonenya.
"Mana." ucap Oma sambil tangannya bergerak meminta handphone itu.
Dengan ragu, Abigail menyerahkan handphone itu pada omanya.
"Mana handphone mu." ucap Oma yang menoleh pada Abrisam. Sehingga membuat lelaki itu terkejut. Ia pun juga mengeluarkan handphone, dan menyerahkannya pada omanya.
"Sekarang, lanjutkan makan kalian." titah omanya.
Keduanya pun kembali menyuap makanan ke mulut.
Acara makan siang berlangsung dengan saling diam. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring.
Setelah selesai, keduanya meminta handphone pada omanya. Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Karena mulai siang itu dan seterusnya, mereka tidak diijinkan untuk menggunakan handphone. Alias di sita.
Keduanya dengan lesu berdiri dan kembali masuk kamar masing-masing. Bibi segera berlari kecil menyusul keduanya untuk mengunci pintu.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh si kembar selain terus melangitkan doa'. Agar Omanya sadar.
Sementara itu, di kamar lain, Oma tengah mengecek handphone cucunya satu persatu. Mulai dari pesan WhatsApp, galeri foto, aplikasi m-banking dan segala hal mendetail lainnya.
Hatinya bergejolak, ketika melihat foto pernikahan Abrisam dan Rosa. Lalu foto keduanya saat di Riyadh. Dan masih banyak lagi foto lainnya. Chat dan panggilan masuk dari Rosa dan kedua orang tua Abrisam, juga membuatnya murka.
Belum lagi, ketika ia melihat foto Lidya di handphone Abigail. Pesan singkatnya yang menunjukkan perhatian yang lebih dari sekedar teman.
__ADS_1
Oma Sekar segera menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan Lidya dan Rosa, lewat telepon.
"Berani-beraninya kalian bermain di belakang Oma. Firasat oma mengatakan jika kedua gadis ini bukan berasal dari golongan orang kaya. Hem, apa kalian ingin meniru papa kalian? Dan kamu Sam, kenapa menikah secara sembunyi-sembunyi? Apa takut jika ketahuan oma? Cucu-cucu yang nakal. Lihat saja, hukuman apa lagi yang akan Oma berikan untuk kalian." gumam Oma sambil tersenyum sinis.