Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
35. Melepas rindu dengan sahabat


__ADS_3

Hingga mendekati waktu Maghrib, barulah Rosa sampai rumah.


Senyum mengembang di wajahnya yang memang terlihat semakin cantik itu. Karena semua teman-teman nya memujinya cantik.


Tapi ada hal lain yang membuat hatinya jauh lebih senang, yaitu jualannya hari ini langsung laku terjual.


Setelah menyapa ibu dan anaknya, ia segera masuk kamar. Menulis hasil jualannya hari ini, tak lupa ia menyisihkan antara uang laba dan uang modal.


Semakin hari, peminat cream nya bertambah. Hingga dalam sebulan ia sudah 2 kali berbelanja.


Tidak hanya temannya saja yang membeli, tetangga julid yang selalu membicarakan nya juga tergiur untuk mencoba.


"Kasih diskon dong Ros." pinta salah satu ibu-ibu yang datang ke rumahnya.


'Hem, selain hobi menghina, mereka juga hobi minta diskon.' batin Rosa sambil terkekeh.


"Maaf bu, ngga ada diskon. Modalnya sudah sangat mepet. Nih, Rosa kasih buah buahan, kebetulan tadi Rosa beli banyak." ucap Rosa mengalihkan permintaan tetangganya. Tidak apa-apa merugi sedikit asal laku dan laris.


"Hem, boleh deh, dari pada ngga dapet apa-apa." tetangganya terkekeh.


'Dasar tetangga julid.' batin Rosa sambil geleng-geleng kepala.


Setelah menghitung uang dari tetangganya, Rosa segera membungkus cream itu, lalu menyerahkannya.


Setelah melayani tetangganya, Rosa kembali membuka media sosial nya, lalu kembali memposting jualannya.


Sambil menunggu notif pesanan, tak lupa Rosa mengajak Zaidan bermain. Karena bayi itu sedang aktif aktif nya.


Zaidan merangkak ke mana-mana lalu mengobrak-abrik barang yang ada di dekatnya. Sehingga baik Rosa atau ibunya, harus menyingkirkan benda-benda yang berbahaya.


"Hayo, Zaidan mainan apa itu?" cicit Rosa ketika melihat Zaidan memainkan remote tv, dan kini mulai membantingnya.


"Jangan di banting dong sayang, kalau rusak kan bisa di marahi nenek." ucap Rosa sambil mengambil remote itu pelan dari genggamannya. Sehingga membuat Zaidan menangis.


"Nih, mama kasih mobil mobilan." ucap Rosa sambil menyerahkan mobil yang ia belikan kemarin saat mengantar pesanan.


Beruntung Zaidan langsung berhenti menangis, dan kini justru tertawa lebar.


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


Rosa menajamkan pendengarannya ketika sayup-sayup mendengar orang yang mengucapkan salam. Bergegas ia memakai jilbabnya dan melihat siapa yang datang.


"Lidya." seru Rosa dengan mata yang berbinar ketika melihat Lidya yang datang.


"Rosa." balas Lidya. Lalu keduanya saling berpelukan.


"Ayo masuk Lid." ajak Rosa dengan senyum sumringah. Lidya pun akhirnya menjejakkan kakinya masuk ke dalam rumah Rosa.


"Aku kangen banget Ros sama kamu, makanya aku main kesini. Lama ngga ketemu, kamu semakin cantik saja Ros." ucap Lidya ketika keduanya sudah duduk di ruang tamu.


"Sama Lid, aku juga kangen sama kamu. Aku begini juga karena mu Lid." balas Rosa sambil terkekeh.


"Hai tampan." ucap Lidya ketika melihat Zaidan merangkak melewati kongliong antara ruang keluarga dan ruang tamu.


"Astaghfirullah, Zaidan." pekik Rosa yang terkejut melihat Zaidan.


Ia lupa tadi meninggalkan Zaidan begitu saja ketika mendengar suara salam. Bergegas Rosa segera menggendong Zaidan.


"Ayo ikut tante sayang." Lidya mengulurkan kedua tangannya ke arah Zaidan. Bayi kecil itu justru tertawa, sehingga membuat Lidya semakin gemas.


"Ayo ikut." ajaknya lagi, dan Zaidan pun akhirnya mau.


Zaidan terkekeh ketika terus menerus di goda Lidya. Sehingga membuat Lidya semakin gemas dengan bayi itu.


"Ros, anakmu lucu sekali. Dari tadi ketawa melulu." ucap Lidya setelah Rosa datang membawa hidangan.


Rosa tersenyum ke arah Lidya lalu mempersilahkannya untuk mencicipi hidangan dan minuman yang ia sediakan.


Setelah Lidya meneguk minumannya dan mencomot kue kering, Rosa menanyakan maksud kedatangannya.


Ternyata Lidya benar benar kangen dengan Rosa dan anaknya, sehingga ia memutuskan main kesitu mumpung hari minggu dan sekolah pun libur.


Rosa paham, Lidya nekat main ke rumahnya. Karena tidak memiliki sahabat, sama seperti dirinya.


Bedanya Lidya tidak memiliki sahabat karib karena ia terkesan angkuh dan sombong. Sedangkan Rosa tidak memiliki sahabat karena ia tidak cantik.


Keduanya bercakap-cakap. Saling menanyakan kabar, kegiatan apa saja yang di lakukan dan banyak hal lainnya.


Rosa bersyukur, Lidya menemukan guru les yang sikapnya sama seperti dirinya.

__ADS_1


"Tapi, kamu harus berhati-hati dan menjaga jarak Lid. Karena kalian beda jenis." ucap Rosa yang tak mampu membendung rasa khawatir nya. Ia tak ingin pengalaman buruknya juga menimpa Lidya sahabat baiknya. Karena Lidya sangat cantik, dan pasti banyak yang menggodanya.


"Iya iya Ros. Apa aku perlu pakai hijab seperti mu, biar ngga di lirik sama guru les ku." ucap Lidya sambil terkekeh.


"Menurut ku harus Lid, memakai hijab kan hukumnya wajib bagi setiap wanita yang sudah baligh. Apalagi kamu lebih cantik dari aku." ucap Rosa yang justru menanggapi candaan Lidya dengan serius.


Lidya pun sejenak terdiam sampai akhirnya menjawab ucapan Rosa.


"Tapi aku belum siap Ros."


"Apa yang membuat mu belum siap Lid? Malaikat maut mencabut nyawa kita ngga menunggu kata siap dari kita lho."


"Em.... bener juga sih apa kata mu Ros. Nanti deh aku pikir lagi di rumah."


Keduanya pun kembali melanjutkan obrolan mereka tentang hal lain.


Lidya menyimak dengan serius setiap cerita Rosa selama 8 bulan lebih tak bertemu.


Ternyata ada banyak hal yang sudah mereka lewatkan. Lidya bersyukur, Rosa akhirnya bisa memiliki pekerjaan yang di inginkan, tanpa harus meninggalkan Zaidan.


Setelah puas melepas rindu, Lidya segera berpamitan pada Rosa.


"Sudah siang banget, aku pamit pulang dulu ya Ros. Semoga usaha mu kian sukses ya. Jangan lupa, kapan-kapan kamu juga harus gantian main ke rumah ku. Jangan lupa ajak Zaidan juga."


"Aamiin, kamu juga semoga tambah pintar, bisa masuk universitas ternama dan mendapat gelar cumlaude lulus nya. Bisa jadi orang sukses yang bisa di bermanfaat untuk orang banyak." balas Rosa. Keduanya pun saling mengaminkan doa.


Selepas kepulangan dari rumah Rosa, Lidya memikirkan perkataan sahabat nya itu.


Lidya menyadari jika pakaiannya selama ini memang terkesan minim. Tapi orang tuanya memang tidak melarangnya. Yang penting Lidya jadi anak yang pintar dan memiliki perilaku yang baik pada orangtuanya.


Sedang asyiknya memikirkan perkataan Lidya, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Bergegas ia membuka pintunya.


"Mama, ada apa ma?"


"Tuh di bawah ada cowok, katanya teman sekolah mu." kata mamanya, lalu ia segera turun ke bawah. Sedangkan Lidya masih diam mematung di ambang pintu.


"Cowok? Teman sekolah? Siapa yang berani datang kesini?" gumamnya penasaran. Akhirnya ia pun segera menuruni anak tangga menemui siapa cowok yang di maksud oleh mamanya.


"Rico."

__ADS_1


__ADS_2