
Setelah selesai mandi, seperti biasa Rosa memakai cream di wajah dan membalur tangan serta kakinya dengan lotion.
Meskipun ia memutuskan memakai gamis dan berjilbab, ia tetap merawat dirinya dengan telaten.
"Apa benar perkataan mereka? Aku semakin bertambah cantik?" gumamnya sambil mengusap wajahnya pelan.
Secarik senyum terbit di wajah Rosa kala melihat bayangannya lewat pantulan cermin. Tak di pungkiri, memang ia terlihat jauh berbeda dengan yang dulu.
"Apa aku coba jualan cream wajah saja ya? Aku kan sudah mencobanya juga. Hasilnya, tidak diragukan lagi." imbuhnya.
Rosa segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih bagus serta merapikan diri.
"Mama pergi sebentar ya sayang, doakan semoga usaha mama berhasil ya." pamitnya sambil mengecup kening Zaidan yang masih tidur pulas di dalam ayunan.
Setelahnya Rosa langsung menyambar kunci sepeda motor yang ada di meja rias, dan mencari keberadaan ibunya.
"Bu, titip Zaidan sebentar ya. Rosa ada kepentingan. Sepertinya Rosa tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Rosa pamit dulu ya, assalamu'alaikum." ucap Rosa sambil meraih tangan ibunya, lalu menciumnya dengan takzim.
Rosa pun segera melajukan motornya meninggalkan pelataran rumah.
"Kemana sih Rosa, tumben sekali terburu-buru seperti itu." gumam ibunya sambil geleng-geleng kepala.
Ia pun segera masuk ke kamar Rosa, memastikan jika Zaidan masih tidur setelah dimandikan.
"Cucu tampan nenek bobok nyenyak ya. Nenek tinggal beres beres rumah." ucap bu Susi sambil membingkai wajah Zaidan lalu mengecupnya.
______
Sementara itu, menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya Rosa sudah sampai di gerai ATM terdekat.
Ia mengambil sedikit uang, lalu segera melajukan motornya kembali menuju toko yang menjual cream wajah seperti yang ia pakai.
"Silahkan kak, mau cari apa?" tanya pelayan toko dengan ramah.
Rosa pun segera mengutarakan keinginannya. Pelayan toko tersenyum ramah, lalu segera menyiapkan orderan Rosa. Sambil menunggu pesanan nya, Rosa coba menawarkan produk itu lewat media sosial.
__ADS_1
"Sudah saya siapkan kak, bisa di cek lagi ya, sebelum meninggalkan toko." kata pelayan yang membuat Rosa sedikit terkejut.
Rosa segera menyudahi aktivitas nya itu, lalu segera mengecek kembali pesanan nya.
"Iya kak, ini benar semua."
"Ini nota nya kak." kata pelayan itu sambil menyodorkan selembar kertas, dan Rosa langsung menerima nya dan tak lupa meneliti setiap deretan tulisan itu.
"Karena akan di jual lagi, dan kakak juga membelinya dalam jumlah banyak, otomatis kami memberi diskon kak. Tidak hanya itu saja keuntungannya, kakak juga berhak mendapat mini gold dari kami sebesar 2 gram. Semakin banyak kakak membeli, semakin banyak keuntungan yang kakak dapatkan." tutur pelayan itu panjang lebar yang membuat Rosa senang sekaligus juga deg-degan.
"Terima kasih kak. Ini uang pembayarannya." ucap Rosa sambil menyodorkan beberapa lembar uang merah yang berjumlah 5 juta.
Setelah pelayan itu menghitung lembaran uang dan hasilnya sudah pas, Rosa segera pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan bahagia.
Ia segera melajukan motornya pulang. Di jalan, ia berhenti sebentar untuk membelikan cemilan untuk ibunya dan buah segar untuk Zaidan. Setelah itu kembali ia melajukan motornya.
"Assalamu'alaikum." sapa Rosa pada ibunya yang sedang duduk di teras sambil menyuapi Zaidan dengan buah pepaya.
"Wa'alaikumussalam. Darimana saja kamu Ros? Dan apa yang kamu bawa itu?"
Ia meletakkan dus kosmetik itu di ruang keluarga, lalu berlari kecil mengambil gunting di kamarnya, dan tak lama kemudian sudah kembali lagi. Sejak tadi ibunya terus memperhatikannya.
"Ini kosmetik bu. Sudah Rosa pertimbangkan baik baik, in shaa Allah mau jualan kosmetik saja. Bisa di kerjakan di rumah sembari momong Zaidan. Cream kosmetik ini yang sering Rosa pakai, hasilnya bisa ibu lihat sendiri, ibu ibu warga sini saja sampai ngatain Rosa seperti tadi pagi. Alhamdulillah, hinaan mereka jadi sumber semangat." ucap Rosa panjang lebar, dan ibunya menganggukkan kepala, setuju dengan ucapan Rosa.
"Ibu ngga bisa berkata apa-apa selain setuju sekali dengan ucapan mu itu Ros. Memang benar, hinaan yang kita terima harus di jadikan sumber semangat, bukan malah menjadikan kita down. Ibu akan terus menyemangati mu nak, mendukung setiap perbuatan baik mu."
"Terima kasih bu." Rosa menghentikan aktivitas menggunting, dan menatap dengan haru ke arah ibunya. Lalu segera kembali menggunting dus dan mengeluarkan paket cream kosmetik satu persatu.
Dengan telaten Rosa menjelaskan satu persatu manfaat cream itu pada ibunya. Siapa tahu ibunya juga ada bakat berjualan.
Salah satu media promosi yang cepat sampai adalah memanfaatkan ibu-ibu lambe turah yang ada di desanya.
Jika ibunya nanti berbicara pada seorang tetangganya, pasti tidak sampai sehari, berita akan cepat menyebar. Nah, siapa tahu, dari berita yang mengalir itu, bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah untuknya. Tidak hanya caci maki saja yang ia terima. Pikir Rosa.
"Hem, ide bagus itu Ros. Ibu juga mau bantuin kamu." ucap bu Susi dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Zaidan juga mau bantuin mama kan?" Rosa terkekeh sambil menowel Zaidan yang sejak tadi memperhatikan ia yang serius bercerita.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Salah satu temannya yang melihat story' whatsApp Rosa langsung komen dan bertanya tentang cream yang ia unggah.
Secarik senyum ia sunggingkan ketika membaca pesan dari temannya itu, lalu ia pun segera membalasnya. Hingga akhirnya keduanya saling berbalas pesan, dan di akhir chat terjadi closing. Sore hari, ia akan mengantar ke rumah temannya.
Tak hanya berhenti sampai di situ saja, beberapa temannya yang lain, yang dulu sempat menghinanya pun ikut mengomentari status Rosa.
Kembali lagi Rosa menjelaskan dengan sabar. Mereka mau beli asal ada diskon.
Rosa berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk tidak memberi diskon, karena harga sudah di tetapkan dari pusat. Tapi Rosa berjanji akan memberikan gift lainnya. Beruntung mereka mau menerima tawaran Rosa.
"Alhamdulillah." gumam Rosa sambil menyunggingkan senyum setelah selesai membalas chat.
Sore yang di janjikan pun tiba, setelah menyuapi dan memandikan Zaidan, Rosa bersiap-siap, mengganti pakaiannya dengan yang lebih bagus lalu merapikan jilbabnya.
Setelahnya, ia pun segera membawa beberapa paket cream pesanan teman-temannya. Tak lupa berpamitan pada ibunya.
Dengan melajukan motornya pelan, Rosa mendatangi satu persatu rumah temannya. Walaupun ada sebagian yang tak ia ketahui alamat nya, ia tetap semangat untuk mencarinya.
"Kamu Rosa?" tanya salah satu temannya sambil mengernyitkan dahi, ketika Rosa sudah sampai di depan rumah temannya itu.
"Iya." jawab Rosa sambil tersenyum dan mengangguk ke arah temannya itu.
Sesaat temannya menelisik penampilan Rosa yang tampak jauh berbeda.
"Eh, lama ngga ketemu, kamu jadi cantik banget. Sekarang pakai hijab, sudah tobat ya?" puji temannya, tapi juga di iringi dengan sindiran pedas.
"Terima kasih. Iya Na, in shaa Allah aku sudah tobat." ucap Rosa tetap menyunggingkan senyum, walaupun di sindir seperti itu.
Kali ini Rosa tak mau membalas dengan perkataan panjang lebar, harus merendah dulu, agar temannya tetap mau membeli cream nya.
"Bentar ya, aku ambil uangnya dulu." temannya berlari kecil meninggalkan Rosa yang masih mematung di depan pintu.
"Nih, pas ya uangnya." kata temannya sambil menyodorkan 3 lembar uang merah.
__ADS_1
Temannya kembali mengajak Rosa bercakap-cakap. Hingga sekian menit berselang, Rosa harus mengakhiri percakapan itu, karena masih ada yang harus ia antarkan.