
Sementara itu, di dalam restoran, Lidya sekeluarga dan Abigail sekeluarga terlihat sedang bercakap-cakap.
Kedua orang tua Abigail, memuji keberanian Lidya dalam menjebak Rico. Padahal hal itu sangat membahayakan nyawanya.
"Tidak di sangka ya, walaupun nak Lidya seorang perempuan, tapi pemberani juga." celetuk umi Farhana.
Ia begitu mengagumi keberanian Lidya. Ingin sekali umi Farhana memiliki keberanian seperti yang di miliki gadis itu.
Namun, tentu saja hal itu sulit untuk dia lakukan. Karena memang wataknya sudah terbentuk lemah lembut, dan tidak berani menentang sejak dulu.
Dalam hati umi Farhana berpikir, keberanian Lidya ini seperti keberanian yang di miliki oleh Abrisam. Sedangkan sifat lemah lembut Rosa, seperti sifat anaknya, Abigail. Dan mereka sama-sama cerewet, kecuali Rosa.
Entah apa yang akan terjadi, jika mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan, lalu hidup serumah. Pasti akan sangat seru dan menggemparkan.
Atau mungkin, keduanya akan menjadi pasangan yang saling mendukung dan mensupport setiap perbuatan pasangannya. Batinnya lagi.
"Lidya ini memang sangat pemberani umi. Termasuk berani bolos demi cowok tadi." celetuk Abigail, yang membuat Lidya mengerucutkan bibirnya. Karena aibnya di bongkar.
"Kakak, itu kan dulu saat Lidya belum tahu. Sekarang aku sudah tahu yang sebenarnya. Aku berjanji tidak akan bolos sekolah lagi. Mau belajar yang rajin, habis itu kuliah, cari kerja....."
"Terus kapan kalian akan menikah?" potong umi Farhana, yang membuat Lidya seketika menghentikan ucapannya.
Semua hening, karena memikirkan ucapan umi Farhana yang spontan itu.
Terlebih kedua orang tua Lidya. Keduanya memang menganggap Abigail seperti seorang kakak bagi anak mereka. Karena Abigail selalu menasehati Lidya.
"Menikah?" ulang Abigail dan Lidya bersamaan. Keduanya pun saling beradu pandang.
Abigail benar-benar merasakan jantungnya berpacu dengan cepat. Ingin tahu reaksi apa yang akan diberikan oleh Lidya. Apakah gadis bodooh itu tahu, jika selama ini diam-diam ada yang mencintai dirinya.
Namun, reaksi yang tak terduga justru diberikan oleh Lidya. Ia terkekeh geli karena mendengar soal pernikahan.
"Lidya menikahnya masih lama umi. Mau mengejar cita-cita dan karier dulu. Lagian, Lidya juga belum siap menikah, karena takut......"
Sengaja Lidya menggantung ucapannya, karena malu jika harus mengatakannya di hadapan orang-orang yang jauh lebih dewasa darinya.
Ia takut dan merasa belum siap menghadapi yang namanya malam pertama.
__ADS_1
Ia pernah mendengar dari guru biologinya, yang mengatakan jika hal itu akan terasa menyakitkan bagi pihak perempuan, ketika baru pertama kali melakukan.
Lidya langsung bergidik ngilu.
Seakan tubuh Abigail luruh ke lantai, mendengar jawaban Lidya yang apa adanya itu.
'Mungkin gadis bodooh ini perlu dijelaskan secara mendetail, bahwa aku mencintainya. Kalau tidak begitu, sampai rambut ku tumbuh uban, dia pasti tidak akan pernah tahu apa isi hatiku.' batin Abigail kesal.
"Hei, kenapa ngga dilanjutkan bicaranya nak?" tanya abi Husein. Lelaki itu cukup terhibur dengan sikap Lidya yang periang, dan pandai berceloteh layaknya anak kecil.
'Mungkin jika Lidya menikah dengan Abigail, keduanya pasti akan menjadi pasangan yang menggemparkan dunia. Karena sifat mereka yang sama-sama cerewet.' batin Husein, yang ternyata sama dengan pemikiran istrinya.
"Hehe, tidak apa-apa kok bi. Lidya sudah lupa tadi mau bilang apa." ucap Lidya sambil meringis.
"Lidya, kamu ngga boleh bicara seperti tadi. Nanti kalau nikah mu lama beneran gimana? Bisa-bisa, jadi perawan tua dong kamu. Mana ada laki-laki yang mau sama perawan tua coba?" bisik ibunya. Namun masih bisa di dengar oleh mereka. Abigail terkikik geli mendengar hal itu.
"Tenang saja ma, ngga bakalan Lidya jadi perawan tua. Kalau sampai stok laki-laki habis, Lidya akan menikah dengan kak Abi. Itu pilihan terakhir Lidya. Iya kan kak?"
Abigail seketika tersedak, ternyata gadis itu masih mengingat ucapannya saat di puncak kemarin, sebelum peristiwa penggrebekan. Ia hanya mengulum senyum.
Kedua orang tua mereka terkekeh, melihat anak-anaknya yang sejak tadi beradu mulut.
"Ada apaan sih, kok seru banget?" suara Abrisam membuat mereka berhenti tertawa.
Ia menggeser kursi untuk Rosa, lalu untuk dirinya.
"Mereka bertengkar terus sejak tadi, apa jadinya kalau nanti mereka menikah?" kekeh Husein. Abrisam pun manggut-manggut.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu untuk makan siang bersama. Makanan yang tersaji pun juga sudah ludes. Abrisam bangkit berdiri untuk membayar.
Di meja kasir, ia menyerahkan kartu saktinya.
"Maaf pak, kartu ini tidak bisa digunakan." kata kasir yang membuat Abrisam terkejut.
Ia menarik kartu itu, dan menggantinya dengan kartu yang lainnya. Hal itu terjadi berulang kali sampai seluruh kartu saktinya ia keluarkan.
"Kenapa seluruh kartu ku tidak bisa digunakan?" gumamnya sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
Abigail yang melihat saudaranya sedang kebingungan, dari kejauhan, segera menghampirinya.
"Hai, ada apa?" Abigail menepuk bahu kembarannya, sehingga membuatnya tersentak kaget.
"Seluruh kartu ku, tidak bisa digunakan."
"Kamu terlalu boros, jadi cepet habislah isinya." kekeh Abigail. Ia pun merogoh dompet dari dalam tasnya, dan mengeluarkan kartu saktinya. Lalu menyodorkan pada kasir.
"Maaf pak, kartu ini juga tidak bisa digunakan." kata kasir sambil menyerahkan kartunya pada Abigail.
Lelaki itu menerimanya dan menggantinya dengan kartu yang lain. Kejadian yang sama juga terjadi, seluruh kartu Abigail tidak dapat digunakan. Abrisam pun terkekeh, karena nasib kembarannya sama dengannya.
"Sepertinya kamu juga boros, nyatanya seluruh kartu mu tidak bisa digunakan."
"Aku tidak pernah boros Sam. Uang gaji tidak pernah aku sentuh sedikitpun." Abigail mengernyit bingung.
"Apa, jangan-jangan semua ini ada kaitannya dengan pelarian kita. Bisa jadi Oma marah dengan kita, lalu memblokir semua kartu kita." seloroh Abigail.
Abrisam pun seketika terdiam, sambil mencerna ucapan kembarannya.
"Sepertinya benar apa yang kamu ucapkan Bi. Mulai sekarang kita tidak boleh mengandalkan apapun juga dari Oma. Kita harus berusaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan kita. Jangan sampai menyusahkan kedua orang tua kita juga."
"Iya, tapi yang menjadi masalahnya saat ini adalah, bagaimana cara kita membayar total makan kita?"
"Yah, untuk kali ini saja, kita minta bantuan abi untuk membayar semuanya." bisik Abrisam, yang membuat Abigail terkekeh.
Abigail segera mendekati abinya, dan menyampaikan maksudnya sambil berbisik.
Husein yang tahu akan sifat licik mamanya segera bangkit berdiri, dan berjalan bersama menuju meja kasir.
Ia pun menyerahkan kartu saktinya, dan akhirnya urusan mereka berhasil terselesaikan dengan baik.
"Terima kasih banyak bi. Kita janji setelah ini, akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan mencari pekerjaan lainnya."
"Bagus. Abi sangat senang dengan semangat yang kalian tunjukkan. Beranilah keluar dari zona nyaman." Husein menepuk bahu kedua putranya.
Setelahnya mereka kembali ke meja makan, untuk saling berpamitan.
__ADS_1