Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
60. Kembali bekerja


__ADS_3

Abrisam tak menyangka jika akan mendapat serangan mendadak seperti itu dari omanya.


"Sam, kenapa diam saja?"


"Sam belajar dari google Oma." ucapnya sambil meringis untuk menghalau kegugupan nya.


"Seharusnya kamu tidak usah belajar seperti itu. Hanya buang buang tenaga saja. Ingat, sebagai seorang pebisnis, time is money, waktu itu adalah uang."


"Baik Oma." Abrisam mengangguk patuh, walaupun sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya.


"Kenapa Oma bicara seperti itu? Padahal Abi juga seorang pebisnis. Tapi dia tetap melaksanakan sholat. Kenapa mereka sangat berbeda?" gumamnya ketika Oma sudah keluar.


Semakin banyak tanda tanya yang bersarang di benak Abrisam.


Sementara itu, Oma yang berlalu pergi menuju kamar Abigail.


Untung saja, Abigail sudah selesai melaksanakan sholat Dhuha, dan sekarang ia tengah memakai kaos kaki.


"Kamu sudah siap Bi?"


"Eh, iya Oma. Ini baru pakai kaos kaki."


Abigail menoleh ke arah omanya yang berdiri di ambang pintu.


"Hem, bagus. Oma tunggu di meja makan."


Setelah berkata seperti itu, Oma Sekar langsung berbalik pergi meninggalkan Abigail yang terbengong.


"Aneh sekali sikap oma. Tidak seperti biasanya yang selalu menyapa hangat cucu cucunya. Apa mungkin dia sudah tahu dengan... Ah, bisa gawat dong. Aku harus segera beritahu hal ini pada Sam." gumamnya lalu segera keluar menuju kamar kembarannya.


Baru saja Abigail hendak mengetuk pintu, Abrisam sudah keluar duluan. Jadilah yang di ketok kepalanya.


Arghh...


Abrisam mengerang kesakitan dengan muka cemberut. Namun Abigail tak mengindahkannya. Ia mengutarakan kegusaran hatinya pada kembarannya.


Abrisam pun merasakan hal yang sama. Ia juga mengutarakan kegusaran hatinya. Teringat Oma sudah menunggu di meja makan, bergegas mereka ke sana.

__ADS_1


Tak lupa keduanya mencium pipi oma kanan dan kiri lalu duduk di samping Oma. Sarapan pun di mulai.


Saat makan, oma cukup banyak bertanya tentang perjalanan bisnis yang Abrisam lakukan selama di Riyadh. Tentu saja hal itu membuat si kembar cukup tegang. Abrisam akhirnya terpaksa berbohong.


Sandwich yang ada di piring mereka sudah habis. Si kembar pun minta ijin untuk berangkat kerja.


Sesampainya di carport, keduanya menghirup nafas lega, karena bisa lolos dari pertanyaan Oma.


Jujur saja, Abrisam tak sanggup untuk berbohong. Karena satu kebohongan akan menjadi jalan untuk kebohongan berikutnya. Mereka segera mengendarai mobil masing-masing lalu melajukan ke tempat kerja.


Sesampainya di kantor, seperti biasa para staff, menyapanya dengan senyum ramah, dan Abrisam pun membalas dengan senyum yang ramah pula.


Setibanya di ruangannya ia di sajikan dengan setumpuk berkas yang membuatnya mendengus kesal. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kursi kebesarannya, dan duduk di sana, untuk memulai pekerjaan pada hari itu.


Jari tangannya mulai membuka lembaran file itu dan berusaha membacanya dengan seksama. Namun selama di kantor Abrisam tak bisa fokus untuk mengerjakan tugasnya. Pikiran nya bercabang entah kemana.


"Jika punya sulap, tinggal tiup saja semua pekerjaan beres, dan bisa melakukan hal penting lainnya." cicitnya.


Sementara itu di rumah sakit. Abigail juga kurang fokus menjalankan pekerjaannya. Ia ingin sekali bisa segera berjumpa dengan mereka. Namun ia tak punya alasan yang kuat untuk pergi keluar negeri. Ia hanya bisa menunggu kehadiran kedua orang tuanya ke indo.


"Dok.. Dok." suara seorang perawat yang membuyarkan lamunan Abrisam.


"Maaf dok, ada pasien yang baru saja kecelakaan." Belum selesai perawat berkata, Abigail yang paham segera beranjak dari tempat duduknya dan segera mengecek kondisi pasien.


Alangkah terkejutnya dia ketika sampai IGD dan melihat siapa yang tengah terbaring sakit.


"Lidya." gumamnya. Lalu segera mendekat ke arahnya.


"Kenapa bisa seperti ini?" ucap Abigail sambil memeriksa kondisi Lidya yang penuh luka. Namun Lidya diam tidak menjawab karena masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Setelah selesai memeriksa Lidya, giliran Abigail memeriksa kondisi pasien di sampingnya. Ia terkejut ketika melihat yang ada di brankar adalah pacar Lidya.


Abigail berusaha bekerja profesional, dan tetap memeriksa keadaannya dengan baik. Ia mengajukan beberapa pertanyaan pada Rico untuk mengetahui kondisi dalam nya.


Abigail menghela nafas lega, karena setelah melewati serangkaian pemeriksaan, ia tidak menemukan luka dalam dari kedua pasiennya.


Setelah itu, ia kembali mendekati Lidya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah menelpon papa dan mama mu?"


"Belum kak." Lidya menggeleng lemah.


Perawat yang masih berada di IGD melihat interaksi antara Lidya dan dokter tampan pujaan seluruh warga rumah sakit itu dengan penuh tanda tanya. Karena keduanya sangat terlihat akrab. Begitu pun dengan Rico yang terus menatap keduanya.


Namun Abigail tak memperhatikan mereka. Ia segera menelpon nomor papanya Lidya untuk memberi kabar tentang keadaan putrinya.


Setelah selesai menelpon, ia duduk di samping Lidya menemaninya sampai kedua orang tuanya datang. Rico yang melihat hal itu semakin di bakar rasa cemburu hingga ia mengepalkan tangannya.


Abigail banyak memberi nasehat pada Lidya agar bisa menjadi seorang pelajar yang baik. Lidya menganggukkan kepalanya tanda patuh.


Setelah sekian menit berlalu, kedua orang tua mereka akhirnya datang.


"Lidya, apa yang terjadi?" Bu Cici langsung mendekati Lidya yang tengah terbaring lemah, karena banyak memar dan luka lecet.


"Lidya ngga apa-apa kok Bu." balas Lidya sambil menyunggingkan senyum, walaupun sambil meringis kesakitan.


Bu Cici dengan penuh kasih sayang, mengusap kepala Lidya sambil mengucapkan syukur karena putrinya masih di beri keselamatan.


Tak lupa Bu Cici juga mengucapkan rasa terima kasihnya pada Abigail karena telah mengobati luka dan menemani Lidya.


Abigail tersenyum simpul menanggapi ucapan Bu Cici.


Di saat yang bersamaan, Ibunya Rico juga menghampiri Rico dan menanyakan tentang keadaannya.


Rico menceritakan semua yang di alaminya pada ibunya. Ia juga membisikkan sesuatu pada ibunya, lalu tak lama kemudian ibunya mendekati ke arah brankar Lidya.


Ibunya Rico meminta maaf pada Bu Cici karena kejadian itu atas nama anaknya. Ia juga akan membayar total tagihan rumah sakit selama Lidya di rawat.


"Maaf Tante, total tagihan rumah sakit Lidya sudah saya lunasi duluan." ucap Abigail yang membuat mereka terkejut dan saling beradu pandang.


"Tapi nak, biaya rumah sakit kan mahal." ucap Bu Cici yang merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa tante. Saya ingin menjadi orang yang baik seperti tante. Bukankah dulu Tante juga pernah melakukan kebaikan dengan membayar biaya rumah sakit untuk saudara Tante yang melahirkan?"


Bu Cici langsung menarik senyum di wajahnya mendengar ucapan Abigail. Padahal niat Bu Cici tulus ingin membantu, dan hal itu tak ada yang tahu kecuali keluarga dan bagian administrasi rumah sakit.

__ADS_1


Ia pun lantas mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Abigail padanya.


Sekali lagi Abigail menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dan segera berlalu keluar, untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang tertunda.


__ADS_2