
Pagi itu Rico dan Lidya masih di rawat di rumah sakit. Setelah selesai memeriksa pasien, Abigail menjenguk Lidya.
Ia membawakan cemilan dan buah untuknya. Ia juga mengajak Lidya bercengkrama, sambil menunggu mamanya membeli sarapan. Lidya terkikik mendengar candaan yang di lontarkan Abigail padanya.
Karena di rawat di ruang yang sama, dengan hanya di sekat tirai, Rico selalu tahu apa yang di lakukan Lidya. Hatinya terbakar cemburu melihat hal itu.
Ia tahu, menaklukkan hati Lidya tidaklah mudah. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukannya. Dan sekarang ia menganggap dokter itu telah merebut perhatian Lidya darinya.
Padahal ia tak tahu, jika Abigail selain menjadi dokter juga menjadi guru privat khusus untuk Lidya. Dan keduanya sudah cukup lama berkenalan. Maka keduanya bisa sedekat itu.
Rico meraih handphone yang ada di meja nakas lalu mengirim Lidya pesan.
'Sayang kenapa kamu malah asyik bercerita dengan dokter itu? Aku jadi cemburu.'
Pesan terkirim ke handphone Lidya namun ia tak segera membuka, karena sedang di charge, dan nada telepon nya di matikan.
Karena pesan nya tak kunjung di balas. Rico mencoba mengirim pesan yang sama lagi, namun sampai 5 kali pesannya tak kunjung di balas. Sehingga membuatnya semakin jengkel. Ia pun berdehem keras agar mereka mendengar.
Namun ternyata mereka hanya mendengar saja lalu kembali bercakap-cakap. Bu Cici yang tadi membeli sarapan, akhirnya sudah kembali ke kamar Lidya. Abigail pun segera berpamitan pada Lidya.
"Kakak pamit dulu ya, karena masih ada kerjaan. Nanti sebelum pulang kerja, boleh lah mampir bertemu dengan mu lagi. Siapa tahu, kamu cepat sembuh karena rajin ku tengok." canda Abigail yang membuat Lidya ikut terkekeh.
Bu Cici tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Ia melihat kasih sayang yang tulus yang di berikan Abigail untuk Lidya layaknya seorang kakak. Semenjak berteman dengan Rosa dan Abigail, Lidya menjadi lebih lembut perilakunya.
"Iya kak, terima kasih ya sudah di temani. Semoga pekerjaan kak Abi hari ini di mudahkan Allah."
Abigail tersenyum bahagia mendengar doa yang di ucapkan Lidya padanya.
'Andai saja, sebelum berangkat kerja ada yang mendoakan seperti itu, tentu tambah semangat aku bekerja.' batin Abigail sebelum berlalu pergi meninggalkan ruang perawatan itu.
Tak lupa Bu Cici juga mengucapkan rasa terima kasihnya pada Abigail, karena sudah di bantu menemani Lidya. Abigail pun tersenyum membalasnya.
__ADS_1
'Kakak? Lidya menyebut dokter itu dengan panggilan kakak? Apa mereka ada hubungan darah?' batin Rico yang bisa mendengar dengan jelas setiap percakapan mereka.
Sementara itu, setelah kepergian Abigail, Lidya segera meraih handphonenya yang sejak 2 jam lalu di charge, dan sekarang sudah penuh.
Ia mengernyitkan dahi ketika sederet pesan dari Rico memenuhi layar handphonenya. Lalu ia segera membukanya. Sambil menyunggingkan senyum, Lidya membaca pesan dari Rico, sebelum akhirnya membalas.
'Maaf sayang, kak Abi selain dokter, juga guru les ku. Makanya kami bisa sedekat ini.' balas Lidya.
Rico yang merasa handphonenya bergetar, segera membuka pesan masuknya.
Rico sangat heran dengan balasan Lidya.
'Mana mungkin ada dokter yang merangkap jadi guru les, apa gajinya kurang banyak? Pasti dokter itu juga menyukai Lidya. Siapapun orang yang melihatnya, pasti akan jatuh cinta. Aku harus menjaga Lidya sebaik mungkin. Tak kan ku biarkan orang lain merebutnya dari ku. Sebelum aku merasakan madu Lidya yang pasti sangat manis.' batinnya.
Sementara Lidya dan Rico saling berbalas pesan, ibu mereka berdua bercakap-cakap untuk menghilangkan kejenuhan.
Ibunya Rico yang perlahan tahu tentang keluarga Lidya yang lebih kaya darinya, merasa sangat senang. Ia semakin berandai-andai jika kelak hubungan antara kedua anaknya bisa sampai ke tahap yang lebih serius. Karena mencari menantu haruslah orang yang selevel dengannya, atau lebih tinggi darinya.
Setelah 2 hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Abigail mengijinkan Lidya dan Rico pulang. Tentu saja keduanya sangat senang.
Keluarga Lidya sudah memaafkan Rico, karena bagaimanapun juga, kecelakaan itu tidak di sengaja.
Papanya Lidya juga menasehati Rico untuk lebih berhati-hati membawa kendaraan, agar tidak membahayakan nyawa mereka. Dan selama keduanya dalam masa pemulihan, papa Lidya memutuskan untuk mengantar jemput Lidya sekolah.
Setelah kepulangannya dari rumah sakit, Lidya meminta Abigail untuk memberinya les, agar tidak ketinggalan pelajaran. Dengan senang hati Abigail menyanggupinya.
"Assalamualaikum." salam Abigail sambil mengetuk pintu rumah Lidya. Tak lama kemudian, pintu terbuka.
"Wa'alaikumussalam." dengan senyum sumringah Bu Cici menjawab salam Abigail, lalu mempersilahkannya masuk.
Abigail menuju ke tempat di mana keduanya sering menghabiskan waktu untuk belajar privat.
__ADS_1
Untuk menghemat waktu, Abigail segera menjelaskan pelajaran yang Lidya belum pahami dengan sabar.
Selama hampir 2 jam mereka menghabiskan waktu untuk belajar. Sedikit demi sedikit Lidya mulai paham.
Setelah selesai, bu Cici datang membawa cemilan untuk keduanya. Lidya mempersilahkan Abigail untuk menikmati rainbow cake buatan mamanya.
Sambil menikmati cemilan, keduanya kembali bercakap-cakap. Abigail terus memperhatikan Lidya yang sangat cerewet seperti dirinya itu.
"Lidya, pasti lelaki itu sangat beruntung memiliki pacar
seperti mu." celetuk Abigail tanpa sadar.
"Hah, apa kak?" Lidya mengerjapkan matanya, yang membuat Abigail semakin gemas melihatnya.
"Memang kak Abi belum punya pacar?" Lidya bertanya dengan serius menatapnya. Abigail pun menggeleng lemah sambil tersenyum.
"Padahal kak Abi itu ganteng lho, kenapa belum punya pacar?" Lidya semakin terlihat penasaran.
"Kegantengan seseorang itu tak menjamin seorang lelaki mudah memiliki pacar Lidya. Dan bagi ku, yang penting, menyaksikan seseorang yang kita cintai bahagia itu, sudah membuat hati merasa jauh lebih lega dan bahagia. Karena itu hakikat cinta yang sejatinya."
"Wih, hebat kak Abi." Lidya berseru sambil bertepuk tangan dengan semangat.
"Pasti beruntung sekali ya wanita yang kelak menjadi pasangan kak Abi."
'Asal kamu tahu Lidya, wanita yang beruntung itu adalah kamu.' batin Abigail.
Setelah hari hampir gelap, perbincangan mereka pun selesai. Abigail berpamitan pada Lidya sekeluarga. Bu Cici memberikan cake buatan nya untuk oleh-oleh. Abigail menerimanya dengan senang hati lalu pulang.
"Kamu dari mana saja Bi? Kenapa sekarang selalu pulang sore?" oma Sekar langsung mencecar Abigail dengan pertanyaan ketika ia baru saja masuk rumah.
"Abi mampir beli cake untuk Oma. Ini Oma." Abigail menyerahkan cake buatan Bu Cici untuk omanya, lalu berpamitan ke kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Abigail menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Pikiran nya kembali memikirkan Lidya. Ia tak menyangka akan jatuh cinta dengan seorang gadis SMA yang sudah memiliki pacar.
"Lidya, aku harap kamu selalu bahagia."