
"Assalamu'alaikum umi." ucap si kembar kompak.
"Wa'alaikumussalam." balas farhana sambil tersenyum.
Lalu memeluk kedua anaknya. Tanpa terasa ia menitikkan air matanya. Tak menyangka jika masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan mereka.
Mendengar suara ribut-ribut, Husein keluar, melihat apa yang terjadi. Sebuah senyum terbit di wajahnya ketika melihat Farhana tengah memeluk kedua anaknya.
Untuk sesaat dia diam terpaku, membiarkan semua itu terjadi. Sampai akhirnya, mereka saling mengurai pelukan. Lalu mempersilahkan keduanya masuk.
"Abi." seru si kembar, ketika melihat Husein berdiri tak jauh dari mereka. Keduanya berlari dan memeluk Abi Husein.
Setelah pertemuan yang mengharu biru itu, Farhana mempersilahkan mereka duduk di karpet yang sudah di gelar.
Dengan senyum sumringah, mereka duduk di karpet tersebut. Farhana datang membawa minuman dan cemilan.
Sambil meneguk teh manis serta menikmati roti Maryam, keduanya mulai bercerita. Sebelumnya si kembar minta maaf atas perilaku buruk Oma, sehingga orangtuanya sampai di usir.
Beruntung kedua orang tuanya tidak mempermasalahkan hal itu. Karena, dulu keduanya juga pernah di usir.
Setelah itu, keduanya menceritakan soal kabur dari rumah. Bahkan si kembar menceritakan semuanya secara detail. Kedua orang tuanya terbelalak mendengar hal itu.
"Jadi, kalian kesini tanpa sepengetahuan Oma, dan tidak membawa satupun barang berharga?" celetuk umi Farhana.
Si kembar pun menggelengkan kepalanya.
"Kita seorang laki-laki umi. Dituntut untuk bisa mendapatkan pekerjaan bagaimana pun caranya. Karena, kelak kita akan menghidupi anak dan istri. Maka dari itu, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan pekerjaan." ucap Abrisam penuh keyakinan.
Pikirannya teringat akan Zaidan dan Rosa. Yang saat ini menjadi anak dan istri siri baginya. Abigail mengangguk setuju dengan ucapan kembarannya.
"Bagus. Abi bangga pada kalian."
"Umi juga bangga pada kalian. Karena memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkan pekerjaan."
"Iya umi, kami tidak mau sepenuhnya bergantung pada Oma. Kami ingin berdiri di atas kaki sendiri." imbuh Abigail.
Kedua orang tuanya tersenyum merekah, semakin bangga pada kedua anaknya.
Di tengah-tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba Farhana teringat akan pesan WhatsApp dari si kembar kemarin.
__ADS_1
Abigail dan Abrisam saling beradu pandang tidak mengerti. Akhirnya umi Farhana mengambil handphone nya, dan menyerahkan pada kedua putranya.
Si kembar membaca dengan seksama deretan kalimat, yang membuat keduanya semakin meradang.
"Umi, kami tidak pernah menulis kata-kata yang menyakitkan seperti ini. Karena kami sangat sayang dengan umi." kata Abigail.
"Benar apa yang dikatakan Abi umi. Ini pasti kerjaan Oma Sekar, karena handphone kami telah disita olehnya." imbuh Abrisam.
"Gara-gara pesan itu, umi kalian sampai menangis sepanjang malam. Hingga tidak bisa tidur beberapa hari." cetus Husein.
"Umi, lebih baik kita hidup miskin, asal saling mengasihi dan menyayangi. Daripada hidup kaya, tapi tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna." ucap Abigail sambil menggenggam tangan uminya. Yang membuat wanita itu menjadi tersentuh hatinya.
"Kamu memang pandai meluluhkan hati wanita Bi. Kenapa tidak kau coba saja dengan Lidya." celetuk Abrisam yang mengundang gelak tawa. Sementara Abigail hanya tersenyum simpul sambil garuk-garuk kepala.
Umi Farhana segera ke dapur untuk menyiapkan makanan bagi kedua putranya. Karena melihat roti Maryam yang dihidangkan sudah habis.
Ia meyakini, jika kedua putranya tengah di dera rasa lapar. Karena semalam harus menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki.
Setelah sekian menit berlalu, tercium aroma wangi yang membuat perut semakin keroncongan. Si kembar melirik uminya yang berjalan membawa nasi goreng spesial.
Tidak perlu di suruh, keduanya segera melahap nasi goreng spesial dengan telur mata sapi, irisan sosis, kol, timun, dan tomat.
Kedua orang tuanya memandang dengan penuh senyum sambil menggelengkan kepalanya. Karena sangat bahagia melihat kedua anaknya. Terlebih umi Farhana, karena kedua putranya selalu melahap habis masakan yang ia sediakan.
_____
Sementara itu, di kediaman Oma Sekar, tengah terjadi keributan besar. Saat ia sedang duduk di meja makan, sambil menunggu kedua cucunya untuk menikmati sarapan pagi bersama, asisten rumah tangganya datang dengan tergopoh-gopoh.
"Kenapa tidak bersama si kembar?" tanya oma Sekar dengan wajah dingin.
Asisten rumah tangga semakin melipat wajahnya yang kian pucat pasi. Bibirnya terlihat bergetar sebelum sempat berkata.
"Kenapa kamu diam saja? Apa tuli hah!" sentak Oma Sekar yang membuat asisten rumah tangga semakin menciut nyalinya.
"Eh, i_itu ndoro. Mas kembar.... ngga ada di kamarnya." jawab asisten dengan gelagapan. Wajahnya kian menunduk tak berani menatap wajah majikannya.
"Apa!" seru Oma Sekar sambil menggebrak meja.
Mendengar keributan yang terjadi, dengan langkah pelan dan berjingkat, para asisten rumah tangga mendekat ke meja makan, untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Katakan sekali lagi." titah Oma.
"M_mas kembar ngga ada di kamarnya ndoro. Sudah saya cari-cari tidak ada. Sepertinya kabur."
Terdengar suara deru nafas yang tidak beraturan dari Oma Sekar. Menandakan dia sangat geram atas berita tersebut.
"Panggil semua pekerja kesini." sentak Oma Sekar.
"Ba_baik ndoro." jawab sang asisten, yang langsung ngacir ke belakang.
Ia menubruk rekan sesama asisten, yang tak jauh dari meja makan, karena sejak tadi mengintai di kongliong dapur.
"Ka...kalian di panggil ndoro." kata asisten itu terlihat gelagapan pada teman-temannya.
"Iya, kami sudah tahu tanpa kamu kasih tahu. Karena sejak tadi kita mengintip." bisik salah satu asisten.
"Ya sudah, buruan menghadap ndoro, aku mau ambil minum dulu. Hampir pingsan aku dihadapannya." keluh asisten yang sejak tadi menghadap Oma Sekar.
Segera ia berlari menuju kulkas, lalu meneguk sebotol air putih dingin hingga tandas. Setelahnya, bergegas ia menuju pos satpam, dimana 4 orang sedang berjaga di sana.
"Pak." ucap asisten itu terpotong, karena terengah-engah.
"Ada apa toh mbak. Kok kamu lari-lari seperti di kejar setan?" tanya salah satu security. Mereka pun menatap dengan penuh rasa penasaran, sehingga langsung mematikan puntung rokok yang baru saja mereka sulut.
"Ini lebih dari di kejar setan. Kalau berhadapan dengan setan, setan akan lari ketika kita bacaan ayat kursi."
"Jadi, apa maksudmu?"
"Ndoro Oma marah besar, karena mas kembar kabur."
"Apa!" seru mereka serempak. Mata mereka membulat, lalu saling beradu pandang.
"Jangan kebanyakan kaget, ayo kita kesana sekarang. Hukuman sudah menanti kita." kata asisten rumah tangga itu lagi. Membuat wajah para security pucat pasi.
Tanpa komando, mereka segera berhamburan meninggalkan pos satpam, menuju ruang makan, dimana Oma Sekar berada.
Kini, terlihat para asisten rumah tangga dan security yang berjumlah 10 orang tengah berdiri, dengan wajah tertunduk. Tangan mereka saling meremas karena ketakutan. Bahkan wajah mereka terlihat pucat pasi.
Oma Sekar bangkit dari duduknya dan mondar-mandir di depan para pekerja, sambil mengamati mereka satu-persatu.
__ADS_1
Bagai tahanan yang tengah menunggu eksekusi mati, melihat keadaan saat itu.