Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
85. Sidang pertama


__ADS_3

Setelah pengacara yang dikirim Abigail berkenalan dengan Lidya, kini saatnya, seorang lelaki yang berperawakan tinggi besar dengan kumis seperti pagar kabupaten bertanya soal Rosa.


"Apa saudari yang bernama Rosana Sahara?" ucapnya sambil menatap Rosa.


"Iya pak, saya Rosana Sahara."


"Saya Burhanuddin, pengacara yang sengaja di kirim oleh pak Abrisam, untuk membantu anda."


Keduanya pun saling berjabat tangan.


"Mari kita pelajari dulu kasusnya." ajak pak Burhan.


"Sebaiknya kita bicara disini saja pak. Kebetulan Lidya ini juga menjadi korban Rico." ajak Rosa pada pengacaranya.


Mereka pun duduk di deretan kursi yang terbuat dari potongan kayu, di bawah pohon mangga. Lalu mulai membicarakan kasus pelecehaan yang dilakukan oleh Rico.


Kedua pengacara itu meneliti dengan seksama bukti rekaman yang di perlihatkan oleh Rosa.


Sekian menit berlalu, terlihat kedua pengacara itu menyunggingkan senyum tipis. Seolah hal itu adalah perkara yang mudah baginya.


Dan, di lain tempat, kedua orang tua Rico juga tengah berbicara dengan pengacara yang mereka sewa.


Meskipun dalam hal ini, anaknya memang benar-benar bersalah, namun sebagai orang tua, keduanya tidak mau jika sampai anak laki-laki satu-satunya harus mendekam di penjara, dalam kurun waktu yang cukup lama.


Apalagi, kabar mengenai Rico di penjara karena tertuduh melakukan tindak pelecehaan sudah tersebar di desa tempat mereka tinggal, dan desa sekitar mereka.


Membuat mereka akan melakukan apa saja untuk membebaskan anaknya. Termasuk menjual sepetak sawah untuk membayar pengacara yang mereka sewa.


"Bagaimana pak, apa nanti anak saya bisa langsung dibebaskan?" tanya ibunya Rico pada pengacaranya.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin Bu. Jika di lihat kasusnya, memang cukup berat. Mungkin, Rico tidak bisa langsung bebas. Tapi, saya akan berusaha untuk meminta keringanan pada hakim, mengingat ia masih berstatus pelajar."


"Gimana sih pak, saya sampai rela menjual sawah untuk membayar anda, agar anak saya bisa bebas, tapi malah seperti itu tanggapan bapak." maki Bu Rita pada pengacaranya.


Wanita itu memang mudah tersulut emosinya jika berkaitan dengan anak laki-lakinya. Suaminya pun segera membekap mulut sang istri, agar tidak membuat gaduh.

__ADS_1


Terus terang, ia juga sangat frustasi memikirkan anaknya yang terlewat manja dan istrinya yang tidak bisa mengontrol emosi.


"Ibu bisa tenang ngga sih? Bapak mau tau ngga. Tuh lihat, mereka pada melihat ke arah kita." bisik suaminya.


Waktu mulai menunjukkan pukul 9. Bergegas mereka masuk ke dalam ruang sidang. Ibu Rita memandang penuh angkara murka, pada Rosa.


Meskipun sekarang Rosa berwajah cantik, entah kenapa Bu Rita tetap tidak menyukainya. Dan kini bertambah masalah, sehingga membuatnya semakin benci setengah mati pada Rosa.


Namun Rosa terlihat santai menanggapi tatapan Bu Rita. Ibu muda itu tidak mau memperdulikan hal sepele seperti itu, agar tidak menggangu kecantikannya yang kian sempurna.


Lidya duduk di apit oleh kedua orang tuanya. Sedangkan Rosa duduk berdampingan dengan ibunya. Tak lupa Rosa memangku Zaidan yang tampak anteng dengan mainan mobil-mobilan nya.


Kedua pengacara juga tengah duduk di samping kliennya masing-masing.


Kedua orang tua Rico duduk berseberangan dengan keluarga Rosa dan Lidya.


Tak lama kemudian, Rico dengan didampingi oleh dua petugas, bak seorang pesakitan, memasuki ruang sidang.


Ibunya menitikkan air mata, melihat anak laki-lakinya yang tampan, memakai baju oranye khas tahanan di giring masuk dengan muka tertunduk.


Hakim memasuki ruang sidang, pertanda sidang pertama akan segera di mulai. Semuanya terlihat tegang.


Sebelumnya, mereka dimintai sumpahnya di bawah kitab suci agamanya.


Hakim mulai membacakan tuduhan yang didakwakan pada Rico.


Pengacara Lidya membenarkan hal tersebut. Lalu, di susul oleh pengacara Rosa.


Dan tentu saja, pengacara Rico menyangkal dakwaan yang memberatkan kliennya. Sehingga ia mengajukan banding.


Pengacara Rosa dan Lidya menyerahkan bukti-bukti yang mereka kantongi pada hakim.


Untuk sesaat hakim mengamati semua bukti-bukti itu.


"Bapak hakim yang mulia, tidak hanya bukti itu saja yang kami bawa. Melainkan kami juga membawa bukti yang jauh lebih penting dari itu." ucap pak Burhan pengacara Rosa.

__ADS_1


Laki-laki itu berjalan ke arah Rosa lalu meraih Zaidan dari pangkuan Rosa. Ia mengangkat bayi itu dan membawa ke tengah-tengah ruang sidang.


"Bayi ini adalah anak klien saya saudari Rosa. Bayi ini adalah anak yang tidak di akui oleh terdakwa. Bahkan klien saya dulu hendak melakukan percobaan bunuh diri beberapa kali, karena tidak kuat menahan cobaan hidup yang terasa berat dilaluinya.


Beruntung, banyak orang disekelilingnya yang selalu mensupport nya. Sehingga klien saya mampu melewati masa-masa sulitnya. Dan kini bisa bangkit berdiri membesarkan anaknya seorang diri dengan berjualan online."


"Keberatan yang mulia hakim. Pengacara saudari Rosa tidak memiliki bukti yang kuat. Berani berkata bahwa bayi itu adalah hasil dari kesalahan yang klien saya lakukan." sanggah pengacara keluarga Rico.


Pengacara Rosa tersenyum tipis.


"Kami memang belum memiliki bukti akan hal itu. Maka dari itu, saya meminta untuk melakukan tes DNA pada bayi ini dengan saudara terdakwa. Karena klien saya dulu pernah meminta untuk melakukan tes DNA, namun saudara terdakwa menolaknya."


Hakim manggut-manggut mendengar penjelasan pengacara Rosa. Akhirnya hakim meminta mendatangkan seorang dokter ahli forensik untuk melakukan tes DNA.


Kedua orang tua Rico dan pengacaranya langsung memasang muka tegang. Karena tes DNA memiliki tingkat keakuratan yang tinggi. Hal itu tidak bisa di bantah lagi tentunya. Mereka pun berusaha keras memutar otak.


Sementara itu, dokter yang di minta tadi datang, dengan di kawal oleh dua polisi. Dia segera mengambil beberapa sample, seperti rambut dan darah. Lalu segera membawanya ke laboratorium lingkup kantor polisi.


Untuk sementara waktu sidang di tunda. Dan, akan kembali di gelar besok, ketika hasil tes keluar.


Rico kembali di kawal keluar oleh 2 orang petugas, menuju sel tahanan. Sedangkan Lidya dan Rosa tampak lebih puas, karena sidang berjalan lancar.


Lidya dan Rosa mengucapkan terima kasih pada pengacaranya. Setelah berbasa-basi sejenak, mereka pulang ke rumah masing-masing.


"Papa, mama, maafin Lidya ya. Lidya janji ngga mau pacaran lagi. Lidya benar-benar kapok pacaran." ucap Lidya memecah keheningan.


"Papa dan mama dulu juga pacaran, tapi tidak sampai melakukan hal kotor seperti itu. Papa sangat menjaga mama. Seperti halnya dokter Abi menjaga mu." balas bu Cici.


Lidya mengernyitkan dahi mendengar nama Abigail di sebut.


"Kenapa kak Abi ikutan di sebut ma?"


"Ya karena dia lelaki yang menjaga mu dengan sangat baik."


Lidya manggut-manggut, lalu merogoh handphone dari dalam tasnya. Ia pun segera mengirimkan pesan pada dokter muda itu.

__ADS_1


__ADS_2