Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
78. Mati


__ADS_3

Pandangan Abi Husein menerawang menatap langit-langit kamar sambil memulai ceritanya.


Si kembar tak menyangka jika opa dan omanya memiliki sikap yang tercela. Keduanya merasakan darahnya mulai mendidih.


"Sam, Abi, umi mohon, jangan pernah membenci opa dan Oma ya. Ingat, mereka sudah merawat kalian sampai sebesar ini. Lupakan sikap buruk mereka pada kami. Jangan pernah membalas keburukan dengan keburukan, niscaya hal itu tidak akan ada habisnya. Tapi, balas lah keburukan dengan kebaikan. Lambat laun, keburukan itu pasti akan tersingkir." ucap umi Farhana sambil menatap kedua anaknya, setelah suaminya selesai bercerita.


Abi Husein dan kedua anak kembarnya terbengong menatap umi Farhana. Mereka takjub dengan kebaikan nya.


"Padahal umi sangat baik, tapi kenapa Oma dan Opa tak pernah menyukai umi? Kenapa harta dan tahta selalu menjadi tolok ukur?" cicit Abigail, dan Abrisam pun mengangguk setuju.


"Kalau begitu, lebih baik aku tinggal dengan Abi dan umi saja di Riyadh. Kita mengembangkan usaha di sana." celetuk Abrisam.


"Tidak semudah itu nak. Ingat janji kalian untuk tetap berperilaku baik dengan Oma. Kalian harus tetap menyayanginya, apapun yang terjadi." tegas Farhana sambil memandang pada kedua anaknya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan umi, Abi? Jika sehari dua hari, mungkin kami mampu menahan. Tapi, jika seterusnya harus bersandiwara, sepertinya kami tidak bisa." ucap Abrisam setengah mengeluh.


Mereka kembali terdiam, dengan pemikiran yang bercabang-cabang.


"Umi, Abi. Jika Abigail boleh memberi saran. Alangkah baiknya, Abi dan umi pulang bersama kami, menyapa Oma. Siapa tahu, setelah sekian tahun berlalu, hatinya mulai luluh. Daripada kita terus menerus bersembunyi seperti ini ketika bertemu. Sebesar apapun masalahnya, jika dihadapi bersama, bukankah akan semakin lebih mudah?" ucap Abigail dengan bijak. Ia memang menuruni sifat uminya yang tetap tenang dalam segala suasana.


Mereka pun saling beradu pandang. Rasanya Husein berat sekali menemui ibunya. Sedangkan umi Farhana cukup berdebar dadanya. Namun, dalam hati keduanya membenarkan ucapan anaknya.


"Baiklah, akan kami pertimbangkan saran mu nak, yang memang ada benarnya."


Setelah suasana hening sekian waktu, tiba-tiba, umi Farhana teringat akan Lidya. Ia pun menanyakan soal gadis SMA itu.


"Dia itu, gebetannya Abi umi. Cuma, Abi kurang cepat bertindak seperti Sam. Dia itu hanya diam sambil mengawasi Lidya, memastikannya baik-baik saja."


"Sayang, mungkin Abigail sifatnya menurun dari kamu yang lemah lembut, dan menjaga perasaan."

__ADS_1


"Dan Abrisam sifatnya lebih menurun ke kamu. Karena semangatnya terlihat berkobar-kobar seperti kamu dulu saat masih muda." balas umi Farhana sambil tersenyum ke arah suaminya.


Si kembar berbinar bahagia melihat romantisme yang orang tuanya tunjukan. Mereka pun juga ingin melakukan hal itu kelak, pada pasangan masing-masing.


"Oh iya Bi, apa benar yang dikatakan Sam? Kamu.... menyukai Lidya?" tanya umi Farhana.


"Jangan hiraukan ucapan Sam yang ngawur umi."


"Aku ngga pernah ngawur. Sebaiknya kamu ceritakan hal yang mengganjal di hatimu pada Abi dan umi. Agar bisa mendapatkan restu, yang membuat jalan mu mendekatinya semakin mudah. Jangan hanya menggunakan dalih les privat untuk mendekatinya." cerocos Abrisam, namun justru di balas dengan tonjokan lengan oleh Abigail.


"Abi, benar apa yang dikatakan Sam?" tanya Farhana yang terlihat penasaran.


Baru saja, Abigail membuka mulutnya, namun Abrisam justru sudah mendahuluinya bicara. Abigail hanya bisa menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala. Karena Abrisam benar-benar kelewatan, tidak bisa mengerem mulutnya. Yang membuat Abigail malu.


Dan, lewat tingkahnya yang malu-malu, membuat kedua orang tuanya yakin, jika Abigail memang menaruh hati pada Lidya.


"Abi, umi juga sangat menyukai Lidya. Walaupun kami memang baru pertama kali bertemu, tapi umi bisa melihat kebaikannya, keberaniannya." ucap Farhana sambil tersenyum.


"Apa.... aku tidak salah dengar? Lidya kan baru kelas 2 SMA."


"Pernikahan itu, jika memang keduanya sudah saling mencintai, sebaiknya segera disegerakan. Jangan sampai timbul fitnah." tegas Husein.


Abigail kembali menundukkan kepalanya. Mencoba menyelami kembali perasaan yang sebenarnya pada Lidya. Apakah benar-benar mencintainya, atau hanya sekedar perasaan belas kasih pada sesama.


Dan berkali-kali, hatinya selalu meyakinkan, bahwa hanya Lidya yang mampu menggetarkan hati, dan membuat jiwanya bergejolak. Berada di samping Lidya membuat harinya kian berwarna.


"Ajaklah Lidya untuk semakin mengenali dan mendekat pada Tuhan nya Bi. Karena, cinta sejati itu, adalah cinta yang mampu membawa perubahan pada diri kita untuk senantiasa lebih dekat pada Rabb kita."


Abigail setuju sekali dengan perkataan uminya itu. Selama ini, saat memberi les pada Lidya, Abigail juga kerap kali menasehatinya.

__ADS_1


Hari hampir sore ketika Farhana menyuruh anak-anaknya pulang. Dengan berat hati, si kembar menyalami kedua orang tuanya lalu pulang.


Mendengar pintu terbuka, kedua orang suruhan oma yang sedang duduk di lantai kalang kabut. Keduanya segera mencari tempat persembunyian yang aman.


Lalu, setelah memastikan si kembar berjalan menyusuri lorong menuju lift, pengintai itu segera melaporkan pada Oma.


Dan, tentu saja, di sebuah kamar yang luas, Oma meluapkan amarahnya. Ia tak terima, jika kedua cucunya seharian menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tuanya, daripada dengannya, yang telah mengasuh mereka sejak bayi.


Abigail dan Abrisam melajukan mobilnya menuju arah pulang. Sesampainya di rumah, pintu sudah terbuka lebar, dan Oma sedang duduk di ruang tamu.


Seperti biasa keduanya menyapa hangat omanya. Namun, kali ini wajah omanya terlihat datar, dan cenderung tidak bersahabat. Membuat si kembar merasa tidak nyaman.


"Pergi kemana saja kalian berdua hari ini?" tanya oma tanpa basa-basi, yang membuat si kembar saling melempar pandang.


"Kami.... kerja Oma. Setiap hari kan kami selalu melakukan aktivitas yang sama."


"Serius?"


"Serius Oma."


"Lalu kenapa saat Oma ke rumah sakit dan ke kantor, tidak melihat kalian berdua?" sengaja Oma berbohong untuk memancing kedua cucunya.


Lagi-lagi si kembar beradu pandang dengan raut wajah mulai pias. Keduanya juga tampak khawatir karena melihat omanya yang mulai curiga.


Si kembar duduk di dekat omanya sambil memainkan jurus rayuan. Dan kali ini oma tetap diam saja, tidak seperti biasanya yang mudah luluh.


"Jangan kalian pikir, Oma tidak tahu tentang apa yang kalian lakukan di belakang Oma."


Seketika si kembar menelan saliva, karena tiba-tiba kerongkongannya terasa kering, mendengar ucapan Omanya.

__ADS_1


"Sudah berulang kali Oma bilang, kedua orang tua kalian sudah mati. MATI." Tekan Oma dengan suara yang tinggi. Bahkan ia sampai melempar koran yang ia baca tadi ke meja dengan keras. Membuat jantung si kembar hampir copot.


__ADS_2