
Setelah kepergian Rosa tak berselang lama, sebuah taksi lewat, dan lelaki itu langsung menghentikannya.
Menempuh perjalanan hampir 1 jam akhirnya ia tiba di rumah mewahnya.
"Abrisam, kamu sudah pulang nak? Kenapa ngga telepon oma, nanti kan bisa di jemput sopir." ucap wanita sepuh yang tampak masih cantik walaupun usianya sudah di atas 60 tahun, dan biasa di panggil dengan oma Sekar. Ia menyambut kepulangan cucunya dengan pelukan hangat.
"Sam ngga mau ngrepotin oma. Toh naik taksi juga bisa sampai rumah kan?" ucap Abrisam sambil mengurai pelukan dan kini menatap neneknya di iringi senyum hangat.
"Cepat mandi lalu kita makan malam bersama. Nenek sudah kangen kumpul bareng dengan cucu cucu nenek." ujar oma Sekar sambil terkekeh.
"Baiklah oma." Abrisam mengecup kening oma lalu bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai 2.
"Sam, kapan kamu pulang?"
"Eh, baru saja, kamu baru pulang Bi?" tanya Abrisam balik pada saudara kembarnya. Keduanya berdiri di antara kedua kamarnya yang saling berdampingan.
"Iya." sahut Abigail terkekeh. Sedangkan Abrisam menelisik penampilan saudara kembarnya itu.
"Kamu ke rumah sakit pakai celana pendek?" tanya Abrisam sambil mengernyitkan dahi.
"Buruan ke bawah, sudah di tunggu oma. Aku ganti baju dulu." balas Abigail yang berlalu masuk ke kamarnya.
Tak berselang lama, Abigail turun menghampiri Abrisam dan oma Sekar yang sudah duduk di meja makan.
"Ayo sayang, segera ambil makanan nya." titah oma Sekar pada kedua cucunya.
Tanpa pikir panjang, Abrisam dan Abigail langsung menyendok lasagna kesukaan mereka hingga terdengar denting sendok dan piring yang beradu.
"Hem, dasar kalian ini. Mentang-mentang kembar, makanan kesukaan pun juga sama." ujar oma Sekar sambil terkekeh.
"Ngga apa-apa sih oma, asal jangan mencintai satu cewek yang sama. Bahaya itu." timpal Abigail sambil terkekeh. Nenek dan saudara kembarnya juga langsung ikut terkekeh.
"Dasar dokter mesum." sahut Abrisam sambil menyuap lasagna ke mulutnya.
"Kamu juga CEO mesum." balas Abigail tak mau kalah.
Keduanya selalu bertingkah seperti itu, sehingga membuat oma nya geleng-geleng kepala.
"Hem, cepat habiskan makam kalian. Jangan bertingkah seperti anak kecil, kalian kan sudah dewasa."
"Baik oma." jawab keduanya kompak.
"Dan ingat, cari perempuan yang sederajat dengan kita." ucap oma dengan tegas.
"Ba..."
__ADS_1
Tiba-tiba keduanya tak jadi meneruskan perkataannya. Keduanya tak bisa berjanji pada oma nya soal itu.
Walaupun keduanya memang belum memiliki pacar, tapi mereka takut tak bisa menepati janji, karena urusan hati tak bisa di paksakan.
"Kenapa kalian diam? Apa kalian sudah memiliki pacar?" tanya oma dengan tatapan menyelidik ke arah kedua cucunya.
"Tidak oma." keduanya menggeleng lemah.
Setelah makan malam, keduanya berjalan beriringan menuju kamar.
"Aku mau tidur bareng kamu." ujar Abigail nyelonong masuk kamar kakaknya. Lalu ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang lebar, besar dan empuk tentunya.
"Kamu serius belum punya pacar?" tanya Abrisam yang juga menjatuhkan tubuhnya di samping sang adik. Abigail pun menggeleng lemah.
"Kamu?" Abigail menengok ke samping.
"Sama bi. Banyak cewek dan anak rekan bisnis yang sengaja mendekati ku, tapi entahlah. Aku sama sekali ngga tertarik." jawab Abrisam yang tengah menatap langit-langit kamar nya.
"Kenapa oma selalu mewanti-wanti kita untuk mencari pasangan yang sederajat dengan kita ya Sam. Aku seperti keberatan gitu. Nanti kalau aku punya pacar anak tukang siomay gimana? Apa oma akan membantai ku." balas Abigail sambil terkekeh.
"Bisa jadi itu. Kalau pacar ku pengangguran gimana? Di bantai juga dong aku." balas Abrisam, dan keduanya tertawa bersama.
"Sam, kenapa oma ngga pernah ngajak kita ke kuburan kedua orang tua kita ya. Walaupun hanya melihat batu nisannya saja, membuat hati ku bisa sedikit tenang dan lega."
"Jangan-jangan apa maksud mu?" potong Abigail cepat.
"Anak pungut."
"Hust... mulut mu di jaga, nanti kalau kedengaran oma, kita bisa di marahi."
"Itu kan hanya sekedar pendapat ku saja Bi."
Keduanya kembali diam sambil menatap langit langit kamar, hingga tiba-tiba rasa kantuk mulai menyerang, dan akhirnya mereka tertidur.
______
Sedangkan di waktu yang bersamaan, Rosa baru saja sampai rumah.
Ibunya yang tengah menggendong Zaidan di teras rumah, begitu terkejut kala melihat taksi yang berhenti di depan rumahnya.
"Rosa." pekik bu Susi ketika melihat siapa yang turun dari taksi. Berkali-kali ia mengucek matanya, takut hanya halusinasi nya saja, karena terlalu merindukan anaknya.
"Ibu, Zaidan." seru Rosa yang menghambur ke arah keduanya.
"Ro_Rosa, kamu kenapa pulang nak? Bukankah seharusnya pulang mu masih 2 tahun lagi?" ucap bu Susi dengan suara yang tercekat.
__ADS_1
Rosa mengeratkan pelukannya pada ibu dan anaknya.
"Alhamdulillah bu, ini semua berkat mukjizat Allah." balas Rosa sambil disertai isakan.
"Maksudnya apa?" tanya bu Susi lagi sambil mengurai pelukannya dan menatap Rosa.
"Ayo kita masuk rumah bu, kita cerita di dalam." ucap Rosa dengan bersemangat sambil memapah ibunya.
Sesampainya di ruang tamu, Rosa langsung mengulurkan tangan hendak memangku Zaidan.
Dengan tawa renyah Zaidan menyambut uluran tangan mamanya yang sebulan ini tidak menyentuhnya.
Rosa mengangkat tinggi Zaidan, yang membuat bayi kecil itu semakin terkekeh lucu. Tiba-tiba Rosa kembali merasakan nyeri di bagian buah dada nya.
Arghhh.....
Rosa mengerang kesakitan.
"Zaidan mimik asi dulu ya." ucap Rosa sambil membenarkan letak Zaidan yang kini di pangkuannya, lalu membuka kancing bajunya.
Antara lapar, haus dan kangen, Zaidan menyedot asi ibunya, sampai ia berkeringat.
Rosa yang melihat hal itu terkekeh geli. Perlahan ia menghapus keringat di wajah putra kecilnya.
Erghhh...
Rosa dan ibunya semakin terkekeh geli karena mendengar Zaidan yang bersendawa karena kekenyangan meminum asi.
Rasa nyeri yang tadi muncul seketika hilang bersamaan Zaidan yang sudah selesai minum asi.
"Alhamdulillah." ucap Rosa sambil tersenyum menatap Zaidan.
"Ros, katanya mau cerita." ucap ibunya mengingatkan.
"Eh iya bu. Hampir saja Rosa lupa, karena begitu kangen dengan Zaidan." balas Rosa sambil terkekeh.
Akhirnya Rosa menceritakan semua hal tentang pekerjaan dan majikannya yang baik hati pada ibunya.
Ibunya yang sejak tadi diam sambil menyimak baik-baik ucapan Rosa, juga mulai menitikkan air mata.
Ia sangat terharu sekaligus bersyukur ada orang yang begitu baik pada anaknya. Padahal selama ini ia tahu, jika banyak yang tidak suka dengan Rosa karena tidak secantik gadis lain.
"Alhamdulillah Ros, ternyata masih ada orang sebaik majikan mu, dan keluarga Lidya di dunia ini. Ibu sangat bersyukur. Semoga mereka semua selalu di lindungi Allah, dan di lancarkan rezekinya. Semoga suatu saat kita juga bisa membalas semua kebaikan mereka." ucap bu Susi dengan isakan tangis.
Keduanya lalu kembali saling berpelukan di liputi rasa bahagia.
__ADS_1