Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
90. Ke ujung dunia


__ADS_3

"Kalian tahu, kenapa aku kumpulkan disini?" tanya oma Sekar pada seluruh pekerjanya.


Namun tak ada satupun yang berani menjawab, meskipun semuanya sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu.


"Kenapa diam saja, hah!" sentak Oma Sekar, yang membuat mereka semakin menunduk.


Bagaimana hendak menjawab, jika tenggorokan mereka seakan tercekat. Suara mereka mendadak sulit keluar.


"Apa saja yang kalian kerjakan? Sehingga kedua cucu ku kabur, dan kalian tidak mengetahuinya?" tanya oma Sekar dengan nada yang meninggi.


"Percuma aku bayar mahal kalian, jika kerjanya tidak becyus seperti ini."


"Aku tidak mau tahu, kalian harus cari kedua cucuku, meskipun harus ke ujung dunia. Karena mereka lah nyawa hidupku saat ini." terang Oma Sekar.


Hening, tak ada jawaban, semua masih dalam posisi siaga seperti semula.


"Heh, kenapa diam saja. Kalian dengar kan perintah ku?" bentak nenek tua itu lagi.


"De_dengar ndoro." jawab mereka dengan gelagapan.


"Ya sudah, kalau begitu kerjakan sekarang. Sebelum mereka kabur jauh."


Para pekerja segera berhamburan keluar untuk melaksanakan tugas itu. Ada yang berlari ke arah pos satpam di rumah samping, barangkali melihat si kembar.


Ada juga yang bertanya pada tukang sayur yang biasa lewat daerah situ, dan masih banyak lagi upaya yang mereka lakukan untuk mengetahui keberadaan si kembar. Namun, hasilnya tetap saja nihil.


Sementara itu, di dalam kamar, Oma Sekar segera menelpon anak buahnya, untuk mengabarkan hilangnya kedua cucunya.


"Cepat temukan mereka. Aku berikan kalian waktu kurang dari 1x24 jam. Jika kalian sampai tidak bisa menemukan, kalian bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada anak istri kalian." ucap Oma Sekar dengan tegas.


Setelah mematikan teleponnya, ia langsung melempar handphonenya ke sembarang arah. Tidak peduli jika handphonenya akan rusak. Karena ia merasa bisa membeli handphone beserta counternya.


Untuk meluapkan amarahnya, Oma Sekar membanting benda apa saja yang berada di dekatnya. Mengacak-acak seluruh tempat tidurnya. Sehingga keadaan kamarnya saat ini seperti kapal pecah.


Ia terus menjerit histeris. Tak ada yang menolong untuk menenangkannya.


"Awas kamu Farhana. Kedatangan mu hanya merusak kebahagiaan dan ketentraman jiwaku saja. Aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup. Karena telah berani membangunkan singa tidur." desis Oma Sekar.

__ADS_1


Tak lama berselang, handphone Oma Sekar berbunyi. Bergegas ia mencari di antara tumpukan barang yang porak poranda.


"Sialann, dimana handphone ku berada?" gerutunya kesal.


Akhirnya ia pun menemukan handphonenya. Nama salah satu anak buahnya tertera di layar handphone. Bergegas ia mengangkat teleponnya.


"Hallo. Ada kabar apa sampai kamu menghubungiku?"


"Tentunya kabar baik bos." balas seseorang di ujung sana sambil terkekeh.


"Cepat katakan, atau aku akan murka." ancam Sekar, sehingga membuat tawa anak buahnya langsung berhenti seketika.


"Mereka ada di hotel bersama kedua orang tua mereka bos."


Terbit senyum sinis di wajah Oma Sekar. Ia sudah menduga akan hal itu.


"Tetap awasi mereka. Aku ingin tahu, apa yang akan mereka lakukan. Mampukah bertahan hidup tanpa ku."


"Baik bos."


Panggilan pun berakhir. Sekian detik berlalu, Oma Sekar kembali memainkan handphonenya sebentar, lalu ia anggap semua beres.


Sementara itu, di dalam kamar hotel. Setelah panjang lebar bercerita dengan kedua orang tuanya, tiba-tiba Abrisam teringat akan sidang Rosa. Ingin sekali rasanya menghadiri sidang itu.


Karena belum sempat membeli handphone, ia meminjam handphone uminya untuk menanyakan soal sidang itu.


'Assalamu'alaikum Rosa. Apa kabarnya? Bagaimana sidang nya? Kapan sidang kedua akan di gelar?'


Setelah mengetik sederet kalimat, ia meletakkan handphone uminya di tengah-tengah tempat mereka berbincang.


Dan, di tempat yang cukup jauh dari hotel, handphone Rosa berbunyi. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat nama umi Farhana yang mengirim pesan. Bergegas ia membuka.


"Umi Farhana perhatian sekali padaku, jauh berbeda dengan anaknya." gumam Rosa. Ia pun segera mengetik balasan.


'Wa'alaikumussalam umi. Alhamdulillah, kami semua baik-baik saja umi. Semoga umi sekeluarga juga baik-baik saja ya. Sidang pertama Alhamdulillah berjalan lancar. Untuk sidang keduanya akan di gelar besok pukul 9. Mohon doanya ya umi, semoga masalah ini cepat selesai.'


Pesan itu berhasil terkirim. Rosa kembali meletakkan handphonenya, lalu bermain dengan Zaidan. Bayi kecil itu memang menjadi teman paling asyik bagi Rosa. Bahkan, hanya mendengar celotehnya saja, sudah membuat Rosa tersenyum.

__ADS_1


Abrisam yang mendengar handphone uminya berbunyi, dan melihat nama Rosa tertera di layar, langsung meraih handphone itu.


Ia pun segera membaca isinya. Lelaki berwajah tampan itu seketika menepuk jidatnya, ketika Rosa memanggilnya dengan sebutan umi.


"Astaga, aku juga sih yang lupa. Tidak mencantumkan nama ku." gumamnya sambil terkekeh.


Semua memandang ke arah Abrisam yang tampak terkekeh sendiri saat membaca pesan dari Rosa.


"Sam, kamu ngga gila kan?" celetuk Abigail.


Abrisam memandang ke arah saudara kembarnya.


"Ya enggak lah. Aku masih waras tahu." ia pun menonjok lengan kembarannya seperti biasa.


Kedua orang tuanya yang melihat itu terkekeh.


Abrisam kembali memandangi layar handphone uminya, lalu memutuskan untuk tidak lagi membalas pesan dari Rosa. Sengaja besok ia akan memberi kejutan untuk pujaan hatinya.


Malam itu si kembar tidur dalam kamar hotel dengan kedua orang tuanya. Keduanya memutuskan besok pagi akan menghadiri sidang kedua wanita pujaan hati mereka. Sehingga keduanya tak sabar menunggu waktu pagi tiba.


Mereka pun segera tertidur dengan pulas. Karena merasakan kenyamanan dan ketenangan telah terbebas dari Oma. Padahal keduanya tak tahu, jika anak buah Oma Sekar tersebar dimana-mana. Dan siap melaporkan apapun perbuatan mereka pada bos nya.


Pagi pun tiba. Setelah sarapan, mereka berangkat bersama menuju kantor pengadilan. Umi Farhana dan Abi Husein pun ikut membersamai mereka.


Di depan hotel, mereka berdiri bersama sambil menunggu taksi online pesanan mereka. Tak lam kemudian, mobil berwarna biru berhenti di depan mereka. Bergegas mereka naik.


Sepanjang perjalanan, mereka terus bercerita. Membuat perjalanan yang jauh tidak terasa. Dan kini mereka sudah tiba di depan kantor pengadilan.


"Berapa pak tarifnya?"


"200 ribu mas."


Abrisam segera merogoh dompetnya hendak membayar. Mulutnya terbuka dan matanya membulat, melihat penghuni terakhir dompetnya. Yakni uang merah 2 lembar. Ia pun segera mengulurkan penghuni terakhir dompetnya pada sopir.


Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka keluar dari mobil taksi. Lalu berjalan menuju ruang sidang.


Saat memasuki pelataran kantor pengadilan, mereka melihat wanita pujaan hati mereka tengah bergerombol dengan keluarga dan pengacara.

__ADS_1


"Kita kesana yuk." ajak Abrisam dengan penuh semangat. Semua pun mengangguk, lalu menghampiri gerombolan yang di maksud.


Tawa yang tadi sempat terlukis di wajah Lidya dan Rosa seketika berhenti, menjadi tatapan tajam yang mengarah pada si kembar. Sehingga membuat keduanya salah tingkah.


__ADS_2