Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
70. Di kira pacar


__ADS_3

"Apa!" Lidya membulatkan matanya tak percaya.


Ia tak menyangka jika Abigail bicara seperti itu. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Dan ia belum berpikir sampai sejauh itu karena statusnya masih seorang pelajar.


Ia tak pernah menyangka, di antara lelaki yang mendekati nya dan selalu mengumbar kata cinta, justru ada yang mengajaknya menikah.


Keduanya saling beradu pandang cukup lama. Merasa tak tega melihat Lidya dengan wajah tegangnya, Abigail menarik sebuah senyum di wajahnya.


"Kakak hanya becanda, jangan serius seperti itu." kekeh Abigail.


"Kakak jahat. Nyebelin sekali." Lidya mengerucutkan bibirnya sambil memukul lengan Abigail.


"Tapi, aku mau menerima hukuman itu..."


Abigail tak kalah terkejutnya hingga membuatnya menginjak rem mendadak. Sehingga keduanya terhuyung ke depan, dan jidat Lidya sampai benjol karena terantuk kaca.


Arghhh.....


"Kenapa menginjak rem mendadak?" Lidya mengusap jidatnya.


"Apa kamu serius dengan yang kamu ucapkan tadi?" Abigail ikut membantu mengusap jidat sambil menatapnya serius.


Lidya terkekeh sebelum menjawab.


"Tentu saja, jika memang sudah tidak ada stok laki laki yang baik seperti kakak."


Abigail diam sesaat sambil mencerna ketika mendengar jawaban Lidya barusan. Sejujurnya ia ingin melonjak gembira, tapi takut di kira lebay. Karena meskipun sekedar candaan hatinya sangat bahagia. Ia berharap candaan itu bisa menjadi kenyataan.


"Maaf ya, kakak sudah buat kamu jadi terluka seperti ini."


"Ngga apa-apa. Kak, aku mau pulang seperti jam pulang sekolah. Aku takut di marahi mama ku. Kamu bisa turunkan aku di jalan, nanti aku jalan kemana dulu sambil menghabiskan waktu."


Tentu saja Abigail tidak tega menurunkan Lidya sendirian di pinggir jalan. Sama artinya dia bukan orang yang tak bertanggung jawab. Akhirnya ia mengajaknya ke rumah sakit. Karena pekerjaannya sudah menanti.

__ADS_1


Sejak keluar dari mobil, keduanya menjadi pusat perhatian. Seorang dokter tampan berjalan beriringan dengan gadis SMA yang cantik jelita.


Setiap karyawan rumah sakit yang berpapasan dengan mereka, langsung membungkukkan badannya sambil melempar senyum. Lidya semakin salah tingkah hingga langkahnya mulai memelan.


"Kenapa jalannya lambat? Apa kamu sakit?" Abigail yang semula berjalan, berhenti dan memperhatikan Lidya dengan serius. Lidya pun tersenyum sambil menggeleng.


"Kak, kenapa setiap berpapasan dengan karyawan rumah sakit, mereka selalu membungkukkan badannya dan tersenyum ke arah kita?"


"Itu namanya saling menghormati sesama karyawan. Wajar saja kan?" Lidya manggut-manggut mendengar penjelasan Abigail.


Mereka pun kembali melangkahkan kaki menuju ruang kerja Abigail.


Lidya terkejut ketika Abigail mengajak nya ke ruang direktur.


"Kak Abi, kita salah masuk." Lidya menarik tangan Abigail menjauh dari pintu.


"Ini ruang kerja ku Lid."


"Tapi ini ruang direktur. Bukankah kakak hanya dokter jaga?"


Karena sudah sangat lapar, Lidya segera duduk di sofa sambil makan nasi geprek yang tadi di belikan Abigail di pinggir jalan.


Sementara lelaki itu tengah sibuk mengerjakan setumpuk berkas. Lidya mulai bosan hingga akhirnya setelah makan, ia tertidur.


Sampai adzan dhuhur berkumandang, Abigail segera beranjak dari duduknya untuk mengambil air wudhu. Melihat Lidya yang tertidur, Abigail mengambil selimut yang ada di almari lalu menyelimutinya.


Sore hari Lidya baru terbangun dan melihat Abigail masih dalam posisi yang sama, mengerjakan berkas.


Dalam hati Lidya memuji Abigail yang terlihat tampan, pekerja keras, pintar dan baik hati. Bahkan di tengah-tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan waktunya untuk memberi les. Dalam hati Lidya mendoakan supaya Abigail mendapatkan jodoh wanita yang baik.


Lidya terkejut ketika melihat nasi box milik Abigail masih ada di meja. Ia bangkit berdiri dan mendekati Abigail sambil membawa nasi. Sekarang jarak keduanya sangat dekat, karena Lidya berdiri di samping Abigail.


"Dari tadi kok belum selesai sih kak, sampai lupa makan. Apa perlu aku suapi?" Perlahan Lidya membuka box nasi dan menyuap sesendok nasi ke mulut Abigail, yang membuat lelaki itu jadi panas dingin.

__ADS_1


"Hak, buka mulutnya." Lidya ikut membuka mulutnya.


'Kamu perhatian sekali dengan kakak Lid. Tapi sayangnya perhatian yang kamu tunjukkan ini adalah sebatas kakak dan adik. Bukan perhatian seorang pasangan. Apa kamu juga seperhatian ini dengan Rico? Ah, semoga saja tidak. Aku ngga rela kamu perhatian dengan bocah tengik yang hampir saja merusak kesucian mu. Aku janji akan menjaga mu dengan baik, sampai kamu menemukan lelaki yang tepat untukmu. Lidya, apakah kamu tahu? Dengan menunjukkan perhatian mu, itu membuat ku semakin mencintai mu. Namun aku sadar, jika cinta yang sejati adalah dengan melihat orang yang di cintai bahagia. Aku ngga berani mengutarakan rasa cinta ku padamu. Aku takut kamu menolak ku, karena umur kita yang terpaut jauh.'


"Kak, kok bengong sih? Aku capek berdiri tau." Lidya mengerucutkan bibirnya lalu hendak menurunkan sendoknya. Namun dengan cepat Abigail menahan pergelangan tangan Lidya. Ia menyantap sesendok nasi itu.


Lidya tersenyum, lalu menarik kursi yang ada di dekatnya dan duduk berhadapan dengan Abigail. Ia menyuapi Abigail dengan telaten.


Ceklek....


"Permisi dok." seorang perawat membuka pintu dan masuk ke ruangan dengan tiba-tiba. Membuat keduanya terkejut.


Abigail langsung menutup mulutnya tidak jadi melahap suapan yang sudah siap masuk ke mulutnya.


"Eh, ma_af dok. Sa_saya tidak tahu. Silahkan di lanjut lagi quality time nya." Perawat itu segera berbalik arah hendak pergi. Namun Abigail segera menahannya.


"Tidak apa-apa, kamu kesini saja sus. Laporan apa yang kamu bawa?"


Perawat itu mengangguk, lalu dengan ragu melangkah mendekati meja Abigail. Ia menyerahkan map yang harus di tandatangani saat itu juga.


Lidya yang memang tak pernah tahu soal pekerjaan, mencondongkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat berkas apa yang sedang di tandatangani Abigail.


Sambil menunggu, perawat itu mencuri pandang ke arah Lidya. Dalam hati ia memuji kecantikan Lidya.


'Hem, ternyata dokter Abi sering menolak dan bahkan tidak pernah respek dengan dokter dan perawat di rumah sakit ini, karena sudah memiliki pacar gadis SMA. Tepat sekali pilihannya, keduanya adalah pasangan yang serasi.' batin perawat itu.


"Ini sus, sudah saya tandatangani." Abigail mengulurkan beberapa lembar map tadi. Perawat itu segera menerimanya.


"Terima kasih dok. Silahkan di lanjut lagi quality time bareng pacarnya." perawat itu tersenyum.


"Pacar?" ulang Abigail dan Lidya bersamaan.


"Eh, kalau gitu saya permisi dulu ya dok." perawat itu segera berlalu pergi dan tak lupa menutup pintu nya. Agar tak ada lagi yang mengganggu direktur nya.

__ADS_1


Sementara Abigail dan Lidya saling melempar pandang lalu terkekeh.


"Maafkan karyawan ku ya Lid." Lidya mengangguk lalu kembali menyuapi Abigail.


__ADS_2