Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
51. Tangisan di kamar mandi


__ADS_3

"Iya sayang. Eh, maksudnya iya Ros."


Hati Rosa semakin berdebar ketika Abrisam memanggilnya dengan kata sayang. Bahkan wajahnya bersemu merah. Tapi sayangnya Abrisam kembali meralat ucapannya.


Kini, Abrisam telah selesai membersihkan diri lalu menggantikan Rosa menjaga bayinya. Keduanya bermain dan bercanda di atas ranjang tempat tidur yang lebar itu.


Walaupun Zaidan bukan anak kandungnya, tapi Abrisam sangat menyayanginya seperti anak sendiri. Padahal pertemuan keduanya sangat lah singkat. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa hatinya terdorong melakukan hal itu. Padahal selama ini, ia tak pernah sekalipun respect dengan orang orang di sekitarnya.


Sementara itu, Rosa yang berada di dalam kamar mandi, berusaha menghirup nafas dalam-dalam. Berusaha untuk menetralisir segala perasaan yang berkecamuk di hatinya.


Dulu ketika ia berpacaran dengan Rico, tak pernah ia merasakan di perlakukan dengan baik dan penuh kelembutan seperti halnya Abrisam memperlakukan dirinya dan anaknya.


Meskipun pertemuannya dengan Abrisam sangat sebentar, tapi Rosa bisa merasakan sebuah kenyamanan berada di dekatnya.


Daripada dengan Rico, yang selalu di hantui perasaan tidak tenang. Karena ia selalu mendesaknya untuk mengerjakan seluruh tugas-tugas sekolah nya, serta yang paling menakutkan adalah melakukan cocok tanam hingga lahirlah Zaidan.


Rosa menggelengkan kepalanya berulang kali, menghilangkan bayangan Rico dari pikirannya. Ia tak mau mengingat kejadian buruk itu lagi.


Tapi semakin ia berada di dekat Abrisam, membuat dirinya selalu membandingkan Abrisam dengan Rico. Kenangan buruk itu senantiasa hadir lagi.


Rosa pun menjerit, yang membuat Abrisam tersentak kaget. Bergegas ia menggendong Zaidan dan berlari menuju kamar mandi, lalu mengetuk pintu nya. Namun tak ada jawaban, yang terdengar justru hanya isak tangis.


"Ros, Rosa. Apa yang terjadi?" ucap Abrisam yang kini di liputi rasa was-was sambil mengetuk pintu. Tapi tetap tak ada jawaban.


Dengan gerak refleks ia membuka knop pintu, yang ternyata tidak di kunci. Akhirnya, ia mendorong pintu itu pelan.


Ia terkejut melihat Rosa yang duduk meringkuk di sudut kamar mandi sambil menelungkupkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu.


Ia melangkah mendekati nya, dan duduk di dekatnya.


"Rosa, ke_kenapa kamu menangis?" dengan ragu Abrisam bertanya, tapi Rosa tetap terisak dan tak menjawab.

__ADS_1


Akhirnya dengan ragu, ia merengkuh Rosa sambil mengusap pundaknya.


"Ceritakan masalah mu pada ku, siapa tahu aku bisa membantu mu."


Hati Rosa semakin nyaman ketika merasakan hangatnya pelukan Abrisam.


"Apa kamu menyesal menikah dengan ku?" celetuk Abrisam yang membuat Rosa langsung mendongakkan kepalanya, lalu menggeleng lemah. Wajahnya tetap terlihat cantik, walaupun air mata membanjiri pipinya.


"Lalu kenapa kamu menangis? Ayo kita duduk di sana sambil bercerita. Jangan kelamaan di kamar mandi, nanti kita bisa sakit." dengan penuh kelembutan Abrisam menghapus air mata di wajah Rosa.


Ia memperhatikan wajah cantik itu dengan seksama. Wajah yang tadi tersenyum manis dan memberikan kehangatan untuknya, kini berubah memilukan dengan di hiasi linangan air mata.


Rosa pun kini justru menatap Abrisam yang kini sedang menatapnya.


'Kamu menikahi ku hanya untuk menjaga martabat ku, tapi kenapa malah membuat ku merasa nyaman seperti ini?' batin Rosa.


'Aku menikahi mu hanya untuk menjaga martabat mu, tapi kenapa semakin kesini, aku semakin ingin melindungi mu dan selalu ingin berdekatan dengan mu?' batin Abrisam.


Suara rengekan Zaidan membuat keduanya tersadar dari pikiran yang melayang.


"Mungkin Zaidan kedinginan, ayo kita ke tempat tidur." ajak Abrisam sambil menarik tangan Rosa dan memapahnya menuju tempat tidur.


Abrisam segera menyodorkan air putih pada Rosa, yang segera di terima lalu di teguknya perlahan. Kini ketiganya sudah duduk di pinggir tempat tidur.


"Sekarang coba ceritakan pada ku, apa yang membuat mu menangis seperti tadi? Jika itu menyangkut soal aku, aku minta maaf. Tapi, jika itu menyangkut soal kehidupan mu, kamu bisa cerita ke aku. Aku janji tidak akan menceritakan kepada siapa pun. Percayalah pada ku." Abrisam menggenggam tangan Rosa dengan erat.


Rosa menggeleng lemah dan justru mengulurkan tangan ingin memangku Zaidan, tapi Abrisam segera menggeser Zaidan menjauh dari tangan Rosa.


"Maaf, tapi tenangkan lah hati mu dulu, jangan menggendong anak ketika kita sedang marah. Apalagi kamu seorang ibu, ikatan emosional mu sangat kuat dengan anak. Jangan sampai Zaidan juga merasakan kesedihan mu."


Setelah berkata seperti itu, Abrisam bangkit berdiri sambil menggendong Zaidan. Ia berusaha untuk membuat bayi kecil itu tertidur.

__ADS_1


Berjalan kesana kemari, menyanyikan lagu anak-anak sambil membelai lembut kepalanya. Hampir 1 jam ia seperti itu, tapi mata Zaidan masih terbuka sempurna.


Rosa yang melihat itu sekali lagi merasa tersentuh sekaligus kasian. Ia pun berjalan mendekati keduanya.


"Mungkin dia lapar, biar aku susui dulu."


Akhirnya Abrisam menyerah, ternyata merawat bayi sesudah itu, ia menyerahkan Zaidan pada Rosa.


Kini Rosa duduk di pinggir tempat tidur sambil menyusui Zaidan, sedangkan Abrisam duduk di sofa dekat jendela. Tidak ada pembicaraan di antaranya keduanya.


Abrisam mengecek handphonenya yang sejak tadi sama sekali belum ia sentuh. Sekian menit berlalu, Abrisam menggeliat mencoba untuk merilekskan tubuh. Tapi pandangannya tak sengaja menangkap Rosa yang masih asyik menyusui. Walaupun hanya melihat punggungnya saja sudah membuat otak Abrisam traveling.


Tak lama kemudian, Rosa membalikkan tubuhnya hendak menidurkan Zaidan di tempat tidur, lalu memberi kecupan hangat di keningnya. Setelah itu ia kembali duduk di tepi ranjang sambil mengusap pelan wajah Zaidan.


Rosa bingung, karena malam ini tidur sekamar dengan pria asing. Meskipun status nya sudah sah menjadi suami istri, tapi ia tetap takut Abrisam akan mendekati nya dan melakukan hal yang tidak ia inginkan. Jadi ia berusaha untuk menahan rasa ngantuk nya.


Sedangkan Abrisam, sesekali ia melirik Rosa yang terus mengusap wajah Zaidan. Entah kenapa hanya dengan melihatnya saja, membuat matanya tidak mengantuk sama sekali. Tiba-tiba ia teringat tentang Rosa yang menangis di kamar mandi tadi. Bergegas ia pun mendekatinya.


Rosa sudah memasang mode siaga, ketika sekilas melirik Abrisam yang kini berjalan mendekatinya.


"Apa kamu tidak mengantuk?"


Rosa menggeleng kuat, mencoba menyangkal hatinya, karena sebenarnya daya matanya hanya tinggal 5 watt.


"Kamu takut aku berbuat sesuatu pada mu?"


Sekali lagi Rosa menggeleng, walaupun sebenarnya sangat bertentangan dengan hatinya yang mengatakan ia benar-benar takut akan hal itu.


"Kalau begitu, kita bertukar cerita saja sambil duduk di sofa itu, agar tidak mengusik tidur Zaidan."


Rosa pun mengangguk, yang penting ia tidak tidur malam ini. Kini keduanya sudah duduk berhadapan dan Abrisam kembali menanyakan persoalan yang membuat Rosa menangis tadi.

__ADS_1


"Aku...."


__ADS_2