Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
76. Berdoa


__ADS_3

Bapaknya Rico segera mengangkat tubuh istrinya dan meletakkannya di kursi panjang yang ada di ruangan itu. Seorang polisi dengan tergopoh-gopoh datang membawa minyak kayu putih dan menyerahkan pada pak Rusman.


Lelaki itupun segera menerima dan membalur tubuh istrinya dengan minyak tersebut, setelahnya mendekatkan ke arah hidung.


Setelah sekian menit berlalu, Bu Rita mulai menggerakkan badannya pelan, matanya pun terlihat mulai mengerjap samar.


"Ibu, ibu sudah sadar?" tanya pak Rusman dan Rico bersamaan.


Mendengar suara Rico, seketika Bu Rita bangkit dari tidurnya, dan memandang tajam ke arah Rico.


"Rico, katakan semua ini tidak benar." ucapnya lantang.


Rico hanya menunduk tak mampu bersuara, yang membuat Bu Rita mulai terisak.


Polisi segera mengamankan Rico, dan pak Rusman segera menuntun istrinya masuk ke mobil.


Semua para narapidana memandang tajam ke arah Rico, ketika anak SMA itu mulai menjejakkan kakinya ke dalam sel tahanan.


Tatapan mereka pun saling beradu, yang membuat nyali Rico menciut. Ia pun duduk di pinggir sel sambil meringkuk.


"Hei, anak muda. Kesalahan apa yang kamu lakukan sehingga masuk penjara?" tanya seorang narapidana tanpa basa-basi.


Rico pun mengangkat wajahnya dan memandang ke arah narapidana yang memiliki wajah sangar, dan badannya penuh tato. Bahkan mukanya pun terlihat penuh codet, membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri karena takut.


"Hei, kamu bisu ya? Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?" ulang narapidana dengan lantang.


"A_aku, difitnah." jawab Rico dengan terbata, karena takut. Sementara semua narapidana, memandang kearahnya sambil menyunggingkan senyum sinis, dan tak lama kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Pasti itu hanya alasan klasik. Sekarang kamu kesini, pijitin badan ku. 15 tahun aku tinggal di sini, membuat badan ku sangat capek." ucap narapidana itu lagi.


"Itu bukan urusan ku." balas Rico mulai menunjukkan keberanian nya. Yang membuat para narapidana itu kembali tertawa.


"Bodoh sekali kamu anak muda. Akan menjadi urusan mu juga atas rasa capek yang aku rasakan. Karena kamu anak baru, jadi harus mau mengikuti perintah, untuk memijit badan ku. Jika kamu berani menolak....." narapidana itu menggerakkan tangannya di depan leher sambil menjulurkan lidahnya, sehingga membuat Rico menciut.


Kembali narapidana itu menggertak nya, sehingga mau tak mau, Rico mendekat ke arah sekumpulan narapidana dengan wajah yang sangar.

__ADS_1


"Kamu harus memijit badan kami sampai kami bisa tidur nyenyak."


Walaupun sangat kesal, Rico tak bisa berbuat banyak, selain menuruti perintah mereka. Ia pun segera memijit satu persatu narapidana sampai mereka bisa tidur.


Dan, malam itu, untuk pertama kalinya, Rico harus tidur di dalam dinginnya sel tahanan. Berkali-kali ia menguap, tapi ia tak bisa tidur karena serangan nyamuk.


"Huh, kenapa nasibku apes sekali." gerutu Rico sambil mengepalkan tinju.


Sementara itu, di dalam mobil, Bu Rita menangis sesenggukan, karena anaknya bernasib seperti itu.


"Pak, apa Rico bisa segera bebas? Kasian dia kalau harus mendekam di penjara."


"Bapak juga tidak tahu Bu. Bapak tidak menyangka Rico bisa berbuat seperti itu."


"Ibu masih ngga percaya. Pokoknya kita harus bebaskan Rico secepatnya."


_____


Sementara di tempat lain, Bu Susi merasa sangat lega melihat Rosa yang baru saja pulang. Bergegas ia pun menghampirinya sambil menggendong Zaidan.


"Alhamdulillah, Rosa tidak apa-apa bu. Kalau begitu Rosa mandi dulu ya, lalu cerita dengan ibu."


"Iya nak, mandilah dulu agar badan mu segar dan capeknya hilang." Bu Susi membimbing Rosa masuk rumah.


Air dingin yang mengaliri tubuh Rosa, membuatnya merasa jauh lebih segar. Penat yang ia rasa seakan hilang. Setelah puas mandi, barulah ia melaksanakan sholat.


Rosa segera memangku Zaidan sambil memberinya asi. Si kecil itu pun langsung melahapnya, sampai tak lama kemudian, ia tertidur.


Sambil memangku Zaidan, Rosa mulai menceritakan serangkaian kejadian yang ia lewati hari ini.


Bu Susi membulatkan matanya tak percaya, dengan keberanian yang di miliki oleh Rosa dan Lidya dalam melumpuhkan Rico.


"Alhamdulillah, ibu bersyukur sekali Ros, akhirnya anak itu mendekam di penjara juga. Ibu juga sangat bangga memiliki anak seperti mu, yang sangat pintar dan pemberani."


"Jika tidak ada Lidya yang menguatkan Rosa, mungkin sampai sekarang Rico masih bebas berkeliaran menikmati kebebasannya Bu."

__ADS_1


"Iya, kamu benar Rosa. Semoga ia di hukum seberat-beratnya. Ia harus merasakan pahitnya penderitaan, seperti kita melewati hari-hari yang suram dulu karena masalah itu."


"Iya Bu. Semua perbuatan pasti ada balasannya. Dan Rico pun juga harus mendapatkan balasannya, tidak hanya di akhirat saja, tapi di dunia pun, ia harus merasakan nya." ucap Rosa dengan sorot mata tegas, sambil mengingat masa kelamnya dulu.


_____


Malam harinya, Abrisam terbangun dari tidurnya, karena ia memang tak bisa tertidur pulas. Dengan langkah mengendap-endap, ia memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu, agar tidak mengganggu Abigail yang tengah tertidur pulas.


Ia menggelar sajadah di lantai, dan melaksanakan sholat tahajud 2 rekaat. Hal yang memang selama ini tak pernah ia lakukan. Ia pun mengadukan permasalahan hatinya pada Sang pemilik kehidupan.


"Wahai Robb ku, dia adalah gadis biasa yang dituntut agar tetap kuat demi ibu dan anaknya. Kehadirannya dalam hidupku membuat hidup ku terasa lebih berwarna.


Dan yang lebih penting, berkat dia, hamba bisa bertemu dengan kedua orang tua hamba yang sudah lama berpisah.


Dan, kehadirannya dalam hidupku bagaikan pelita di tengah kegelapan. Karena ia telah menunjukkan jalan agar hamba bisa dekat dengan-Mu.


Hamba tidak tahu bagaimana jadinya, jika tidak mengenalnya dan tidak mengenal-Mu. Bisa saja sampai saat ini, hamba senantiasa hidup dalam kesesatan. Terus menerus mengejar dunia, tanpa memikirkan negeri akhirat.


Ya Allah ya Robb ku, pernikahan yang awalnya hanya ingin menjaga maru'ah nya, nyatanya membuat ku jatuh hati kepadanya.


Jika, dia adalah jodoh ku, maka dekatkanlah kami dengan cara yang baik. Namun, jika Rosa bukan jodohku, maka putuskan lah kami dengan cara terbaikmu."


Setelah mengutarakan kegundahan hatinya pada Robb nya, Abrisam pun kembali merebahkan diri di tempat tidur samping Abigail. Tak lama kemudian, ia sudah tertidur pulas.


Tak berselang lama, Abigail bangun. Bergegas ia ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Seperti halnya Abrisam, Abigail pun mengutarakan keinginan hatinya.


"Ya Allah, Alhamdulillah atas segala limpahan kebahagiaan yang Engkau beri pada hamba. Bisa bertemu dengan kedua orang tua kami yang sudah lama terpisah, membuat hati hamba sangat bahagia.


Tak hanya itu saja, hamba juga sangat bahagia, karena Lidya selamat dan berhasil membekuk penjahat itu.


Sungguh hamba tak bisa memaafkan diri hamba, bila sesuatu terjadi pada Lidya.


Ya Allah, sejak lama aku menaruh hati padanya. Jika ia memang ditakdirkan menjadi jodoh ku, maka dekatkanlah kami dengan cara yang baik. Dan jika ia tidak ditakdirkan menjadi jodoh ku, maka hilangkan segala debar rasa di hati ini."

__ADS_1


__ADS_2