Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
111. Rahasia


__ADS_3

Abigail segera kembali menghampiri keluarganya yang sedang mengerumuni Oma Sekar. Tak lama kemudian, Lidya dan Rosa masuk ke ruangan.


"Kalian sudah kembali? Bagaimana, apa orang tua kalian akan kesini untuk menjemput?" tanya Farhana dengan serius.


"Mereka sedang dalam perjalanan menuju kemari umi."


Keluarga Husein manggut-manggut mendengar penjelasan mereka.


"Oh iya. Kami ingin tahu apa yang terjadi pada kalian selama beberapa hari ini. Bukankah tadi kalian hendak membicarakan hal itu." desak Farhana yang masih penasaran.


"Maaf umi. Tapi kami sudah lupa." Rosa menundukkan kepalanya.


Abigail yang sudah tahu kejadian yang sebenarnya, berpura-pura tidak tahu tentang apa yang mereka bicarakan di luar tadi.


Bahkan sengaja memberikan waktu bagi keduanya untuk istirahat, agar terhindar dari pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Sebaiknya, sambil menunggu kedua orang tuanya datang, ijinkan mereka untuk istirahat dulu umi."


"Betul kata Abi umi. Biarkan mereka istirahat dulu." imbuh Sam.


"Ya sudah, sebaiknya, kalian tidur dulu di tempat tidur tadi. Sambil menunggu orang tua kalian datang." ucap Farhana kemudian.


Husein menatap penuh selidik pada anaknya. Terlebih Abigail, seakan ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


Tanpa mereka sadari, sebenarnya Oma Sekar tidak bisa tidur lagi. Ia mendengarkan semua pembicaraan itu.


'Kenapa kedua gadis itu tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?' batinnya penuh tanda tanya.


"Assalamu'alaikum." suara salam yang diiringi dengan terbukanya pintu ruangan VVIP khusus keluarga Oma Sekar.


"Wa'alaikumussalam." balas mereka, sambil menoleh ke arah pintu.


Pandangan mereka saling bertemu. Lalu pandangan orang tua Lidya dan Rosa tertuju pada sosok yang terbaring di atas brankar.


Untuk memastikan yang terbaring bukanlah anaknya, mereka pun mendekatinya. Mereka menghirup nafas lega. Ternyata dugaannya salah.


"Maaf, semuanya. Tadi istri saya katanya mendapat telepon dari Lidya. Katanya ia berada disini bersama Rosa. Lalu, dimana keduanya? Apa mungkin istri saya tengah menghalu, karena tidak bertemu dengan putri semata wayangnya selama beberapa hari." ucap pak Citro. Ia merasa tak nyaman, karena situasi tegang yang terjadi.

__ADS_1


"Istri bapak tidak salah. Lidya dan Rosa memang ada disini. Mereka sedang tidur di sana." Husein menunjuk tempat tidur untuk keluarga.


Kedua orang tua Lidya dan Rosa mengikuti arah telunjuk Husein, yang mengarah pada sebuah sekat berwarna gold.


"Sebaiknya biarkan mereka istirahat dulu pak. Karena keduanya terlihat lelah. Apalagi ini baru jam 3 dini bari." saran Husein.


"Baik pak. Kami hanya ingin melihat wajah mereka. Barulah kita bisa bernafas lega."


"Iya, silahkan. Langsung masuk saja."


Sambil berjalan menuju tempat yang dimaksud, mereka mengedarkan pandangan menyapu setiap sudut ruangan.


Seperti halnya anaknya, mereka pun juga berdecak kagum dengan ruangan itu. Yang tampak luas, mewah, dan tentu saja, perlengkapan yang ada terlihat mahal.


'Berapa tarif sewa perharinya?' batin ibunya Lidya.


'Kalau dibandingkan dengan ruangan ini. Rumah ku kalah jauh." batin ibunya Rosa.


Ketika menyingkap tirai pembatas, mereka melihat anak-anaknya yang tengah tertidur pulas.


Mereka semakin mendekat ke arah anak-anaknya. Lalu membelai wajahnya. Beruntung, wajah yang tadi sangat pucat, sedikit tersamarkan, karena telah menghabiskan banyak makanan.


Sedangkan keluarga Husein yang masih mengerubungi Oma Sekar, juga memejamkan matanya, kecuali Farhana. Wanita itu, tidak bisa tidur. Takut jika mertuanya membutuhkan sesuatu, dan tidak ada yang tahu.


Oma Sekar, membuka sedikit matanya melihat keadaan sekitar, yang terasa hening. Dan, sekilas menangkap Farhana yang masih terjaga. Lalu ia kembali menutup matanya, pura-pura tidur.


Oma Sekar semakin heran, kenapa orang yang dibencinya sejak dulu, justru tetap setia menunggunya. Hingga rela terjaga, di saat yang lain tertidur pulas.


_______


Pagi mulai menyapa. Keluarga Husein sejak subuh, tak bisa tidur lagi. Mereka tetap dalam posisi yang sama, mengelilingi Oma Sekar.


Wanita itu kembali membuka mata. Namun hanya diam saja. Suasana tetap hening. Dan justru terlihat tegang.


Kedua orang tua Lidya dan Rosa juga mulai bangun. Mereka merasa aneh, melihat keluarga yang ada di depan mata mereka, hanya diam saja. Namun, untuk bertanya juga sungkan.


Melihat Lidya dan Rosa yang menggeliat bersamaan, membuat pandangan mereka teralihkan. Bergegas mendekati keduanya.

__ADS_1


Lidya dan Rosa sontak kaget, hingga terduduk.


"Mama, papa." seru Lidya, lalu menghambur ke pelukan orang tuanya.


"Zaidan, ibu." seru Rosa. Ia pun memeluk anak dan ibunya.


"Apa yang terjadi dengan mu sayang? Kamu serius ngga apa-apa?" Bu Cici menangkup wajah Lidya, sambil memperhatikannya dengan serius. Lidya tersenyum lalu menggeleng.


"Alhamdulillah, Lidya tidak apa-apa ma."


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Bu Cici kembali bertanya.


"Tidak ada apa-apa ma. Maaf ya sudah membuat mama dan papa khawatir." Lidya tetap tak mau berterus-terang.


"Kamu, baik-baik saja kan Ros? Ibu sangat khawatir padamu. Hanya kalian berdua saja yang ibu miliki di dunia ini. Jangan pernah lagi meninggalkan ibu dan Zaidan dengan cara seperti ini. Kalau ada masalah sekecil apapun, cerita lah ke ibu."


Rosa tersenyum ke arah ibunya. Ia menggenggam erat tangan ibunya.


"Ibu, maaf ya Rosa sudah buat ibu khawatir. Doakan saja, semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Sampai kapan pun, Rosa tak pernah merasa punya masalah dengan ibu. Karena ibu adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Rosa."


"Terima kasih nak." Bu Susi kembali memeluk Rosa.


"Oh iya, pasti ibu kecapekan menggendong Zaidan terus. Sini Rosa gantiin."


Bu Susi melepas kain jarik yang di pakai untuk menggendong, dan menyerahkan Zaidan pada Rosa.


Beberapa hari ibu muda dan bayinya tidak bertemu. Dan saat itu keduanya tengah meluapkan perasaan masing-masing. Rosa menghujani wajah putranya dengan kecupan.


Suasana haru meliputi mereka. Hingga tak sadar, menitikkan air mata.


Keluarga Husein menatap mereka, penuh dengan perasaan haru. Bahkan Oma Sekar juga melihat hal itu. Hatinya bagai teriris. Ia menyesal telah memisahkan mereka. Namun, untuk meminta maaf, ia enggan.


Suara celoteh Zaidan membuat Farhana teringat masa lalunya. Yang tak pernah mendengar suara khas bayi seperti itu.


Sedangkan Oma Sekar yang mendengar suara Zaidan, ingin sekali memeluk bayi itu. Namun, lagi-lagi. Ia merasa gengsi.


Di tengah suasana yang mengharu biru itu, seorang perawat datang, mendorong meja yang berisi makanan untuk pasien.

__ADS_1


"Permisi, ini sarapan beliau." ucap perawat itu sambil meletakkan satu nampan makanan, di nakas.


Setelah perawat itu pergi. Husein mengambil makanan untuk mamanya. Ia berniat menyuapinya. Karena tak tega jika mamanya harus menyuap makanan sendiri, sementara anak dan cucunya tengah mengelilinginya.


__ADS_2