
"Rosa." tegur Abrisam.
"Iya mas." Rosa mendongakkan kepalanya menatap Abrisam.
Abrisam memberanikan diri menggenggam tangan Rosa.
"Terima kasih telah menjadi istri ku selama seminggu ini. Jika Tuhan mengijinkan, semoga kamu bisa menjadi istri ku untuk selamanya."
"Kamu ngga sedang bercanda kan mas?" Rosa sedikit menyunggingkan senyum mencemooh sambil menatap Abrisam.
"Apa aku terlihat bercanda?" kata Abrisam dengan wajah yang serius. Sehingga Rosa langsung mengubah wajahnya dengan mode serius juga.
"Mungkin pernikahan kita adalah pernikahan singkat sepanjang sejarah peradaban manusia. Namun mampu membuat hati ku bergetar setiap berada di dekat mu."
"Tapi..." Rosa bingung hendak menjawab apa atas setiap bait kata yang Abrisam ucapkan, sehingga lelaki itu langsung memotong ucapan nya.
"Kedua orang tua ku terlihat senang melihat kamu lah menantunya. Aku tak ingin menyakiti hati kedua orang tua ku. Lalu apa yang membuat mu masih meragukan aku? Apa karena bayangan masa lalu mu yang masih memenuhi ruang kepala mu? Apakah semua lelaki bersikap sama seperti mantan mu? Apa kamu tak bisa menilai Abi ku yang sangat baik dan penuh kelembutan dengan umi ku? Mereka kedua orang tua ku, mereka panutan ku. Meskipun aku juga masih fakir ilmu, tapi aku ingin terus berusaha menjadi imam yang baik untuk mu. Seperti Abi ku menjadi imam terbaik bagi umi."
Rosa diam sekian detik memikirkan ucapan Abrisam. Ia tak ingin terlalu terburu-buru dalam memilih pasangan. Ia hanya ingin mengikuti alur yang sudah di tetapkan oleh Tuhan untuknya.
"Kita bisa ketinggalan pesawat mas, mari keluar." ucap Rosa yang sengaja ingin menghindar, lalu dengan cepat menyeret kopernya keluar.
Abrisam mendengus dengan kesal menatap Rosa yang berlalu pergi. Rangkaian kata-kata yang sudah ia ucapkan sejak tadi menguap tak berarti di hadapan Rosa. Ia pun segera menyeret kopernya keluar.
Mereka semua telah duduk di ruang tamu menunggunya.
"Duduk di sini dulu Sam." pinta umi Farhana. Abrisam pun mengangguk dan duduk di dekat Rosa.
Umi Farhana mengangkat 4 paper bag oleh oleh berupa set gamis untuk Rosa, dan kurta untuk Abrisam dan Abigail serta si kecil Zaidan.
Rosa dan Abrisam mengucapkan terima kasih atas pemberian umi Farhana itu. Lalu mereka segera masuk mobil.
Sepanjang perjalanan, mereka kembali bercengkrama sehingga membuat perjalanan yang jauh tidak terasa. Akhirnya mereka pun sampai di bandara.
__ADS_1
Abrisam dan Abi Husein berjalan beriringan membawa koper mereka. Sedangkan Rosa menggendong Zaidan dan berjalan beriringan dengan umi Farhana.
"Semoga selamat sampai rumah ya nak. Sam, jaga keluarga kecil mu baik baik. Semoga kalian selalu sakinah mawadah dan warohmah. Sampaikan salam sayang dari umi untuk Abigail. In shaa Allah umi dan Abi akan menyusul ke indo secepatnya." pesan Farhana dan Abrisam menyimak baik baik.
Sementara Rosa tertunduk mendengar ucapan mantan majikan nya itu. Ia takut jika suatu saat pernikahan yang hanya siri itu akan di ketahui olehnya.
"Sendiko dawuh umi. Eh maksudnya, baik umi, segala perintah dan nasehat umi akan Sam lakukan dengan sebaik-baiknya." jawab Abrisam sambil nyengir kuda. Rosa yang berada di sampingnya langsung menyenggol lengannya.
"Jangan seperti itu sama orang tua." bisiknya
Kedua orang tuanya sedikit terkekeh karena Abrisam yang selalu saja cengengesan.
"Hem, ternyata umur itu tak menjamin kedewasaan seseorang. Nyatanya Rosa yang umurnya lebih muda bisa bersikap lebih dewasa daripada kamu Sam." Abi Husein menggelengkan kepalanya. Sedangkan Abrisam merasa sedikit tak terima dengan ucapan abinya yang menganggap dirinya tua.
Setelah percekcokan itu terjadi beberapa saat, Abrisam dan Rosa segera menyalami dan berpelukan dengan kedua orang tuanya, karena sebentar lagi, pesawat akan segera take off.
"Assalamualaikum Abi umi." salam mereka mengakhiri perjumpaan itu.
"Wa'alaikumussalam nak." balas kedua orang tuanya.
Lambaian tangan kedua belak pihak mewakili bahwa mereka akan segera kembali berpisah.
Umi Farhana seketika menitikkan air mata haru melihat anaknya yang telah memasuki pesawat. Ia tak menyangka jika takdir mempertemukan nya dengan anaknya yang telah memiliki keluarga. Padahal dulu ketika terpisah ia masih bayi merah.
Abi Husein merengkuh dan memeluk istrinya, sehingga membuat ia semakin tersedu.
"Menangis lah di pelukan ku sayang. Keluarkan lah seluruh air mata mu. Karena aku yakin jika kamu saat ini sedang menangis terharu menjalani skenario Robb kita yang indah ini."
Umi Farhana tidak mampu berkata apa apa, selain menganggukkan kepalanya. Karena memang benar, ia tengah bahagia dan terharu dengan skenario yang Tuhan tampakkan padanya.
Setelah pesawat take off dan tangisan Farhana mulai reda, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Sedangkan di dalam pesawat, keduanya segera duduk di kursi yang sudah di tentukan. Seperti dulu, Abrisam mempersilahkan Rosa duduk di dekat jendela.
__ADS_1
Keduanya memanjatkan doa sebelum pesawat benar benar take off. Setelah itu mereka saling terdiam sambil pandangan nya mengawasi Zaidan yang bergerak sesuka hati dalam pangkuan Rosa. Keduanya langsung terbahak karena Zaidan terkejut dan menangis ketika pesawat tiba-tiba sudah melesat tinggi.
"Ya Allah, orang tua macam apa aku? Anaknya nangis malah ditertawakan." kekeh Rosa seorang diri.
"Biasanya kalau orang bahagia itu, pasti banyak tertawa nya. Berbeda dengan orang yang sedang sedih, pasti banyak murung dan cemberut." timpal Abrisam. Rosa menoleh ke arahnya sebentar lalu kembali melihat Zaidan.
Perjalanan panjang kembali mereka lalui dengan saling terdiam dengan segala pikiran yang berkecamuk. Hingga akhirnya mereka lelah dan tertidur.
Di saat jam makan siang, Abrisam lebih dulu terbangun. Ia segera berwudhu untuk menunaikan sholat dhuhur terlebih dahulu, baru kemudian menyantap makanan nya.
Sengaja ia tak membangunkan Rosa yang masih tertidur pulas. Bahkan ia justru sangat iseng dengan mengambil banyak foto Rosa dan Zaidan yang tengah berpelukan.
Setelah puas mengambil gambar Rosa, ia membangunkannya untuk melaksanakan sholat.
Rosa menitipkan Zaidan pada Abrisam ketika hendak wudhu.
Setelah selesai sholat, Rosa segera menyantap makanan nya. Sambil mengunyah makan, Abrisam mengajaknya bercerita.
Abrisam banyak memberikan masukan tentang marketing dalam usaha yang baru di rintis Rosa. Wanita itu pun menganggukkan kepala nya sambil menyimak baik-baik ucapan Abrisam.
Tanpa terasa, karena asyiknya bercerita, pesawat akhirnya landing. Bergegas keduanya bersiap siap.
Abrisam mempersilahkan Rosa keluar dari pesawat lebih dulu, baru ia mengikuti di belakangnya.
Keduanya segera berjalan menuju tempat penjemputan. Terlihat Abigail sudah melambaikan tangannya ke arah mereka. Sehingga keduanya mempercepat langkah.
"Gimana kabarnya brow?" ucap mereka serempak sambil berpelukan lalu terkekeh bersama.
"Keliatan nya semakin baik saja kabar mu?" tebak Abigail yang melihat saudara kembarnya terlihat semringah.
"Dan kabar mu pasti buruk." tebak Abrisam yang melihat Abigail sedikit murung.
Rosa hanya menganggukkan kepalanya sambil menarik senyum hangat untuk membalas tatapan Abigail.
__ADS_1
Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju mobil terparkir.