Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
27. Di rumah sakit


__ADS_3

"Kanker payu dara stadium 4 Ros."


Deg!


Seakan jantung Rosa berhenti berdetak, mendengar penyakit yang di alami oleh majikannya.


Farhana lalu menceritakan penyakit nya pada Rosa dengan jelas. Rosa pun menjadi pendengar yang baik bagi majikannya.


Majikan wanitanya memiliki penyakit yang mematikan, namun suaminya tetap mencintainya. Membuat Rosa semakin iri sekaligus terharu. Masih ada lelaki yang mencintai seorang wanita dengan begitu tulus, padahal memiliki penyakit yang mematikan.


Rosa pun berharap, suatu saat ada lelaki yang mencintai nya dengan tulus, meskipun ia sudah tak lagi perawan, bahkan memiliki seorang anak.


"Rosa yakin, jika umi Farhana selalu bersemangat, pasti akan mampu melawan penyakitnya, walaupun sudah stadium 4 sekalipun." ucap Rosa dengan penuh senyum, ia menyemangati majikannya, sebagaimana ia menyemangati diri nya sendiri.


______


Malam pun tiba, setelah Rosa menyelesaikan pekerjaannya, ia masuk kamar dan merebahkan diri di pembaringan.


Tiba-tiba ia merasakan nyeri di bagian dadanya. Sudah beberapa hari, sejak ia di tempat agensi sampai hari ini, dadanya selalu nyeri.


Rosa sadar jika nyeri itu akibat asi yang tak lagi di minum oleh Zaidan. Bergegas ia memompa ASI nya. Dan cara itu berhasil menghilangkan rasa nyerinya.


Muncul kerinduan yang mendalam pada bayi tampannya itu, kala melihat segelas asi yang berhasil ia keluarkan.


Biasanya Zaidan akan kekenyangan setelah meminum ASI-nya sampai ia ketiduran, atau kadang bersendawa terlebih dahulu.


Tapi, sekarang, Rosa justru harus membuang ASI-nya.


"Maafkan mama sayang, terpaksa melakukan ini." gumam Rosa ketika membuang ASI-nya lewat jendela.


Rosa pun sampai menitikkan air mata kala melakukan hal itu. Bergegas ia kembali melompat ke pembaringan, dan menelpon ibunya.


Sambungan langsung terhubung, dan kini di layar handphonenya terlihat jelas wajah ibunya dan Zaidan. Dua orang yang sangat di cintainya saat ini.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum bu. Assalamu'alaikum Zaidan anak sholih mama." sapa Rosa dengan senyum mengembang dan melambaikan tangan.


"Wa'alaikumussalam mama." balas ibunya sambil menggerakkan tangan Zaidan ke arah handphone.


Zaidan langsung terkekeh ketika pertama kalinya menatap layar handphone. Mungkin ia merasa senang bisa melihat gambar mamanya di handphone.


Sesaat tak ada pembicaraan di antara mereka, selain hanya menatap, untuk meluapkan rasa kangen yang membuncah, padahal belum ada sebulan mereka tinggal terpisah.


"Bagaimana keadaan mu di sana Ros? Kapan sampainya? Apa sekarang kamu sudah tinggal dengan majikan mu? Apakah orangnya baik?" ibunya memberondong dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, membuat Rosa terkekeh.


"Ibu, alhamdulillah siang tadi Rosa sudah sampai, dan langsung di ajak ke rumah majikan. Kesan awal bertemu mereka, menurut ku mereka adalah orang yang baik. Semoga seterusnya mereka baik pada Rosa bu."


"Alhamdulillah, syukurlah, ibu lega sekaligus senang mendengarnya." ucap ibu sambil mengurut dadanya.


Setelah berbincang-bincang sekian menit, tiba-tiba Zaidan mulai merengek.


"Ros, sudah dulu ya, Zaidan merengek, mungkin ngantuk. Kamu hati-hati ya di sana." ucap ibunya sambil menenangkan Zaidan.


Rosa tetap melihat ibunya yang sedang menimang nimang Zaidan. Setelah puas, ia pun mematikan sambungan teleponnya.


______


Pekerjaan nya tergolong ringan, hanya membersihkan rumah, memasak, dan setelah selesai, ia menemani Farhana di kamarnya.


Pagi itu ada jadwal cek up untuk Farhana. Karena suaminya pagi itu ada meeting, Rosa di suruh untuk menemani majikannya itu.


Rosa pun langsung mengangguk hormat, dan bergegas menyiapkan segala sesuatunya. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri lagi.


Ia teringat, jika pagi tadi belum memompa ASI nya, sehingga membuatnya merasakan nyeri hebat. Untuk memompa ASI nya itu tidak mungkin, karena taxi yang di pesan sudah terparkir di depan rumah. Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya dan bergegas membantu Farhana berjalan.


Menempuh perjalanan hampir 1 jam, akhirnya mereka tiba di rumah sakit King Faisal Specialist Hospital and Research Centre.


Setelah sampai, Rosa segera turun dari taksi. Ia tertegun melihat rumah sakit yang sangat besar dan tinggi menjulang itu.

__ADS_1


"Rosa." panggil umi Farhana, yang membuat Rosa tersadar dari lamunannya. Bergegas ia membukakan pintu dan membantu umi Farhana turun dari taksi.


Dengan hati-hati, Rosa mendorong kursi roda yang di naiki Farhana menuju tempat pendaftaran.


Lagi-lagi Rosa merasa takjub melihat design interior rumah sakit yang sangat mewah itu.


'Ya Allah, ini rumah sakit apa hotel? Bagus banget.' batin Rosa.


Beruntung sekali, Abi Husein telah mendaftarkan istrinya terlebih dahulu, sehingga mereka langsung menuju ke poli penyakit dalam.


Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter memutuskan untuk kembali melakukan kemoterapi. Dan Farhana mengangguk setuju.


Kini, Farhana di bawa ke kamar pasien untuk beristirahat terlebih dahulu, sambil menunggu team dokter menyiapkan segala peralatan nya.


"Semoga umi Farhana cepat sembuh ya." ucap Rosa dengan tulus. Bahkan ia sambil menggenggam erat tangan Farhana.


Hubungan keduanya memang baru terjalin, tapi sudah sangat akrab. Rosa seperti melihat sosok ibunya dalam diri Farhana.


Sedangkan Farhana yang melihat Rosa, seperti melihat anaknya, yang kini tidak tahu ada di mana, masih hidup atau kah sudah meninggal. Mengingat masa lalunya, Farhana kembali menitikkan air mata.


"Umi Farhana kenapa menangis?" tanya Rosa dengan lembut. Ia melihat air mata yang jatuh membasahi cadar majikannya. Farhana pun hanya menggeleng lemah.


"Umi, Rosa di bayar untuk melayani umi dan abi Husein dengan setulus hati. Jika bercerita bisa membuat hati umi lega, kenapa harus di tahan? Jangan sampai menyembunyikan masalah, yang bisa membuat kesehatan umi jadi menurun." tutur Rosa panjang lebar, yang membuat umi Farhana justru terkekeh.


Meskipun Rosa masih remaja, tapi pemikiran nya sudah seperti orang dewasa. Yang membuat umi Farhana salut padanya.


"Kenapa umi justru tertawa? Kan Rosa cuma sekedar menasehati umi." tanya Rosa dengan polosnya.


Baru sekali itu Rosa melihat majikan nya tertawa. Biasanya ia hanya tersenyum simpul di balik cadarnya.


"Bukankah umur mu masih kecil? kenapa bisa menasehati umi sebaik itu."


"Rosa bersyukur bisa mendapatkan majikan yang baik seperti umi Farhana. Makanya Rosa harus membalas kebaikan umi Farhana dengan semaksimal mungkin. Dulu Rosa sempat takut, dan bahkan ibu juga menakuti Rosa jika mendapat majikan yang buruk. Alhamdulillah, hal itu tidak terjadi." jawaban Rosa itu semakin membuat Farhana tersentuh, hingga ia memeluk Rosa.

__ADS_1


Rosa membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Seorang majikan yang memeluk pembantunya sendiri. Ia sadar itu nyata. Dan akhirnya, Rosa mengusap punggung Farhana pelan, karena sepertinya ia sedang terisak.


"Umi juga bersyukur bisa bertemu dengan mu Ros. Tidak hanya merawat umi dengan baik, kamu juga menjadi teman ngobrol yang baik. Andai umi memiliki anak seperti mu, tentu umi sangat senang sekali."


__ADS_2