Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
105. Terkejut


__ADS_3

Para penculik melakukan hal yang sama pada Rosa, yakni mendudukkan nya di sebuah kursi dalam gudang, dan kembali mengikatnya dengan menggunakan tali tampar.


Rombongan laki-laki berwajah sangar itu kini meninggalkan 2 wanita di dalam gudang yang gelap, di iringi suara tawa yang membahana. Membuat keduanya semakin takut dan merinding.


"Hai, apakah kamu juga menjadi korban penculikan?" ucap salah satu wanita, setelah sekian menit berlalu.


Wanita yang ada di sampingnya, masih terdiam belum menjawab pertanyaan yang mungkin ditujukan untuknya. Ia berusaha mengenali suara yang tak asing menurutnya.


"A_apakah, kamu Lidya?" bukannya menjawab, wanita itu justru balik bertanya. Sehingga wanita yang bertanya di awal tadi juga mengernyitkan dahi.


"Rosa." desisnya.


"I_iya, aku Rosa. Lidya, kenapa kamu bisa diculik?" Rosa bertanya dengan sangat penasaran.


"Aku tak tahu. Terus kenapa kamu sendiri jiga di culik Ros?"


"Sama, aku pun tak tahu alasannya, kenapa mereka bisa menculik ku."


Keduanya kembali terdiam, berusaha keras memutar otak. Berusaha mencari jawaban atas pertanyaan mereka, kenapa bisa di culik.


"Apa mungkin ini kerjaannya ibunya Rico. Karena tidak terima anaknya masuk penjara." ucap Rosa menerka-nerka.


"Sepertinya begitu, tapi suaranya kenapa terdengar berbeda ya."


"Kita sama-sama berdo'a. Semoga bisa segera keluar dari ruangan ini dalam keadaan selamat."


Lidya menganggukkan kepalanya, mendengar ucapan Rosa. Walaupun ia tahu, Rosa tak bisa melihat ke arahnya, karena sama-sama di tutup matanya.


Malam kian merangkak. Bu Susi mulai khawatir, karena Rosa belum juga pulang. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam. Berkali-kali ia mencoba menghubungi anak semata wayangnya, namun tetap tak di angkat.


Zaidan juga tidak seperti biasanya. Bayi itu terus saja rewel. Seolah tahu, ibunya sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya, bu Susi menggendong dan memberikannya susu formula. Ia berjalan hilir mudik kesana-kemari, agar Zaidan cepat tidur.


Di tengah kekalutannya itu, Bu Susi tidak tahu harus bertindak bagaimana, selain hanya mendoakan anaknya. Agar tidak terjadi apa-apa padanya.


Bu Susi sedikit lega, ketika melihat Zaidan akhirnya tertidur. Ia duduk di teras rumah, berharap bayangan Rosa muncul di balik pagar. Namun yang ia harapkan, tidak kunjung datang.


"Abrisam. Yah, pasti nak Abrisam tahu. Bukannya tadi Rosa pamit mau ke hotelnya." gumam bu Susi dengan penuh semangat.


Bergegas ia menekan nomor telepon umi Farhana. Karena, Rosa pernah bilang, tentang kesalahpahaman yang terjadi, karena handphone Abrisam disabotase omanya.


"Assalamu'alaikum." salam bu Susi setelah panggilan terhubung.


"Wa'alaikumussalam Bu. Maaf, ada perlu apa ya, malam-malam telepon?" balas Farhana di seberang sana.


"Maaf umi, saya mau tanya, apa Rosa masih ada di situ? Ini sudah jam 10 malam, dan dia belum juga sampai rumah." jelas bu Susi yang tak mampu menyembunyikan rasa gelisah nya.

__ADS_1


DEG!


Jantung Farhana seakan berhenti berdetak, ketika mendengar penjelasan ibunya Rosa. Pasalnya, Rosa hanya sebentar di hotel. Setelahnya ia minta ijin pulang.


"Maaf bu." suara Farhana bagai tercekat di kerongkongan.


"Rosa hanya kesini sebentar. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, katanya ijin pulang. Apakah ibu sudah menghubungi Rosa?"


DEG!


Jantung bu Susi seakan berhenti berdetak, penjelasan Farhana semakin membuatnya memikirkan hal yang tidak-tidak tentang anaknya.


"Hallo, ibu?" terdengar Farhana memanggil bu Susi berulang kali, hingga ia tersadar dari lamunannya.


"Eh, i_iya bu." balas bu Susi sedikit gelagapan.


"Apa ibu sudah menghubungi Rosa?"


"Bahkan sampai 100 kali saya menghubunginya, tapi tidak juga di angkat." Bu Susi menghembuskan nafas kasar.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Rosa ya bu." ucap Farhana berusaha menenangkan bu Susi.


_____


Di tempat lain, yakni kediaman Lidya. Kedua orang tuanya tengah kalang kabut. Karena menunggu anak gadisnya yang tak kunjung pulang.


"Ma, jangan mondar-mandir kek gitu bisa ngga? Sepet papa liatnya."


"Papa ini gimana sih? Anak ngga pulang-pulang, kok masih bisa duduk anteng."


"Papa duduk kan, juga sambil mikir."


"Oh iya, Lidya ada pesan sesuatu gitu ngga ke mama, sebelum dia pergi?"


Bu Cici duduk dihadapan suaminya, sambil berpikir.


"Dia bilang, kalau mau nganterin Abi cari kerjaan, setelah pulang sekolah. Iya, seperti cuma itu saja pesannya tadi."


"Berarti, kita hubungi saja Abi." usul pak Citro.


______


Farhana bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju ruang tempat suami dan anaknya yang tengah berkumpul. Untuk menyampaikan tentang ibunya Rosa yang baru saja menelpon.


Ia mengernyitkan dahi ketika melihat nomor telepon baru menghubunginya.

__ADS_1


"Hallo assalamu'alaikum." sapa Farhana.


"Wa'alaikumussalam. Umi, ini saya, mamanya Lidya." balas suara di seberang, menjelaskan identitasnya.


"Oh bu Cici. Ada apa bu?"


"Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, Lidya berpamitan pada saya, katanya pulang sekolah mau mengantar nak Abi mencari kerja. Tapi sampai sekarang belum pulang. Apa nak Abi juga belum pulang?"


Farhana terduduk lesu, tak menyangka dalam waktu yang bersamaan mendapat kabar yang tidak mengenakkan. Apalagi semuanya berhubungan dengan kedua anaknya.


"Ada apa sayang?" tanya Husein, yang mewakili perasaan kedua anaknya juga.


Ketiga lelaki itu kini menatap Farhana dengan intens.


"Hallo, umi. Apa umi tahu sesuatu?" suara bu Cici kembali menyadarkan Farhana.


"Awalnya Abi bilang, memang Lidya ingin mengantarkannya. Namun, karena yang ditunggu-tunggu tidak datang, akhirnya si kembar mencari kerja sendiri bu."


"Apa! Lalu kemana anak saya?"


"Maaf Bu, saya kurang tahu. Baru saja, ibunya Rosa juga menelpon saya. Katanya Rosa belum pulang."


Mendengar penjelasan Farhana, hati bu Cici seakan di remas. Perasaan khawatir, semakin menghantui dirinya.


"Ibu, kami akan berusaha membantu mencari Lidya dan Rosa. Ibu jangan lupa berdo'a ya, dan berusaha berpikir positif. Semoga keduanya bisa secepatnya ketemu."


"Iya Bu, terima kasih bantuannya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam Bu." panggilan pun berakhir. Farhana tampak syok.


Ketiga lelaki yang kini tengah mengerubunginya, sempat mencuri dengar. Saat ia bercakap-cakap dengan suara di ujung telepon.


"Umi, apa yang terjadi dengan Lidya?"


"Tadi Sam juga mendengar Rosa seperti di sebut. Apa yang terjadi dengannya?"


Si kembar itu merajuk, sambil menggoyangkan kedua sisi paha ibunya.


"Tolong ambilkan umi kalian minum. Agar lebih tenang."


Husein duduk di samping istrinya dan mengusap pelan punggungnya. Abrisam segera bangkit berdiri, dan berjalan menuju dapur.


Setelah meneguk segelas air putih. Farhana tampak lebih rileks.


"Lidya dan Rosa, menghilang bersamaan." gumam Farhana. Yang membuat ketiga lelaki itu terkejut.

__ADS_1


"Kita harus mencarinya sekarang!" tegas Abrisam.


Ia tak ingin ada yang menyakiti wanita yang sangat dicintainya. Ia takut, jika masa kelam yang berhasil di lewatinya, terulang kembali. Betapa terpuruknya Rosa nanti.


__ADS_2