
"Maaf ibu, beberapa hari ini Rosa sibuk merawat saya." ucap umi Farhana kemudian.
Rosa tak menyangka jika majikannya justru yang menjawab lebih dulu.
Ibunya terlihat mengerutkan keningnya ketika melihat umi Farhana untuk yang pertama kalinya.
"Perkenalkan bu, saya Farhana, majikannya Rosa." imbuh umi Farhana kemudian, yang mengetahui ibunya Rosa sedang mengerutkan kening melihat ke arahnya.
"Oh iya bu, salam kenal. Saya bu Susi, ibunya Rosa. Dan ini Zaidan anak Rosa." ucap bu Susi sambil terkekeh menowel pipi Zaidan yang gembul.
"Maa syaa Allah, tampan sekali putra mu Ros. Seperti wajah kedua putra ku." seru umi Farhana. Bahkan tampak dari sorot matanya jika ia tengah berbinar. Rosa hanya tersenyum simpul dan mengangguk.
Setelah berbicara sekian menit, panggilan itu pun berakhir. Umi Farhana menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali berbicara.
"Ros, kamu tahu kenapa umi bisa sampai terkena penyakit ini?" tanya Farhana, dan Rosa pun menggeleng.
"Umi sakit kanker payudara karena tidak bisa menyalurkan asi pada bayi umi, padahal asi umi melimpah, sama seperti kamu. Keduanya hilang setelah sehari umi lahirkan." ucap umi Farhana dengan bibir yang bergetar.
Luka lamanya seakan mengelupas kembali dan menimbulkan rasa yang amat perih ketika mengingat hal itu.
Sekian lama Farhana menyimpan beban rahasia bersama suami yang sangat di cintainya. Akhirnya pada hari itu ia menceritakan pada Rosa, karena sangat kasian dan tersentuh dengan cerita Rosa.
"Em, maksudnya hilang bagaimana umi?" tanya Rosa dengan ragu.
"Mereka...di culik." ucap umi Farhana dengan suara yang tercekat, tapi mampu membuat Rosa sangat terkejut, hingga ia membulatkan matanya dan mulutnya terbuka.
"Di culik." ulang Rosa.
"Iya Ros. Bayi kembar umi di culik, dan sejak saat itu sampai sekarang kami belum berhasil menemukan nya. Entah masih hidup atau kah...." seketika tangisan umi Farhana pecah dan tak mampu melanjutkan bicaranya.
Rosa memberanikan diri memeluk umi Farhana sambil mengusap punggungnya, untuk menenangkan hatinya.
"Sabar ya umi, semoga suatu saat umi bisa bertemu dengan kedua anak umi."
"Rosa, mumpung kamu ada kesempatan, susuilah anak mu sampai genap 2 tahun."
__ADS_1
"Rosa kan masih di sini umi, mana mungkin bisa menyusui Zaidan." ucap Rosa dengan sedikit terkekeh, untuk menyembunyikan rasa galaunya karena tak bisa menyusui Zaidan lagi.
"Umi ngga mau sampai kamu mengalami nasib sama seperti umi, tidak bisa menyusui hingga terkena penyakit."
"Tapi umi....."
"Pulanglah dan susui anak mu. Umi janji akan tetap membayar seluruh gaji mu selama 2 tahun." ucap umi Farhana dengan yakin, yang membuat Rosa begitu terkejut dan langsung menatap majikannya dengan intens.
'Ya Allah, ini mimpi atau nyata?' batin Rosa.
Umi Farhana menggenggam tangan Rosa yang membuatnya tersentak kaget.
"Umi serius Rosa." ucap umi Farhana yang menyadarkan Rosa, bahwa itu memang bukan sekedar mimpi.
"Jika Rosa pulang, siapa yang akan merawat umi?"
"In shaa Allah umi bisa jaga diri Rosa. Kamu lihat kan umi bisa berjalan sampai sini. Dada umi memang masih sedikit nyeri, tapi tidak seperti dulu." ucap umi Farhana meyakinkan Rosa.
Rosa masih bingung mau menerima tawaran umi Farhana atau tidak.
Di satu sisi Rosa sangat senang jika bisa kembali ke Indonesia dalam waktu yang lebih cepat serta mendapat gaji yang utuh.
"Umi, terima kasih tawaran nya. Tapi terus terang, Rosa tak bisa menerima tawaran itu. Bagaimana pun juga, ada abi Husein yang perlu di minta pendapatnya dalam hal ini. Rosa tak ingin menjadi orang yang hanya bisa memanfaatkan kebaikan orang lain."
Umi Farhana semakin tersentuh dengan perkataan Rosa. Yang membuatnya semakin yakin akan keputusannya, untuk memulangkan Rosa dan membayar penuh gajinya.
"Umi akan sampaikan hal ini pada abi Husein Ros, umi yakin, ia mau menerima."
"Terima kasih umi." ucap Rosa sambil meraih tangan umi Farhana, lalu mengecup nya di sertai isakan.
"Rosa, boleh umi meminta foto Zaidan?"
"Tentu saja boleh umi, biar saya kirim ke handphone umi ya." ucap Rosa sambil menggeser layar handphonenya.
Setelah selesai bercakap-cakap, Rosa mengantar umi Farhana ke kamarnya.
__ADS_1
Dan sesampainya di kamarnya, umi Farhana membuka dompet nya dan memperlihatkan foto bayi kembarnya pada Rosa.
"Benar-benar mirip." desis Rosa.
"Boleh saya minta foto ini umi?" celetuk Rosa.
"Bawalah Ros. Umi masih punya foto yang lainnya. Simpan lah baik-baik, jangan sampai hilang." ucap umi Farhana sambil menyunggingkan senyum.
"Terima kasih umi, Rosa janji akan simpan foto ini baik-baik." ucap Rosa sambil tersenyum hangat.
Rosa pun membantu umi Farhana berbaring, lalu merapikan selimutnya. Setelah memastikan umi Farhana tidur, barulah Rosa pindah ke kamarnya.
Ternyata umi Farhana tak benar benar tidur. Ketika Rosa kembali ke kamarnya, ia kembali membuka matanya.
Walaupun hatinya kembali sakit mengingat kejadian dulu, tapi di sisi hatinya yang lain, ia justru merasa lega, sudah bercerita dengan Rosa. Sedikit beban yang ia tanggung selama ini seperti berkurang. Umi Farhana begitu menyayangi Rosa layaknya anak sendiri.
"Sayang, kamu belum tidur?" ucap Abi Husein ketika masuk kamarnya dan melihat istrinya sedang duduk bersandar di tempat tidur. Umi Farhana lalu menggeleng lemah sambil tersenyum.
Farhana bangkit dari tidurnya dan membantu suaminya melepas jas nya, sehingga membuat suaminya mengernyitkan dahi.
"Sayang, kamu tak perlu membantu ku seperti ini. Sebaiknya kamu segera istirahat saja." ucap Husein sambil memegang kedua lengan istrinya, dan Farhana membalas dengan sebuah senyuman.
"Aku harus berlatih mandiri sayang, tidak boleh terlalu mengandalkan orang lain." balas Farhana yang membuat suaminya semakin mengernyitkan dahi.
Selama ini Farhana selalu terlihat pasrah dan seakan-akan ingin menyerah pada takdir. Sudah kehilangan bayi kembarnya, di tambah dengan penyakit kronis. Tapi sekarang, ia justru melihat istrinya tersenyum hangat dan penuh semangat.
Husein membawa Farhana untuk duduk di pinggir tempat tidur dan menatapnya dengan intens.
"Sayang, katakanlah apa yang terjadi dengan mu?" tanya Husein sambil tersenyum hangat. Farhana meraih handphonenya dan menyodorkan foto Zaidan pada suaminya. Sehingga ia mengernyitkan dahi ketika menerima handphone itu.
Husein membelalakkan matanya ketika melihat foto yang sangat mirip dengan wajah kedua putranya.
"I_ini siapa sayang?" tanya Husein dengan raut wajah heran dan bibir bergetar.
"Namanya Zaidan, dia anak Rosa, pembantu kita."
__ADS_1
"Lalu?" tanya Husein tak paham dengan arah perkataan istrinya.
"Di sisa umur ku, aku ingin berbuat baik pada orang lain. Aku ingin memulangkan Rosa agar bisa menyusui anaknya, serta memberikan gaji penuh padanya sayang."