
Sebulan sudah semua melewati rutinitas masing-masing.
Abrisam yang tengah sibuk, memeriksa setiap laporan terpaksa harus menghentikan aktivitas nya karena handphonenya berdering kencang.
"Umi." gumamnya ketika melihat nama umi yang memanggilnya.
Dengan senyum sumringah ia langsung menekan tombol warna hijau. Ia tahu, jika di rumah tak bebas untuk melakukan panggilan telepon dengan kedua orang tuanya. Dan ketika di tempat kerja adalah waktu yang pas bagi keduanya untuk melepas rindu.
Namun, semenjak kepulangan nya dari Riyadh, Abrisam semakin di sibukkan dengan pekerjaannya. Wajar saja itu terjadi, karena perusahaannya sedang membuka cabang. Tentunya lebih banyak membutuhkan perhatian nya.
"Assalamu'alaikum umi." salam Abrisam pada uminya sambil tersenyum. Walaupun uminya tidak bisa melihat senyumnya.
"Wa'alaikumussalam nak. Gimana kabar kamu? Kenapa ngga pernah telepon umi, kalau bukan umi yang menelepon kamu duluan?" tanya umi dari seberang.
Abrisam terkekeh kecil sebelum menjawab.
"Maafkan Sam umi. Ada banyak pekerjaan yang harus segera diatasi, karena kita baru buka cabang yang ke 6."
"Maa syaa Allah. Umi salut sama kamu nak, bisa mengembangkan bisnis dengan pesat di usia yang masih terbilang muda."
"Semua bukan murni usaha Sam umi. Ada banyak yang ikut serta dalam memajukan bisnis keluarga kita. Opa Oma dan doa dari Abi dan umi tentunya."
Umi Farhana terdiam sekian detik. Merasa terharu dengan ucapan anaknya. Walaupun sekian tahun berpisah, Abrisam tetap menghormati dan menyebut namanya menjadi salah satu orang yang berjasa dalam perkembangan bisnisnya.
Padahal selama ini, mertuanya, yakni Oma Sekar, selalu menghujatnya dengan berkata pada Husein, Jangan pernah sekalipun menikah dengan orang miskin, agar tidak tertular miskinnya, yang bisa membuat usaha nya jatuh bangkrut.
Sungguh hinaan itu masih terngiang di telinga Farhana sampai sekarang. Namun sedikit pun Farhana tidak pernah membenci kedua mertuanya.
"Umi, umi Farhana. Kenapa diam saja?"
Abrisam beberapa kali mengulang pertanyaan nya, karena meskipun panggilan masih tersambung, tidak ada suara uminya yang terdengar.
"Eh, tidak apa-apa nak. Umi hanya terharu saja dengan ucapan mu yang mirip dengan Abi mu, selalu memuji umi. Padahal umi hanyalah wanita biasa yang tidak memiliki apa-apa."
"Umi salah sudah berbicara seperti itu. Umi itu sangat berjasa besar bagi aku dan juga Abigail. Umi itu bagai matahari yang selalu menghangatkan bumi. Memberikan sinar yang paling terang, sehingga bisa menyinari setiap sudut belahan bumi. Seperti itu pulalah umi, walaupun selama ini umi jauh dari kami, tapi Sam yakin, kalau di setiap detik waktu yang berputar, umi selalu mendoakan kami. Tanpa umi, kami tak kan pernah melihat indahnya dunia ini."
Umi Farhana semakin terisak dengan ucapan Abrisam.
"Umi jangan menangis ya, Sam mohon."
__ADS_1
"Ini tangisan haru Sam. Oh iya, umi dan Abi sudah kangen, ingin ketemu kamu dan Abigail, serta Rosa dan Zaidan. Besok pagi, in shaa Allah Abi dan umi akan berangkat ke indo. Tapi kami akan menginap di hotel. Kamu temui kami di sana ya."
"APA!"
Mata Abrisam membulat sempurna dengan keinginan uminya yang mendadak itu. Ia sangat senang jika akan kembali bertemu dengan kedua orang tuanya. Namun di sisi lain, ia belum menyiapkan apapun juga untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Dan selama sebulan ini ia lost contact dengan Rosa karena kesibukannya tadi.
Umi Farhana langsung menjauhkan handphone dari telinganya karena terkejut ketika Abrisam berkata seperti itu.
"Kenapa kamu berkata seperti itu Sam? Apa kamu ngga suka dengan kedatangan kami?"
"Eh, kami suka umi. Tapi kami belum menyiapkan apapun juga untuk menyambut kedatangan umi dan Abi."
Farhana seketika bernafas lega dengan jawaban Abrisam.
"Kamu tidak perlu menyiapkan apa apa Sam. Cukup kalian menemui kami di hotel saja. Waktu dan hotel besok akan kami kabari lagi."
"I_iya umi."
Percakapan pun berakhir. Abrisam mendengus kesal. Namun ia tetap harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan orang tuanya.
_____
Ia sangat bersyukur sekali, mendapatkan ilmu secara gratis. Padahal ilmu marketing perlu di cari dengan belajar pada ahlinya dan tentu saja harus membayar. Namun Abrisam memberitahu nya secara sukarela.
Mengingat ilmu marketing sama saja dengan mengingat Abrisam. Lelaki yang di kenal tanpa sengaja dan menjalin hubungan pernikahan secara agama dengannya itu kini tak lagi kelihatan batang hidungnya.
Rosa mulai berpikir bahwa lelaki itu sama saja dengan lelaki lain, setelah mendapatkan apa yang di mau akan langsung lepas tanggung jawab.
Nyatanya janji yang di ucapkan Abrisam padanya tentang kejelasan hubungan mereka sampai saat ini belum Rosa terima.
Akhirnya Rosa lebih memilih melupakan ucapan lelaki itu, dan fokus pada pekerjaan nya.
Namun saat ia sedang fokus, handphonenya berdering. Ia langsung mengambil handphone nya dan melihat siapa yang menelepon.
'Baru saja aku membatinnya, dia malah menelpon aku duluan.'
Bergegas Rosa menggeser tombol warna hijau lalu mendekatkan benda pipih itu di telinga.
"Assalamu'alaikum." sapa Rosa.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam Rosa. Apa kabarnya." sapa Abrisam dengan tersenyum bahagia walaupun Rosa tak bisa melihatnya.
"Baik mas. Ada apa?"
"Aku kangen sama kamu dan Zaidan."
Bagai bunga yang hampir layu lalu segera di siram air, begitulah perasaan Rosa. Namun ia menghela nafas, berusaha mengontrol perasaan nya saat ini.
'Jangan ge-er Rosa. Tuh laki pasti ada maunya.' batin Rosa.
"Kok diam saja Ros, apa kamu ngga kangen sama aku?"
"Enggak."
"Ha." Abrisam menganga dengan jawaban Rosa yang terkesan cuek bebek.
Abrisam mengambil nafas panjang dalam berusaha menetralkan perasaannya. Lalu segera menyampaikan maksud tujuannya menelpon Rosa.
Mendengar nama umi Farhana di sebut, Rosa langsung berbinar matanya. Ia akan meluangkan waktunya untuk menyambut kedatangan umi Farhana ke indo.
"Terima kasih istri ku Rosa yang baik hati."
"Hem." balas Rosa datar.
"Mas pamit kerja dulu ya, sampaikan salam sayang ku ke Zaidan dan ibu, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Abrisam menyenderkan tubuhnya di kursi lalu menghirup nafas lega dengan jawaban yang Rosa berikan. Pikiran nya menerawang jauh mengingat kebersamaannya dengan Rosa saat di Riyadh.
'Akan kah kita bisa mengulang kebersamaan yang indah itu di sini Ros?'
"Sam."
"Eh, Oma."
Abrisam langsung duduk dengan membusungkan dadanya karena cukup tegang dengan kehadiran Oma yang mendadak.
"Silahkan masuk Oma. Kenapa Oma ngga istirahat saja di rumah? Nanti kalau kecapekan gimana?" Abrisam berusaha mengalihkan kegugupan nya.
__ADS_1
"Oma, harus memastikan semua baik-baik saja Sam. Apalagi akhir akhir ini kalian berdua terlihat aneh." jawab Oma sambil memindai setiap sudut ruang kerja cucunya.