
Lidya dan Rico memasuki sebuah kamar. Sengaja Lidya berjalan di belakang, dan membiarkan pintu tidak terkunci. Sementara Rosa tetap berjalan mengendap-endap, dan mengarahkan kamera ponselnya.
"Rosa, apa yang kamu lakukan disini?" bisik Abrisam, sehingga membuat Rosa terkejut. Untung saja dirinya tidak sampai berteriak, yang kemungkinan besar bisa menimbulkan kecurigaan Rico.
"Mas Abrisam. Mas Abigail. Kenapa, kalian berdua ada di sini?"
"Harusnya aku yang tanya sama kamu Ros. Kenapa kamu ngintip orang mau nana nunu?" bisik Abrisam.
"Ceritanya panjang mas. Kalau kamu mau tetap di sini, harus diam." titah Rosa, Abrisam pun langsung mengangguk patuh.
Sedangkan Abigail ia tetap berdiam dengan pandangan yang tajam mengarah pada dalam kamar.
Walaupun hanya lewat pintu yang sedikit renggang, ia bisa menyaksikan dengan jelas apa yang akan dilakukan kedua anak muda itu.
Sedangkan di dalam kamar. Lidya langsung menghempaskan tubuhnya dan berpura-pura tidur di atas tempat tidur. Sekuat tenaga ia menahan diri atas Rico yang tengah menatapnya dengan tatapan yang mendamba.
Dengan hati-hati agar tidak di ketahui oleh Rico, ketiga pengintai itu masuk ke dalam kamar setelah mendapat instruksi dari Rosa.
Lidya terus memejamkan matanya, sampai akhirnya Rico hendak melakukan hal yang tidak senonoh itu.
Dengan amarah yang membara, Abigail mendekati lalu memukul Rico hingga babak belur. Sedangkan Abrisam berusaha membangunkan Lidya.
"Woi, siapa kalian? Kenapa sukanya main keroyokan?" teriak Rico karena panik. Ia kesal karena aksinya di gagalkan.
Mereka sengaja diam tak menjawab pertanyaan Rico yang kian marah itu. Setelah puas memukulnya, mereka meninggalkannya sendirian di kamar. Abigail menggendong Lidya yang masih terpejam matanya.
Dan, setelah cukup merekam kejadian tersebut, Rosa segera menyimpan handphonenya dalam tas.
Abigail langsung memasukkan Lidya ke dalam mobilnya.
"Kakak, semua ini hanya sandiwara yang kami lakukan untuk menjebak Rico. Kamu jangan marah dengan ku ya. Hasil rekaman tadi akan kami kirim ke kantor polisi." ucap Lidya yang masih mengalungkan tangannya di leher Abigail, sehingga membuatnya terkejut dan menatapnya.
Kini keduanya pun saling beradu pandang dalam jarak yang sangat dekat. Sehingga membuat jantung Abigail semakin berdetak kencang. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum berkata.
__ADS_1
"Baiklah, kakak percaya dengan mu. Jangan pernah sekalipun mengecewakan kakak. Ingat, kamu harus menjaga satu-satunya mahkota berharga mu untuk suami mu kelak." ucap Abigail dengan suara yang bergetar di ujung kalimat, saat menyebut kata suami.
"Iya kak. Terima kasih atas kepercayaannya." ucap Lidya, lalu dengan spontan memeluk Abigail karena terlalu bahagianya.
Ia menyayangi Abigail seperti kakaknya sendiri. Karena lelaki itu selalu memberi perhatian yang lebih padanya. Lagi-lagi Abigail dibuat tak berkutik dengan kelakuan Lidya.
Rosa dan Abrisam yang melihat hal itu terkejut.
"Ehem." sengaja Abrisam berdehem keras hingga menyadarkan mereka berdua. Sedangkan Rosa justru menyikut lengan Abrisam, karena dia mengacaukan momen romantis keduanya.
"Eh, maafkan aku kak, karena terlalu bahagianya hingga tak sadar memeluk mu." ucap Lidya sambil meringis. Abigail hanya mengulum senyum manis. Jika boleh jujur, ia tak ingin Lidya melepaskan pelukannya.
"Sebaiknya kita segera ke kantor polisi untuk memberikan rekaman itu, agar bisa segera ditindaklanjuti." ucap Abrisam, dan semua pun setuju.
Lidya satu mobil dengan Abigail, Abrisam mengendarai mobilnya sendiri, begitu juga dengan Rosa yang mengendarai motornya sendiri. Mereka bersama menuju kantor polisi.
Sementara Rico semakin terbakar emosinya. Ia segera memakai bajunya dan menyusul mereka.
"Sial. Siapa mereka. Aku harus membuat perhitungan dengannya." umpatnya sambil keluar kamar, dan mencari keberadaan orang-orang yang melarikan Lidya.
"Kemana mereka pergi? Sial sekali aku hari ini. Setiap kali aku hendak mencicipinya, selalu saja ada halangan." gerutu Rico dengan kesal. Ia pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, rombongan Rosa dan kawan-kawan sudah tiba di kantor polisi. Dengan langkah pasti mereka memasuki ruang pelaporan.
Yang pertama melapor dan memberi keterangan adalah Lidya, kemudian dilanjutkan dengan Rosa yang membawa bukti rekaman tadi, dan juga menjelaskan jika dulu ia adalah korban Rico.
Abigail dan Abrisam terkejut dengan ucapan keduanya yang sangat rinci dan mendetail itu. Keduanya juga tak menyangka, jika 2 gadis yang perlahan mengisi hati mereka, mencintai cowok kadal yang sama.
'Mereka ini, cantik-cantik kok bodoh sih, mau saja dikadali sama tuh cowok.' batin si kembar.
Jika sewaktu-waktu di butuhkan keterangannya, si kembar siap menjadi saksi. Abigail juga menambahkan keterangan tentang kejadian yang di alami Lidya tempo hari.
"Baiklah, laporan saudara/saudari akan segera kami proses." ucap polisi.
__ADS_1
"Terima kasih pak, sudah mau merespon laporan kami." ucap mereka kompak.
Setelah selesai melapor, Abigail mengajak mereka makan siang bersama. Namun Abrisam menolaknya, karena umi Farhana menginginkan bertemu. Akhirnya, mereka pun sepakat untuk menemuinya.
Sepanjang perjalanan, baik Abigail maupun Lidya sama-sama terdiam. Mereka yang biasanya selalu bercanda mendadak sungkan.
Sampai akhirnya, mobil memasuki hotel bintang lima yang penampakan dari luarnya saja sudah sangat indah.
"Kamu mau berdiam diri di mobil sampai nanti Lid?" ucap Abigail yang membuat Lidya sedikit terkejut.
"Eh, i_iya kak. Aku mendadak grogi nih. Memang umi Farhana siapa?"
"Umi Farhana itu ibu ku Lid. Dia orangnya baik banget. Ayo kita turun. Tuh, Rosa sama Abrisam saja sudah masuk duluan."
Lidya menoleh ke arah Abrisam dan Rosa yang sudah memasuki lobi hotel. Ia pun mengangguk pada Abigail, lalu keduanya turun dari mobil untuk menyusul mereka.
Mereka saling terdiam sampai pintu lift terbuka. Mereka pun kembali berjalan menuju kamar yang di maksud.
"Assalamu'alaikum." sapa mereka pada umi Farhana, begitu pintu di buka.
"Wa'alaikumussalam." balas umi Farhana.
Ia tersenyum lalu memeluk satu persatu anaknya. Setelah memeluk Rosa, pandangannya beralih pada Lidya yang tampak menurunkan dress midi dress selutut nya.
"Ini namanya Lidya umi. Nanti kita cerita di dalam saja biar lebih enak." ucap Abigail, menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Lidya pun memberanikan diri mengulurkan tangannya pada umi Farhana, yang segera di sambut hangat lalu juga dipeluknya.
Setelahnya mereka masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Abi Husein juga sedikit terkejut dengan kedatangan Lidya yang penampilannya berbeda dengan Rosa.
Lidya yang kurang paham tentang ajaran agamanya, mengulurkan tangannya pada Abi Husein. Abigail langsung membisikkan sesuatu pada abinya, yang membuat abinya menerima uluran tangan Lidya.
Umi Farhana telah menyiapkan makanan untuk mereka. Sehingga mereka segera menggelar karpet dan duduk di sana sambil menikmati hidangan makan siang.
__ADS_1
Awalnya suasana itu terlihat canggung, terlebih lagi Lidya. Namun, kedua orang tua si kembar sangat humble. Sering bertanya pada Lidya, sehingga membuat gadis itu lama-lama menjadi keluar juga sifat aslinya yang cerewet.
Mereka menikmati makan siang dalam suasana yang penuh canda dan tawa. Kebahagiaan jelas tersirat di wajah mereka. Sesaat mereka melupakan kejadian buruk di masa lalu, maupun yang baru saja terjadi.