Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
124. Membobol gawang


__ADS_3

"Sebelum kita melangkah lebih jauh, sekali lagi katakan apa yang menjadi mau mu. Kakak akan berusaha turuti."


Lidya mendongak menatap suaminya. Padahal segala susunan kata-kata telah ia rencana sejak kemarin. Namun, hanya dengan menatap wajah suaminya, semua kata-kata itu seakan menguap. Ia pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Membuat Abigail berpikir sambil mengernyitkan dahi.


"Kenapa menggeleng?"


"Aku lupa mau minta apa sama kakak. Kita jalani saja dulu. Semoga Lidya ngga banyak buat salah. Karena belum belajar jadi istri yang baik."


"Tiap orang wajar kalau melakukan kesalahan. Bukan hanya kamu saja yang belajar, kakak pun juga mau belajar untuk menjadi suami yang baik." Abigail tersenyum pada Lidya.


"Kakak boleh kecup kening mu?" Lidya mengangguk. Lalu Abigail lebih mendekati istrinya.


Cuup....


Sebuah kecupan yang cukup lama, membuat jantung keduanya berdetak kencang. Setelahnya Abigail mengakhiri hal manis itu.


"Ka_kakak, habis ini kita mau ngapain?"


Abigail tersenyum menanggapi ucapan istri kecilnya. Sebagai seorang lelaki normal, ingin rasanya ia meminta hak nya. Namun ia sadar, jika istrinya masih terlalu kecil.


"Hem, menurut mu kita mau ngapain?"


"Ih, kok balik tanya sih?" Lidya mengerucutkan bibirnya.


"Kalau capek, ya kita langsung tidur aja."


"Kalau ngga capek?" Lidya penasaran.


"Kakak temani kamu begadang kalau gitu. Sampai kamu capek terus tidur."


"Kakak, ngga mau......."


"Mau apa?" potong Abigail sambil tersenyum.


"Mau itu..." Lidya mengetukkan jari di pahanya yang mulus. Abigail yang melihat semakin tergoda. Karena saat ini Lidya tengah memakai hot pant dan kaos tipis yang ketat.


"Tentu sebagai lelaki normal, kakak mau Lid. Tapi kakak akan bersabar sampai kamu siap. Sudah yuk kita tidur. Kakak tidur dimana nih?"


Lidya semakin tak enak dengan suaminya.

__ADS_1


"Tidur di sini saja kak. Masih muat kok untuk dua 2 orang."


"Terima kasih Lidya."


Abigail segera merebahkan diri di ikuti Lidya. Gadis itu terlentang dengan wajah menatap langit-langit kamar. Sedangkan Abigail memiringkan badannya menatap wajah cantik istrinya.


"Boleh kakak peluk kamu Lid?" Gadis itu menoleh, lalu mengangguk. Abigail melingkarkan tangannya di perut Lidya dengan penuh kegembiraan.


Pagi harinya, mereka bangun dan melakukan aktifitas pagi seperti biasanya. Bu Cici mengernyitkan dahi melihat jalan Lidya seperti biasanya dan rambutnya tergerai kering.


"Lid, sini dulu."


"Apa ma?"


"Jalan mu kok biasa saja. Rambut mu juga kering."


"Lhoh, memangnya kenapa ma?"


"Kamu belum....."


"Belum." sahut Lidya cepat. Membuat mamanya tersentak kaget.


Dan kali ini giliran Lidya yang terkejut. Ia semakin merasa bersalah. Kenapa ia tak memikirkan hal itu sejak kemarin.


_____


Hari yang dinantikan tiba, yakni pesta pernikahan di rumah Oma Sekar. Rumah megah itu semakin terlihat indah dan mewah karena di hias dengan sedemikian rupa.


Masing-masing calon mempelai sedang dalam perjalanan menuju rumah itu. Terlihat ketegangan di wajah masing-masing mempelai. Karena harus kembali melewati ritual acara.


Mobil mewah milik si kembar memasuki kawasan rumah elit. Itu artinya sebentar lagi mereka akan sampai.


Degup jantung mempelai wanita semakin kencang. Karena bisa dipastikan tamu undangan bukan dari golongan orang biasa. Si kembar yang melihat ketegangan di wajah istrinya, menggenggam tangannya untuk sekedar menenangkannya.


Dengan berhati-hati mempelai pria membantu istrinya untuk turun dari mobil. Mereka berjalan menuju tempat resepsi di gelar.


Tamu undangan melihat ke arah dua pasang pengantin dengan tatapan yang tak biasa. Karena kedua pasangan itu tampak sangat serasi. Cantik-cantik dan tampan-tampan.


Satu persatu acara mulai dilaksanakan. Oma Sekar menjadi satu-satunya orang yang paling bahagia di situ. Karena berhasil menyatukan anak dan cucunya dengan orang yang dicintainya. Beban di bahunya seakan terangkat.

__ADS_1


Tanpa terasa, acara super mewah dan megah itu akhirnya selesai. Dan waktu berlalu begitu cepat. Malam kembali menyapa. Mereka kini tengah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama.


Oma Sekar mengucapkan rasa terima kasih pada semuanya. Ia juga ingin agar istri cucunya, membantu mengelola bisnis keluarganya. Tentu saja membuat Lidya dan Rosa terkejut. Keduanya tak menyangka jika akan mendapat amanah sebesar itu.


Setelah makan malam, mereka memasuki kamar masing-masing. Kedua mempelai wanita tampak takjub dengan kamar suami mereka yang luar biasa.


"Kamu mau berdiri sampai besok?" Abigail menatap Lidya yang mematung di dekat pintu.


"Eh, enggak kok kak."


"Sini, giliran kita tidur di kamar ku. Kamu suka ngga? Atau mau di rubah design nya?"


"Ini sudah sangat bagus. Aku suka kok kak."


Abigail menepuk ranjang tempat tidurnya. Lidya mengangguk lalu duduk di samping suaminya. Keduanya saling bertukar cerita.


Abigail berusaha membuat Lidya nyaman didekatnya. Hingga akhirnya, ia yang sudah tidak tahan mengecup pipi istri kecilnya. Membuat Lidya tersipu malu.


Perlakuan Abigail yang lembut dan manis membuat Lidya semakin nyaman. Dan akhirnya malam itu Abigail berhasil membobol dinding pertahanan istrinya.


Sehingga membuat wanita itu meringis menahan sakit yang luar biasa di area bawah sana. Peluh mengucur di wajah keduanya, meskipun ruangan itu telah di pasang pendingin ruangan.


"Lidya, maafkan kakak ya. Sudah membuatmu seperti ini." bisik Abigail penuh sesal.


"Ngga apa-apa kak. Lidya belajar jadi istri yang baik buat kakak." balas Lidya, yang membuat Abigail tersenyum bahagia. Ia berjanji dalam hati untuk bisa membahagiakan istri kecilnya dengan sepenuh hati.


Abigail mendekap Lidya dengan penuh kasih, dan tak lama kemudian keduanya sudah tertidur pulas.


_____


Pagi harinya, setelah sholat subuh lidya dan Rosa bingung harus mengerjakan apa di rumah Oma Sekar. Pasalnya semua sudah dikerjakan oleh asisten rumah tangga.


"Kenapa harus terburu-buru sih sayang? Kita nikmati waktu kita jadi pengantin baru." Abrisam melingkarkan tangannya di pinggang Rosa.


"Aku ngga enak mas, di sangka aku menantu yang tak tahu diri lagi."


"Siapa yang bakal menuduh seperti itu? Ngga ada. Itu semua cuma prasangka mu saja."


"Lebih baik, kita ulang acara semalam." kekeh Abrisam.

__ADS_1


__ADS_2