
Manager mengajak mereka berjalan menuju ruang cctv.
Dan kini, semuanya tengah menghadap ke layar monitor. Degup jantung mereka kian berdetak kencang, matanya tampak awas memperhatikan setiap gambar yang muncul. Agar tidak melewatkan satu detik pun kejadian.
Hingga akhirnya, mereka tidak menemukan apapun juga hal yang berkaitan dengan Rosa.
Brakk....
Bahkan Abrisam sampai menggebrak meja. Ia tak percaya dengan semuanya.
Tentu saja tingkahnya sangat membuat semua orang terkejut. Tak terkecuali sang manager, yang duduk menghadap layar monitor. Berulang kali ia mengusap dada, agar tenang.
"Kenapa tidak ada jejaknya sama sekali?" gumamnya lagi. Farhana mengusap punggungnya, untuk menenangkannya.
"Lanjutkan lagi pak." pinta Abigail pada manager.
Video kembali di putar, namun semua terlihat baik-baik saja.
"Aku yakin, ada yang mensabotase videonya. Karena ada beberapa detik bagian yang terpotong." ucap Abigail dengan tegas. Membuat semua menatapnya.
"Penjahat itu benar-benar licik." umpat Abrisam.
"Bagaimana tingkat keamanan hotel ini, yang katanya memiliki rate bintang 5. Namun kenyataannya ada hal janggal yang dilewatkan."
Mereka berjalan keluar untuk mencari taksi, yang akan mengantarkan mereka menuju kantor polisi.
Tak lama kemudian, mobil warna biru bergerak menuju arah mereka. Mereka pun segera melambaikan tangan untuk menyuruh mobil itu berhenti.
Baru saja mobil itu bergerak keluar dari pelataran hotel, tiba-tiba Abigail berseru yang membuat mereka terkejut.
"Stop. Stop pak." Sopir pun segera menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa?" tanya Abrisam heran.
Bukannya menjawab, Abigail justru membuka pintu mobil dan keluar. Keluarganya pun segera mengikuti.
"Bukankah ini motor Lidya? Kenapa bisa ada disini?" desis Abigail, sambil memperhatikan dengan serius, motor yang tergeletak di dekat taman depan hotel. Keluarganya juga memperhatikan dengan seksama.
"Kalau perampok harusnya yang di curi motornya. Berarti ini orangnya memang niat mau menculik Lidya."
__ADS_1
"Apakah mungkin, para penjahat itu menculik mereka dalam waktu yang bersamaan?" tebak Abrisam.
Namun semua tak ada yang menjawab. Mereka pun segera masuk ke mobil, untuk melaporkan penemuan mereka pada polisi.
Sesampainya di kantor polisi, keluarga Husein tak sengaja menangkap bayangan keluarga Lidya dan Rosa yang baru keluar dari mobil. Bergegas mereka menghampirinya.
"Assalamu'alaikum." sapa keluarga Husein.
"Wa'alaikumussalam." balas mereka. Saling berjabat tangan dan berpelukan adalah kebiasaannya saat bertemu.
Setelahnya, mereka pun berjalan bersama menuju ruang melapor.
"Silahkan duduk bapak, ibu. Ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang polisi.
Mereka pun segera menyampaikan maksud tujuannya. Di mulai dari bu Susi, lalu bu Cici. Lalu Abrisam dan Abigail, menambahkan info tentang penemuannya pada polisi.
Polisi itu membaca dengan seksama laporan dari mereka. Lalu memutar video yang di ambil dari rekaman cctv hotel. Lelaki berseragam coklat itu, menarik nafas panjang sambil sejenak berpikir. Karena keduanya menghilang di tempat yang sama.
Polisi itu memberi pertanyaan pada mereka, tentang orang-orang terdekat yang dicurigai. Dengan cepat bu Cici menjawab, jika memang awalnya ia mencurigai keluarga Rico.
Namun, setelah datang kesana, tidak menemukan apapun juga. Justru ia terkejut, karena melihat penampilan ibunya Rico yang lain dari biasanya.
"Ibu, tidak ada karma. Yang ada, Allah membalas sesuai dengan amal perbuatannya." nasehat Farhana.
Mereka kembali pulang, dengan seribu tanya di benaknya. Dalam keadaan tak bersemangat tentunya.
Sementara di tempat lain, tempat yang tidak pernah mereka sangka. 2 orang wanita yang kini masih dalam posisi yang sama.
"Rosa, aku haus dan lapar." rintih Lidya, dengan suara tidak jelasnya. Karena mulut masih tersumbat kain.
"Sama Lid, aku juga. Kita harus menghemat tenaga. Kenapa penjahat itu tega sekali, tidak memberi kita makan."
Brakk!!
Suara pintu yang dibuka kasar. Membuat keduanya tersentak kaget. Seorang wanita cantik walaupun sudah berumur senja, diiringi 4 anak buahnya masuk ke dalam gudang yang gelap itu.
Salah satu dari pengawalnya menyalakan lampu. Agar cukup untuk menerangi bosnya. Namun tak cukup untuk menerangi kedua wanita itu, tetap saja semua terlihat gelap. Karena mata mereka masih tertutup kain hitam.
"Lidya mustika citra, dan, Rosana Sahara." ucap wanita wanita sepuh itu. Dengan senyum sinis menatap kedua wanita cantik yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan kalian berada disini? Takut, ataukah biasa saja?"
'Pertanyaan aneh macam apa yang dia berikan? Tentu saja aku takut.' batin keduanya. Namun tak berani keduanya untuk menjawab.
Keduanya takut, jika salah menjawab, bisa mendapatkan siksaan yang lebih berat. Tidak diberi makan dan minum saja, sudah membuat mereka mengeluh.
"Oh iya, mulut kalian kan tertutup. Mana mungkin bisa menjawab." kekeh wanita sepuh itu lagi.
Ia mengacungkan satu jarinya, lalu seorang anak buahnya berjalan mendekatinya.
"Buka penutup mulut mereka. Aku ingin mendengar jawaban dari mereka."
Dengan gerak cepat, lelaki itu membuka penutup mulut Rosa dan Lidya.
"Tentu saja kami takut ibu." ucap Lidya.
"Hem, kamu ternyata lebih pemberani ya." wanita sepuh itu bergerak mendekati Lidya. Derap langkahnya, membuat gadis itu tahu.
"Kalau kamu takut, aku pun juga sama takutnya." balas wanita sepuh. Yang membuat Lidya dan Rosa mengernyitkan dahi.
"Maaf ibu, sebenarnya apa salah kami? Sehingga anda tega menculik kami." dengan hati-hati Rosa bertanya. Wanita sepuh itupun kini beralih menatapnya.
"Oh, jadi kalian belum tahu apa salah kalian?" kekeh wanita sepuh itu diujung kalimat.
Lidya dan Rosa mengangguk bersamaan. Lagi-lagi ungkapan polos kedua wanita itu membuat wanita sepuh terkekeh.
"Karena, kalian telah memisahkan ku dari kedua cucuku. Sekarang rasakan pembalasan ku. Tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang kalian cintai."
Lidya dan Rosa semakin mengernyitkan dahi. Karena heran dengan sikap wanita yang berada di dekatnya.
"Tapi ibu, saya tidak merasa memisahkan ibu dengan cucu ibu." jelas Rosa. Lidya pun juga mengatakan hal yang sama.
"Kalian bisa mengatakan hal itu dengan mudah, karena belum berpikir."
Sejenak mereka berpikir dan menerka-nerka, mungkinkah yang menculik mereka adalah orang-orang suruhan omanya si kembar?
Kalau iya, kenapa seorang wanita sepuh, bisa berperilaku sedemikian kejamnya?
"Nikmati saja kesendirian kalian disini. Sebagaimana aku juga merasakan kesendirian tanpa kehadiran kedua cucuku." ucap Sekar memecah keheningan.
__ADS_1
Ia keluar bersama anak buahnya, di iringi tawa yang membahana. Tanpa memberi makan dan minum sedikit pun.