
"Pak dokter." gumam Lidya pelan.
Seketika ia bernafas lega, setelah keliling mencarinya tapi tak kunjung bertemu, tapi justru ketika tak mencarinya malah muncul di hadapan nya.
"Mau kemana bu?" tanya dokter itu pada bu Susi.
"Ya mau pulang pak. Tadi kan pak dokter yang mengijinkan kami pulang." bu Susi menyunggingkan senyum.
"Oh iya juga sih. Mau naik apa?"
"Kita mau cari angkutan di depan sana pak."
"Menunggu angkutan itu kelamaan bu, mari ikut saya saja. Kasian bayinya sudah kepanasan tuh."
Setelah saling beradu pandang pada Rosa dan Lidya, akhirnya bu Susi mengangguk setuju.
"Lhoh, kamu ngga ikut sekalian dek?" tanya dokter itu pada Lidya yang masih berdiri di luar mobil.
"Rumah saya agak jauh, saya cari ojek saja pak." kata Lidya sambil menggeleng lemah. Keringatnya sudah bercucuran membasahi wajahnya, karena memang siang itu sangat panas.
"Saya ngga suka di bantah, ayo segera naik mobil." titah dokter itu.
Lidya hanya bisa pasrah mengikuti perkataan dokter itu yang terdengar seperti perintah. Karena hanya tersisa kursi di bagian depan, ia pun segera mendaratkan pantatnya di sana.
Kini mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada yang saling bicara hingga akhirnya mobil mereka sampai di rumah kecil milik keluarga Rosa.
Dengan hati-hati dokter dan bu Susi membantu Rosa turun dari mobil. Sedangkan Lidya membawakan barang bawaan mereka.
Setelah memastikan kondisi Rosa dan bayinya baik, dokter itu pun berpamitan pulang. Keluarga Rosa mengucapkan terima kasih berulang kali atas kebaikan dokter muda itu.
Sedangkan Lidya ia tengah bercakap-cakap dengan mamanya lewat sambungan telepon. Tentu saja mamanya mengkhawatirkannya, karena belum pulang padahal hari sudah semakin sore.
"Ayo aku antar pulang sekalian." ajak dokter itu pada Lidya. Yang mendengar percakapan ia dan mamanya.
Sebenarnya Lidya enggan menerima tawaran dokter itu. Tapi hari sudah semakin sore, dan mamanya sudah benar-benar khawatir dengannya. Akhirnya ia pun menerima tawaran dokter itu.
"Oh iya pak, nih aku bayar hutang ku yang kemarin, sama ongkos nganterin aku pulang." kata Lidya sambil meringis menyodorkan selembar uang merah.
Dokter itu pun hanya tersenyum simpul tanpa menerima uang yang di ulurkan Lidya, sehingga ia berdecak kesal.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, simpan saja uangnya untuk jajan kamu di sekolah. Atau untuk membayar guru les. Sepertinya kamu memang butuh guru les."
Lidya mengernyitkan dahi, mendengar ucapan dokter itu.
'Bagaimana dokter itu bisa tahu, kalau nilai ku jelek. Huh, bikin aku malu saja.' batin Lidya yang kini tertunduk malu.
"Saya memang bodoh pak. Mama saya sudah mengundang guru les untuk saya, tapi semuanya ngga ada yang cocok. Cuma, Rosa saja yang cocok. Tapi dia baru saja melahirkan, jadi les nya berhenti dulu."
"Huft .."
"Jam kerja ku sudah habis, tapi masih saja di panggil bapak. Memang nya aku sudah terlihat seperti bapak-bapak ya." ucap dokter itu yang membuat Lidya meringis.
"Saya memanggil dengan sebutan pak dokter, sebagai bentuk penghormatan. Karena itu yang di ajarkan sama mama."
"Baiklah gadis angkuh dan ceroboh anak mama, mulai sekarang kamu panggil saja aku Abi. Nama panjang ku Abigail. Aku ngga mau kamu terus menerus memanggil ku dengan kata bapak di luar jam kerja. Dan terima kasih atas penghormatan nya."
Lidya merasa jengkel karena sejak tadi dokter itu terus memojokkan nya, tapi predikat itu memang cocok ia sandang. Selama ini ia memang terkenal angkuh, ceroboh dan bodoh. Satu satunya yang menonjol darinya adalah kecantikan nya.
"Tapi umur kita kan beda jauh pak, masa aku panggil nama doang." akhirnya hanya itu kalimat yang berhasil keluar dari mulutnya. Ia tak bisa menyangkal ucapan dokter yang memang benar itu.
"Kamu bisa tambahi dengan mas, kak atau apa terserah kamu."
"Baiklah pak dokter. Eh, maksud ku kak Abi." ucap Lidya menutup mulutnya sambil meringis karena salah ucap.
"Mereka ngga pandai seperti Rosa, buktinya mama ku sudah keluar uang banyak untuk membayar mereka, tapi nilai ku masih saja jelek." ucap Lidya sambil terkikik.
"Hem, kalau kakak mendaftar jadi guru les mu, apa bakal di terima?"
"Apa! Apa kak Abi kekurangan uang sampai harus mendaftar jadi guru les ku?" tanya Lidya dengan polosnya yang membuat Abigail terkekeh.
"Yah, anggap saja begitu."
"Baiklah, kalau begitu kak Abi harus melewati masa training dulu. Kalau ngga cocok terpaksa aku berhentikan."
Abigail hanya tersenyum menanggapi celotehan gadis SMA yang konyol itu. Akhirnya mereka pun sampai di rumah Lidya.
"Kak Abi harus bicara dulu dengan mama ku kalau mau mendaftar jadi guru les ku."
Abigail hanya menaikkan satu alisnya lalu turun mengikuti langkah Lidya.
__ADS_1
Baru saja turun dari mobil, bu Cici sudah menyambut kedatangan Lidya dengan sejuta pertanyaan.
"Mama, Lidya mampir dulu ke rumah sakit, menjenguk Rosa."
'Dasar anak mama, pantes saja bodoh.' batin Abigail.
Bu Cici menatap Abigail sambil mengernyitkan dahi.
"Dia namanya kak Abigail ma, mau mendaftar jadi guru les Lidya, selama Rosa merawat bayinya." ucap Lidya memecah keheningan.
"Bukankah kamu dokter yang merawat Rosa?" tanya Bu Cici dengan penasaran.
"Iya bu. Boleh kah saya mendaftar jadi guru les putri anda."
"Terima saja ma, katanya kak Abi baru kekurangan uang." bisik Lidya.
"Dasar bodoh, mana ada dokter kekurangan uang. Yang ada, dia itu lebih kaya dari kita." ucap bu Cici sambil berbisik pula.
Abigail hanya tersenyum mendengar keduanya yang tengah berbisik.
"Tapi, saya tidak bisa memberi gaji yang banyak nak. Tabungan kami untuk membayar tagihan rumah sakit Rosa kemarin."
"Tidak apa-apa bu, seikhlasnya saja." ujar Abigail dengan senyum ramah.
Setelah sejenak berbicara akhirnya Abigail pamit pulang.
Bu Cici pun kembali memberondong Lidya dengan banyak pertanyaan, dan dengan setengah hati Lidya terpaksa menjawab semua pertanyaan mamanya.
Malam harinya keluarga Lidya berkunjung ke rumah Rosa. Mereka memberi tahu yang sebenarnya pada Rosa, sehingga membuatnya terisak. Akhirnya Rosa pun menceritakan kejadian itu dari awal sampai akhir.
"Sepertinya kita harus melaporkan mbak Anita ke polisi biar dia jera." ucap Lidya bersungut-sungut kesal.
Semua pun mengangguk setuju pada usul Lidya.
"Baiklah, aku akan laporkan pada polisi." ucap Rosa dengan mantap.
Selama ini ia selalu diam ketika mendapat perlakuan yang tidak baik. Tapi sekarang ia harus bertindak tegas, agar orang-orang tak berani mengusik hidupnya lagi.
"Kita akan temani kamu ke kantor polisi Ros." imbuh bu Cici dan suaminya pun ikut mengangguk.
__ADS_1
Setelah bercakap-cakap akhirnya keluarga Lidya pun pamit pulang.
"Bagus sayang, kamu sudah mengambil langkah yang tepat. Mulai sekarang, jangan biarkan siapapun menyakiti mu." ucap bu Susi sambil memeluk anaknya.