Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
81. Prahara besar


__ADS_3

Oma Sekar tak percaya jika dua manusia itu kini berada di rumahnya. Itu artinya keduanya tengah mencari mati.


Dengan nafas yang memburu, Oma Sekar melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


Jantungnya kian berpacu dengan cepat, melihat dua makhluk yang tengah berdiri di ambang pintu.


Husein memang mengajak istrinya untuk menunggu di luar rumah. Lelaki bertubuh tegap nan atletis itu, memang ingin menjaga hati istrinya.


Ia tahu, pasti Farhana merasakan trauma, karena dulu pernah di usir oleh mamanya. Terlihat dari tangannya yang kembali dingin seperti es.


Sementara itu, di lantai atas, si kembar yang penasaran dengan apa yang terjadi di bawah, dengan langkah pelan menuruni anak tangga.


Bahkan keduanya sampai tidak memakai sandal, agar langkah kakinya tidak terdengar oleh Oma. Dari jarak aman, si kembar melihat Oma tengah bertatapan dengan kedua orang tua mereka.


Baik Oma Sekar ataupun Husein dan Farhana saling bertatapan. Tatapan Sekar pada anak dan menantunya terlihat nyalang. Dan hal itu berlangsung sekian menit, sampai akhirnya Husein berkata lebih dulu.


"Selamat pagi ibu."


Husein meraih tangan ibunya, namun ibunya langsung menyedekapkan keduanya tangannya di depan dada, dan mengalihkan pandangannya.


Dengan tangan yang bergetar, Farhana coba menyalami ibu mertuanya, namun reaksinya juga sama. Diam tak bergeming. Farhana terpaksa menarik kembali uluran tangannya.


Hal itu membuat siapapun yang melihatnya sangat sedih, dan terasa tersayat hatinya. Bahkan bibi yang menyaksikan ikut geleng-geleng kepala, sambil mengurut dada.


Dugaannya benar, dari dulu sampai sekarang, majikannya memang tak pernah berubah.


"Untuk apa kalian datang kesini?" Sekar berkata dengan datar.


"Kita kesini untuk menyambung tali silaturahim ma." ucap Husein.


"Tapi sayangnya tali yang putus tak kan pernah bisa di sambung lagi. Tak kan pernah sama bentuknya."


"Meskipun tak sama bentuknya, setidaknya masih bisa di sambung kan ma. Bertahun-tahun kami mencari kedua putra kami, dan akhirnya menemukannya. Kenapa mama tega menculik mereka?" ucap Husein mulai meninggi suaranya. Farhana mengeratkan genggaman tangannya, agar suaminya lebih sabar.


"Kami sangat bersyukur mama merawat mereka dengan baik." ucap Farhana berusaha menengahi ketegangan yang terjadi antara ibu dan anak.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu memanggil ku dengan sebutan mama, hah!" sentak Oma Sekar pada Farhana.


Abrisam yang murka, karena Oma berlaku kelewatan pada uminya melangkah hendak mendekatinya, namun tangannya segera di cekal oleh Abigail.


"Biarkan dulu mereka. Beri kesempatan untuk saling berbicara." bisik Abigail.


"Memang kamu ngga lihat, Oma membentak umi kita? Bahkan orang tua kita tidak diijinkan masuk. Harusnya di sambut dengan penuh suka cita."


"Iya, aku tahu. Belum waktunya kita mengambil alih pembicaraan itu. Umi orang yang sabar, kamu juga harus bisa sabar sepertinya. Okay?"


Abrisam menghela nafas kasar, lalu keduanya kembali melihat adegan drama di depan pintu.


"Maafkan saya ibu." balas Farhana sambil menunduk. Ia tengah berusaha untuk tidak menitikkan air mata.


"Maaf saja tidak cukup."


"Lalu, dengan cara apa saya harus meminta maaf pada ibu?"


Sesaat Sekar melihat Farhana dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Farhana pun mengangguk. Sementara Oma Sekar menyunggingkan senyum sinis.


Mereka yang melihat semakin merasakan jantungnya berdetak kencang, karena sangat penasaran dengan apa yang akan diucapkan Oma Sekar.


"Pergilah yang jauh. Tinggalkan Husein dan si kembar. Jangan pernah menemui mereka lagi. Maka aku akan memaafkan mu." ucap Sekar dengan enteng.


Namun, hal itu bagai pisau belati yang menyayat hati semua yang melihatnya. Bahkan, Farhana merasakan sakitnya lebih dari itu.


Abrisam yang tak bisa lagi membendung emosinya, dengan langkah yang cepat mendekati mereka yang tengah saling berhadapan di ambang pintu.


"Oma, kenapa Oma tega melakukan hal itu pada umi? Apa salahnya?"


Oma Sekar terkesiap dengan Abrisam yang sudah berdiri di dekatnya, di ikuti oleh Abigail.


Kali ini, giliran wanita sepuh itu yang jantungnya berdetak kencang. Ia tak ingin kedua cucunya mengetahui rahasia besar itu. Bahwa Oma lah yang menculik keduanya.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh kalian untuk keluar kamar? Bukankah Oma sudah bilang, tunggu di kamar sampai karyawan kita mengantar laporan kesini."


"Kami turun karena mendengar suara Oma yang lantang. Dan, akhirnya kami mendapati Oma tengah adu mulut dengan kedua orang tua kami."


"Sam, jaga bicaramu. Mereka bukan kedua orang tua mu. Orang tua mu sudah mati. MATI!" tegas Sekar.


"Oma bohong. Kita tidak percaya dengan ucapan oma. Kita sudah melakukan tes DNA, dan hasilnya menunjukkan bahwa memang Abi Husein dan umi Farhana adalah kedua orang tua kami. Kenapa Oma harus menyembunyikan hal ini dari kami? Kenapa Oma?" ucap Abrisam dengan lantang, meluapkan sesak di dada.


Abigail yang berada disampingnya, berusaha menenangkan kembarannya dengan mengusap punggungnya pelan.


"Bagus ya Sam. Kamu sudah berani membentak Oma." ucap Oma Sekar sambil tersenyum sinis.


"Bukan niat Sam untuk berani pada Oma. Ia hanya tak terima, kenapa Oma sampai menyembunyikan hal besar ini dari kami. Bukankah Oma seharusnya senang, jika anak Oma masih hidup. Kita bisa berkumpul dengan penuh kebahagiaan." ucap Abigail bijak.


Bahkan kedua orang tuanya dan bibi memuji Abigail yang tetap tenang menghadapi semuanya.


"Tidak semudah itu Bi. Oma tidak suka memiliki menantu dari golongan orang miskin. Oma tidak mau ketularan miskin. Kalian berdua harus sadar, kita ini keturunan ningrat."


Abigail menghembuskan nafas panjang, ternyata itu yang menjadi permasalahannya sejak dulu. Padahal Abigail kini tengah mencintai gadis SMA yang tingkat kekayaannya berada di bawahnya.


Terdengar nafas yang memburu dari Abrisam. Ia tak terima, jika harus memiliki pasangan yang di ukur dari tingkat kekayaan.


Padahal saat ini ia telah menikah dengan seorang wanita muda yang telah memiliki anak, hasil dari pelecehan.


Bibi yang melihat adegan itu, semakin mengurut dadanya, ia juga menitikkan air mata. Prahara besar itu kini benar-benar terjadi lagi.


Husein bangga pada kedua anaknya yang senantiasa membelanya, meskipun baru sebentar bertemu.


Sedangkan Farhana, berusaha untuk menetralkan hatinya. Karena luka lama yang telah kering, kini terkelupas lagi, dan bagai di siram air garam, sehingga menimbulkan rasa yang kian sakit.


Namun, melihat kedua putranya yang terus membelanya bagai obat mujarab yang menyembuhkan luka hatinya. Ia berusaha tersenyum melihat kedua putra mereka yang sangat menyayanginya.


Si kembar memutuskan untuk tidak mengatakan tentang perasaan mereka pada wanita pujaan di hadapan omanya. Karena hal itu pasti akan semakin memperkeruh keadaan.


"Jangan memandang segala sesuatu dari miskin atau kaya Oma. Tapi pandanglah dari kecantikan hatinya. Abi bisa melihat kecantikan hati umi lewat segala perilakunya. Bahkan meskipun umi tahu kalau yang menculik kami adalah Oma sendiri, umi tetap menyuruh kami berbakti pada Oma." ucap Abigail bijak.

__ADS_1


__ADS_2