Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
37. Memikirkan Lidya


__ADS_3

"Makanan siapa yang lebih enak dan murah Sam?" kata oma yang mengejutkan keduanya.


"Eh, anu, itu oma, makanan bibi dong tentunya." jawab Abrisam sambil meringis mengusap tengkuk leher nya.


"Awas ya, jangan sampai oma tahu kalian jajan di pinggir jalan. Selain ngga higienis, itu...."


"Juga makanan untuk orang kelas bawah, bukan level kita." potong Abrisam dan Abigail dengan cepat. Keduanya sampai hafal dengan apa yang akan di ucapkan oleh omanya.


"Hem, bagus kalau kalian selalu ingat ucapan oma." jawab omanya lalu pergi meninggalkan kedua cucunya.


Keduanya terkikik kecil karena hampir saja mereka ketahuan omanya sudah melanggar peraturan.


Kini keduanya memasuki kamar masing-masing.


Setelah selesai membersihkan diri, Abigail berniat hendak tidur. Tapi sejak tadi, ia terus membolak-balikkan badannya.


Bayangan Lidya bersama lelaki tadi masih memenuhi ruang kepalanya, hingga membuatnya sulit memejamkan matanya.


"Dasar gadis centil, kenapa kamu ngga mau pergi dari pikiran ku? Bikin aku susah tidur saja." rutuk nya.


Banyak dokter dan perawat yang naksir dengan Abigail, tapi satupun tak ada yang membuatnya menjadi sulit tidur.


Dan hanya Lidya saja yang mampu membuatnya seperti itu. Karena tak bisa tidur, seperti biasa, Abigail masuk ke kamar Abrisam yang jarang di kunci.


"Woi, ngagetin aku saja sih?" maki Abrisam yang baru saja memejamkan mata.


Ia terkejut dengan Abigail yang menjatuhkan tubuh di dekatnya.


"Kenapa lagi?"


"Di kamar ku banyak pengganggu." Abrisam mengerutkan keningnya mendengar jawaban yang absturd itu.


"Ada hantunya?" tebak Abrisam, dan Abigail hanya mengangguk lalu menutup wajahnya dengan bantal ingin segera tidur.


Pagi pun tiba, Abigail bangun dengan rasa malas. Semalaman ia tak bisa tidur. Di bawah matanya terdapat lingkaran hitam. Yang membuat Abrisam terkekeh melihatnya.


"Sebaiknya kamu pakai make up untuk nutupin mata panda mu." cicit Abrisam yang sudah siap dengan stelan jas hitamnya.


Abigail tak menghiraukan ucapan kakaknya, lalu melenggang pergi menuju kamarnya. Dengan rasa malas ia bersiap-siap. Dan menyusul Abrisam dan nenek nya yang sudah menunggu di meja makan.

__ADS_1


"Abi, kamu sakit?" tanya oma Sekar dan Abigail hanya menggeleng lemah.


"Biasanya kamu ceria, kenapa tumben terlihat loyo?"


"Abi ngga apa-apa kok oma, mari makan." ucap Abigail mengalihkan pembicaraan. Ia segera mengambil roti dan mengoleskan selai coklat.


Setelah selesai sarapan, kedua kakak beradik yang berbeda profesi itu, melajukan mobilnya masing-masing menuju tempat kerja yang berbeda.


Sesuai dengan titah omanya, Abigail bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit swasta milik omanya.


Sedangkan Abrisam harus meneruskan karier opanya dalam dunia bisnis.


Maka dari itu, sejak kecil keduanya selalu di ajak berkunjung ke tempat itu oleh oma dan opa agar terbiasa dengan lingkungannya dan memupuk semangat meneruskan usaha mereka.


Sebenarnya Abigail lebih suka menjadi seorang guru. Ketika kuliah dulu, ia hendak mengambil jurusan itu, dan langsung di tentang oleh oma dan opanya.


Akhirnya ia pun mengalah dan menuruti keinginan mereka. Toh hanya oma dan opa yang merawatnya selama ini. Jadi sebaik cucu yang baik, harus berbakti pada mereka.


Walaupun hanya dokter jaga, yang penting Abigail tetap berada di lingkungan rumah sakit. Ia menolak untuk menjadi seorang dokter spesialis.


Sedangkan Abrisam, sejak kecil ia sangat ingin menjadi seorang polisi. Melindungi orang orang di sekitarnya dari gangguan orang jahat. Sama seperti Abigail, ia juga di tentang keras oleh oma dan opa. Ia harus meneruskan menjadi seorang CEO di perusahaan omanya yang bergerak di bidang produksi kain.


Keduanya di tuntut untuk mampu mengemban pekerjaan itu dengan maksimal. Walaupun kepala keduanya berdenyut nyeri memikirkan pekerjaan itu, mereka tetap melakukan nya.


"Hai." dengan senyum ramah Clarissa menepuk bahu Abigail dari belakang.


Abigail hanya menyunggingkan senyum. Seluruh karyawan rumah sakit tahu, jika dokter cantik itu menaruh hati pada Abigail. Namun ia tak pernah memperdulikan nya.


"Kamu sakit Bi?" tanya Clarissa yang memperhatikan mata panda Abigail.


"Tidak, hanya kurang tidur saja." balas Abigail datar.


"Hem, seorang dokter bisa berbuat seperti itu. Sangat tidak menjaga kesehatan. Kalau kamu sakit, siapa yang akan mengecek kondisi pasien?"


"Masih ada dokter lain kan Sa. Aku pamit duluan ya." Abigail segera berjalan lebih cepat mendahului Clarissa menuju ruangannya.


Sesampainya di ruangannya Abigail segera menyibukkan diri agar bayangan Lidya bisa pergi dari pikirannya.


Abigail juga segera melakukan tugasnya mengecek kondisi pasien walaupun kepala nya masih berdenyut nyeri karena kurang tidur.

__ADS_1


Tanpa terasa, hari sudah beranjak sore. Abigail tengah duduk merenung di kursi. Menimbang baik buruknya untuk memberikan les pada Lidya hari ini.


Awalnya ia ragu, karena belum bisa melupakan kejadian semalam yang membuat hatinya bergejolak.


Tapi, demi Lidya agar bisa meraih nilai yang baik, akhirnya ia pun tetap berangkat. Sesampainya di parkiran, Abigail kembali bertemu dengan Clarissa.


"Hai Bi, mau pulang?" Abigail pun mengangguk ke arah Clarissa.


"Boleh aku menumpang mobil mu? Kebetulan mobil ku mogok."


Abigail terdiam sekian menit. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi merasa kasian dengan Clarissa, di satu sisi ia juga sudah berjanji pada Lidya.


"Maaf Clarissa, sore ini aku ada acara penting banget, dan ngga bisa di batalkan. Aku pamit dulu." ucap Abigail setelah menghela nafas panjang. Ia bergegas masuk ke mobil, lalu melajukannya.


"Kenapa sih sulit sekali untuk menaklukkan hati mu?" gumam Clarissa sambil menatap kepergian Abigail.


Sesampainya di rumah Lidya, Abigail di sambut dengan senyum ramah oleh Lidya.


'Ah, andai saja senyuman itu cuma untuk ku.' batin Abigail gemas.


"Masuk dulu kak, Lidya ambil buku dulu ya." ucap Lidya ramah.


Abigail tersenyum ramah lalu mengikuti Lidya masuk, dan duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian, Lidya sudah kembali menghampiri nya dengan setumpuk buku pelajaran.


"Ayo kak kita ke tempat biasanya." ajak Lidya mendahului Abigail.


Bergegas Abigail mengekorinya.


"Sini, bukunya biar kakak yang bawain." ucap Abigail sambil mengambil setumpuk buku itu dari tangan Lidya secara tiba-tiba.


"Hah, tumben bawain buku ku, biasanya juga enggak." gumam Lidya yang masih mematung dengan mulut yang terbuka. Setelah bayangan Abigail menghilang di balik pintu, Lidya segera menyusulnya.


"Tumben sih kak, bawain buku ku, biasanya juga ngga. Jangan jangan....." goda Lidya sambil menaikkan satu alisnya sambil tersenyum.


"Jangan ge-er, ayo kita mulai belajar nya." ucap Abigail dengan suara serak karena speechless mendapat pertanyaan seperti itu dari Lidya.


'Dasar bodoh, tumben juga sih aku bawain bukunya. Sok perhatian banget.'


"Ayo kak, di mulai sekarang belajar nya. Eh, apa nunggu minumannya? Kakak haus ya? Lidya ambilkan minum dulu ya." ucap Lidya beruntun yang menyadarkan Abigail dari lamunannya.

__ADS_1


Belum sempat Abigail menjawab, Lidya sudah berlalu meninggalkan nya.


'Kenapa pikiran ku ngga bisa lepas dari dia sih?'


__ADS_2