
Sidang kasus percobaan pembunuhan yang di lakukan Anita pun akhirnya di gelar. Rosa datang dengan di dampingi oleh ibunya dan keluarga Lidya.
Semua yang hadir mendengarkan dengan seksama segala yang di ucapkan oleh hakim, terdakwa dan korban. Sidang berjalan dengan cukup alot, karena keluarga terdakwa selalu menyangkal tuduhan yang di lemparkan oleh Rosa.
Akhirnya setelah beberapa kali di lakukan sidang, hakim memutuskan hukuman kurungan 1 tahun penjara untuk Anita.
Anita dan keluarganya menangis histeris tidak terima dengan vonis hakim.
Sedangkan Rosa dan team pendukung nya sujud syukur karena lega mendengar putusan hakim.
Anita tiba-tiba berlari ke arah Rosa tanpa bisa di cegah. Kini jarak mereka sangat dekat dan saling menatap. Akhirnya, Anita mengakui segala kesalahannya dan meminta maaf pada Rosa dengan berlinangan air mata.
Rosa masih menatap Anita yang berlinangan air mata sebelum akhirnya buka suara.
"Aku bisa dengan mudah memaafkan mu, dan memaafkan setiap orang yang melukai hati ku. Tapi hukum tetap hukum, semua harus berjalan seperti seharusnya. Silahkan mbak Anita menjalani hukuman yang sudah di tetapkan oleh hakim. Kita harus melewati malam yang gelap demi bisa menyambut siang yang terang benderang." ucap Rosa dengan tegas, lalu ia segera pergi meninggalkan ruang sidang itu. Sedangkan Anita segera diamankan oleh polisi untuk di bawa ke sel tahanan.
____
Tanpa terasa, waktu begitu cepat berlalu. Kini Zaidan sudah berumur 6 bulan. Ia sangat aktif, selalu berceloteh dengan riang, dan kini sudah mampu merangkak dengan cepat.
Beruntung sekali, Zaidan tak pernah sakit dan tak menyukai susu formula. Ia cukup kenyang hanya dengan meminum asi ibunya. Dan ketika Rosa memberikan MPASI, ia pun melahapnya hingga habis. Badannya semakin terlihat gembul dan lucu.
Semua itu tak lepas dari peran Rosa sebagai orang tua yang memiliki tugas ganda. Ia menunjukkan rasa bahagianya, agar anaknya itu juga ikut bahagia. Rosa mendidik Zaidan dengan penuh kasih sayang dan sepenuh hati.
Di awal kelahiran Zaidan, tetangganya mulai kembali membicarakan nya. Jika Rosa membeli sayur dan kebetulan mendengar mereka tengah memperbincangkan dirinya, tak segan Rosa langsung menegurnya. Akhirnya tetangga yang dulu sering menghinanya kini tak berani lagi menghinanya.
Rosa yang dulu, bukanlah Rosa yang sekarang. Yang hanya bisa diam jika di singgung.
__ADS_1
Meskipun Rosa hanya di rumah mengurus anak, ia tetap berpenampilan sebaik mungkin. Tak lupa ia selalu memakai cream yang dulu di belinya bersama Lidya. Ia juga semakin rajin merawat tubuhnya. Jerawat sebesar tomat yang membuat Lidya gemas, sekarang tak pernah muncul di wajah Rosa lagi. Kulit yang dulu hitam dan dekil, perlahan menjadi terlihat bersih dan segar. Sehingga ia terlihat semakin cantik.
Ia memakai uang tabungannya sendiri yang pernah ia kumpulkan saat bekerja di toko bu Cici untuk mencukupi kebutuhan nya itu.
Ibunya tak melarang Rosa berdandan atau merawat diri. Asalkan hal itu bisa membuatnya nyaman dan bahagia, kenapa tidak. Justru Rosa semakin percaya diri dengan penampilannya yang sekarang.
Terkadang kita harus merasakan pahit dulu sebelum bisa merasakan manis.
Kita harus melewati gelapnya malam, untuk bisa menyaksikan cerahnya sinar sang fajar.
Terkadang Allah mengambil yang baik dari sisi kita, guna menggantikan nya dengan yang lebih baik.
Sehingga bisa diartikan, jika kehidupan Rosa saat ini jauh lebih baik, dan jauh lebih bahagia.
Namun sayangnya di tengah kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, sebuah kabar yang tidak mengenakkan menghampiri lagi.
Sore itu tak biasanya ibunya pulang dalam keadaan lesu. Padahal biasanya, ibunya selalu berseru memanggil cucu tampannya.
Bu Susi menghempaskan tubuhnya di kursi dekat Rosa.
"Pabrik nya sudah tidak bonafid seperti dulu, akhirnya karyawan yang sudah berumur kena PHK, termasuk ibu." ucap bu Susi dengan datar. Namun mampu membuat Rosa seketika tertunduk lesu. Rasa bersalah seketika menghampirinya.
_____
Seminggu berlalu, bu Susi mulai mencari kerja. Tak mungkin ia tega membiarkan Rosa untuk mencari kerja, sementara ia masih menyusui bayinya.
"Doakan nenek ya sayang, semoga nenek hari ini dapat pekerjaan baru." ucap bu Susi sambil mengusap wajah Zaidan yang sedang tertawa dan memperlihatkan gigi nya yang baru tumbuh 4.
__ADS_1
"Iya nenek, cemuga hali ini nenek dapat keljaan balu." balas Rosa menirukan ucapan anak kecil yang belum fasih.
Dengan mengendarai motornya, bu Susi mulai mencari kerja.
Hari berganti bulan, dan bu Susi masih belum mendapatkan pekerjaan. Rosa pun terlihat semakin gelisah. Tiap malam ia selalu terbangun untuk bermunajat pada sang Pencipta. Ia berdoa agar masalah ekonomi keluarganya bisa teratasi dengan baik.
Setelah tahajud ia tak bisa tidur lagi. Selama ibunya menganggur, diam diam Rosa mencari lowongan kerja lewat handphone nya.
Tanpa sengaja ia melihat iklan lowongan kerja menjadi TKI di Arab Saudi. Hatinya tergelitik untuk mencoba pekerjaan itu. Ia pun mulai mencari berbagai informasi.
Hampir sebulan ia mencari informasi sekaligus meminta petunjuk pada Allah, apakah hal itu menjadi jalan keluarnya dari masalah ekonomi yang ia hadapi saat ini. Dan entah kenapa, setiap selesai sholat hatinya kian mantap untuk menjadi TKI.
Hingga suatu malam, ketika Zaidan sudah tertidur lelap, ia memberanikan diri berkata pada ibunya dengan niatan nya untuk menjadi TKI.
Tentu saja hal itu membuat ibunya sangat shock.
"Rosa, apa kamu tega meninggalkan Zaidan dan ibu di rumah sendirian? Apa ngga ada pekerjaan di sini? Sampai kamu nekad mau merantau di negeri yang jauh sekali itu." ucap bu Susi dengan wajah sendu.
"Rosa sudah mencari pekerjaan di sini bu, tapi tak kunjung ketemu. Setiap siang malam Rosa selalu berdoa agar mendapat pekerjaan. Dan entah kenapa setiap selesai sholat, hati Rosa semakin yakin untuk kesana."
"Ros..."
"Rosa sudah besar bu. In shaa Allah Rosa bisa jaga diri. Rosa ingin memberi yang terbaik untuk ibu dan Zaidan. Rosa mohon bu, ijinkan Rosa untuk mengikuti kata hati ini. Walaupun di awal memang berat meninggalkan ibu dan Zaidan, tapi seiring berjalannya waktu, semoga di mudahkan Allah bu."
Dengan berat hati dan setelah menghela nafas panjang, akhirnya ibunya memberikan ijin pada Rosa.
"Terima kasih bu." ucap Rosa sambil memeluk ibunya.
__ADS_1
Ia tahu, ini adalah keputusan yang sangat sulit. Sebenarnya ia juga tak tega jauh dari Zaidan yang selalu berada di sampingnya. Tapi tuntutan ekonomi yang mendesak Rosa untuk memutuskan hal itu.
Semalaman Rosa tak bisa memejamkan matanya. Berulang kali ia menghujani Zaidan dengan kecupan yang bertubi-tubi.