
"Assalamu'alaikum umi." sapa Lidya ketika panggilan sudah terhubung.
"Wa'alaikumussalam nak, ada apa sayang?" tanya umi Farhana dengan lemah lembut.
Lidya yang merasa di panggil dengan sebutan sayang, entah kenapa hatinya sangat senang. Farhana seakan ibu kedua baginya.
"Eh, begini umi. Baru saja Lidya tanya ke papa, katanya ada lowongan pekerjaan di kantor papa. Besok pagi, kak kembar di minta ke sana. Nanti Lidya kirim alamat kantornya ya."
"Oh, terima kasih sekali nak atas bantuannya. Umi akan segera kabar gembira ini pada mereka berdua."
"Sama-sama umi. Ya sudah, Lidya pamit belajar dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Semoga dimudahkan Allah belajarnya, jadi anak yang pinter dan sholihah. Wa'alaikumussalam."
Tak lama setelah percakapan itu berhenti, Lidya segera mengirim alamat kantor papanya. Sedangkan umi Farhana bergegas menemui kedua putranya yang tengah asyik menonton tv bersama Husein.
"Sayang, ada kabar gembira dari Lidya." ucap umi Farhana. Sontak ketiga lelaki itu menoleh ke arahnya.
"Ada lowongan pekerjaan untuk kita?" tebak Abigail, dan umi Farhana mengangguk.
"Alhamdulillah." ucap mereka.
"Apa Lidya memberitahu alamat kantor umi?"
"Iya, tunggu sebentar lagi." balas Farhana sambil duduk satu karpet dengan mereka.
Tak lama kemudian, handphone umi Farhana berdering. Nada pesan masuk. Bergegas ia membuka dan segera membacanya.
Si kembar pun ikut melongok kan kepalanya melihat ke arah handphone yang di pegang ibunya.
Wajah yang tadi terlihat berbinar bahagia, seketika sirna. Melihat nama dan alamat kantor yang diberikan oleh Lidya.
Tidak mungkin bagi keduanya untuk melamar kerja di perusahaan mereka sendiri.
Mereka tak menyangka, jika ternyata, selama ini, papanya Lidya bekerja di kantor cabang milik Abrisam.
Abrisam memang tak begitu hafal dengan nama karyawan nya, karena begitu banyaknya karyawan yang ia pekerjakan.
"Sabar ya nak. Mungkin ini belum rezeki kalian. Keluarga Lidya juga mungkin tidak tahu, kalau Abrisam yang menjadi pemilik perusahaan di tempat papanya bekerja." ucap Farhana, yang melihat gurat kecewa di wajah kedua putranya.
Si kembar pun mengangguk dan berusaha tersenyum di depan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Umi, bolehkah Abi pinjam handphonenya sebentar? Untuk mengabari Lidya, agar ia dan papanya tidak mengharapkan kedatangan kami di kantornya."
"Tentu boleh, ini nak." Farhana menyodorkan handphonenya pada Abigail.
"Terima kasih umi." Abigail bangkit berdiri dan membawa handphone uminya ke kamarnya.
Tak perlu waktu lama, panggilan itu sudah terhubung.
"Assalamu'alaikum umi." terdengar suara ceria Lidya di seberang. Membuat hati Abigail cukup terhibur.
"Wa'alaikumussalam Lidya."
Di seberang sana, Lidya mengernyitkan dahi, ketika mendengar suara Abigail.
Gadis itu segera menceritakan perihal lowongan kerja itu dengan antusias. Abigail sengaja membiarkan gadis pujaannya berceloteh, hingga akhirnya ia diam sendiri.
"Kak Abi ngga tertarik ya sama kabar yang aku sampaikan tadi?"
"Eh, siapa bilang ngga tertarik? Kakak sangat tertarik kok. Sebelumnya, terima kasih ya sudah membantu kami. Tapi sayangnya, kami tidak bisa menerima tawaran itu..."
"Memangnya kenapa kak?" Lidya langsung lemas mendengar penolakan dokter tampan itu.
"Ya makanya, dengerin kakak berbicara sampai akhir dulu. Jangan di potong."
"Kami tidak bisa menerima tawaran itu, karena kantor tempat papa mu bekerja adalah salah satu cabang perusahaan kami. Tidak mungkin kan kami melamar kerja di perusahaan sendiri?"
Lidya manggut-manggut mendengar penjelasan Abigail. Ia tak menyangka, dunia begitu sempit. Papanya selama ini bekerja di perusahaan keluarga Abigail, dan ia baru mengetahui hal itu sekarang.
"Jadi, sampaikan permintaan maaf kami pada papa mu, karena sudah menolak tawarannya." ucap Abigail lagi, karena sejak ia mengatakan alasannya, Lidya seketika terdiam.
"Eh, iya kak, tidak apa-apa. Aku juga minta maaf ya sekali lagi, karena tidak mengetahui hal ini."
"Hem, baiklah. Kamu sudah mengerjakan pe-er belum?"
"Iya, ini baru mengerjakan pe-er. Kalau tidak ada yang membantu, rasanya sulit sekali. Kapan kakak bisa mengajariku lagi?" Abigail tersenyum, karena Lidya merindukannya, walau hanya sekedar belajar bersama, itu sudah cukup baginya.
"In shaa Allah, nanti kalau kakak ada waktu, bakal kakak kabari lagi."
"Hem, janji ya."
"In shaa Allah, kakak tidak bisa janji. Kamu tahu sendiri kan, kakak sudah tidak punya apa-apa. Bahkan mencari kerja pun harus jalan kaki." kekeh Abigail.
__ADS_1
"Besok sepulang sekolah, Lidya temani lagi mencari kerja ya kak. Jangan di tolak. Lidya ngga suka ditolak."
"Tapi Lid..."
"Ngga ada tapi tapian. Kakak tunggu Lidya di hotel. Jangan berangkat sebelum Lidya sampai sana. Dah, Lidya mau belajar lagi. Bye... Assalamu'alaikum." Lidya langsung menutup teleponnya, tanpa memberi kesempatan untuk Abigail membalasnya.
"Hem, dasar bocah keras kepala." gumam Abigail sambil tersenyum.
Karena seharian ia mondar-mandir mencari kerja, bahkan harus berjalan kaki yang cukup jauh dan lama, membuat Abigail kecapekan.
Dan suara Lidya seolah menjadi dongeng pengantar tidur baginya. Ia pun tidur dengan pulas, sambil memeluk handphone uminya.
Sementara di luar, Abrisam tengah membicarakan rencana selanjutnya dengan kedua orangtuanya.
"Tadi abi pergi menemui salah satu rekan kerja di sini. Dan, ia bersedia membantu abi untuk membuka cabang disini. Segala sesuatunya tengah kami urus. Do'akan abi ya, agar usaha kita bisa terwujud." jelas Husein.
"Maa syaa Allah. Tentu saja aku akan selalu mendoakan kamu mas." balas Farhana dengan binar bahagia.
"Sam juga akan mendoakan abi. Semoga usahanya kian sukses." timpal Abrisam.
Ia banyak bertanya dengan ayahnya yang memang seorang pebisnis hebat. Berharap bisa menyerap ilmu darinya. Mereka terus bercakap-cakap, hingga tak terasa malam sudah merangkak naik.
"Eh iya, kenapa Abigail telepon lama sekali ya." celetuk Farhana.
"Hem, pasti dia sedang menggombali gadis SMA itu." tebak Abrisam.
"Adikmu bukan tipe lelaki seperti itu Sam." bantah Farhana.
"Ya sudah, Sam ke kamar dulu. Mau lihat apa yang tengah dilakukannya. Sampai-sampai betah sekali di kamar."
Abrisam bangkit berdiri, dan berjalan mengendap-endap membuka pintu kamar. Kedua orang tuanya pun mengikutinya.
Matanya membulat, ketika melihat Abigail sudah tidur dengan sangat pulas. Bahkan, handphone umi Farhana masih dalam genggamannya.
"Tuh kan, kamu bisa lihat sendiri Sam. Adikmu justru sedang tidur pulas. Makanya jangan su'udzon dulu. Itu ngga baik." ucap Farhana, lalu ia mendahului masuk ke kamar si kembar.
Ia mengusap wajah Abigail dengan penuh kasih sayang, serta menyematkan sebuah doa untuknya. Setelah itu, ia mengambil handphonenya, lalu keluar.
"Yah umi, kenapa cuma Abi doang yang di elus elus. Sementara Sam enggak." Abrisam mengerucutkan bibirnya, pura-pura ngambek.
"Kan kamu belum tidur Sam, makanya nggak umi usap kepalanya. Ya sudah, kamu buruan tidur gih. Biar ngga kesiangan bangunnya."
__ADS_1
"Iya-iya umi. Sam siap melaksanakan perintah dari umi." ucap Abrisam sambil menempelkan tangan kanannya di dahi, sebagai bentuk hormat.
Kedua orang tuanya terkekeh melihat anaknya yang bertingkah seperti anak kecil itu.