
Hari sudah sore ketika Rosa dan Abrisam tiba di Riyadh. Keduanya segera berjalan mencari taksi. Mereka harus duduk menunggu sekian menit, karena selalu keduluan oleh penumpang lain.
Lagi-lagi Zaidan mulai merengek. Mungkin karena seharian penuh hanya duduk, tidak bisa bebas bergerak. Abrisam yang paham, langsung meraih dari gendongan Rosa. Ia berusaha menghibur, mengayun ayunkan dan banyak hal yang ia lakukan agar Zaidan kembali ceria.
Untuk yang kesekian kalinya, Rosa tersentuh melihat Abrisam yang penuh perhatian pada anaknya, meskipun ia bukan darah dagingnya. Berbeda dengan Rico yang mengakuinya saja enggan, padahal ia adalah ayah kandungnya.
'Huh, kenapa aku harus memikirkan dia lagi? Bagi ku dia sudah mati.' batin Rosa dengan kesal, karena otaknya kembali teringat dengan Rico. Lelaki yang membuat ia terjatuh sedalam-dalamnya dan harus merasakan pahitnya kehidupan.
"Taksi!" seru Rosa sambil menghadang 1 taksi berwarna putih. Bergegas ia dan Abrisam berjalan memasuki taksi tersebut.
Rosa memberitahu pada supir tentang tujuan mereka ke alamat di salah satu pemukiman Al-Hamra Riyadh.
Di dalam taksi, Zaidan kembali berceloteh dengan riang, karena Abrisam tak henti hentinya menghibur.
Diam diam sang sopir juga memperhatikan kebersamaan penumpang nya dari balik kaca spion, yang terlihat bahagia.
Tak terasa sudah 1 jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya taksi berhenti di sebuah rumah yang ternyata tidak berubah, dan Rosa masih hafal.
"Aku saja yang membayar." kata Abrisam, ketika Rosa membuka tas hendak mengambil dompet.
Keduanya sejenak menatap rumah itu, sebelum memutuskan mengetuk pintu.
"Kamu yakin ini rumah majikan mu Ros?" tanya Abrisam meminta kepastian, dan Rosa pun mengangguk.
Akhirnya Abrisam pun mengetuk pintu, sedangkan Rosa mengucap salam.
"Apa mungkin rumah ini kosong? Kenapa tidak ada yang membukakan pintu dari tadi?" ucap Abrisam dengan kesal. Belum jadi Rosa menjawab, pintu perlahan terbuka.
"Wa'alaikumussalam." ucap wanita bercadar, dan Rosa masih hafal dengan pemilik suara itu.
"Rosa."
"Umi Farhana."
__ADS_1
Keduanya memekik menyebut nama. Rosa langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan umi Farhana, yang langsung di sambutnya hangat. Tak lupa keduanya juga saling berpelukan.
Setelah melepas rindu, pandangan umi Farhana beralih pada lelaki yang menggendong bayi di samping Rosa. Entah kenapa hatinya bergetar ketika untuk pertama kalinya melihat lelaki itu.
Rasa yang sama juga di rasakan oleh Abrisam, sejak tadi, ia terus memperhatikan wanita yang di sapa dengan nama umi Farhana. Entah kenapa hati nya juga bergetar. Apalagi mendengar wanita itu fasih berbahasa Indonesia.
"Rosa, dia siapa?"
"Saya suami Rosa." ucap Abrisam dengan yakin, sebelum Rosa menjawab.
Akhirnya umi Farhana mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah itu, ia berjalan menuju dapur untuk membuatkan mereka minuman.
Rosa sedikit terkejut ketika melihat umi Farhana bisa berjalan dengan baik, tidak seperti dulu yang sempat tertatih karena menahan sakit di dadanya. Bahkan dari pancaran matanya pun bisa di lihat, jika ia jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tak berapa lama kemudian, umi Farhana sudah kembali menemui mereka sambil membawa nampan yang berisi minuman dan aneka cemilan seperti kurma, kismis, kacang arab.
Baru saja meletakkan nampan di meja, terdengar suara ketukan pintu yang di iringi salam. Bergegas umi Farhana membukakan pintu. Abrisam memperhatikan umi Farhana yang mencium punggung tangan lelaki itu, sebelum lelaki itu masuk rumah.
Setelah bertegur sapa sebentar, umi Farhana menyuruh Rosa untuk membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh di kamar tamu.
"Kita tidur dalam satu kamar?" ucap Rosa dan Abrisam bersamaan, ketika umi Farhana memberi tahu di mana mereka akan istirahat.
Terpaksa keduanya menerima tawaran itu, karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada umi Farhana.
Abi Husein dan umi Farhana menyunggingkan senyum ketika melihat keanehan di wajah tamu mereka. Setelah berkata seperti itu, umi Farhana segera menyiapkan makan malam di dapur, sementara abi Husein harus mandi terlebih dahulu, karena baru saja pulang kerja.
Sesampainya di kamar, Abrisam meletakkan tas mereka di dekat tempat tidur, sedangkan Rosa sendiri duduk di tepi ranjang tempat tidur. Ia tengah melepas baju Zaidan sebelum di mandikan.
Sambil menunggu Rosa memandikan Zaidan, Abrisam menghempaskan tubuhnya di tempat tidur yang sangat empuk itu. Tatapan nya menerawang jauh. Segala perasaan kembali bercampur aduk. Hingga perlahan matanya yang mulai terpejam, kembali terbuka karena suara celotehan Zaidan.
"Ayo pakai baju sama om." ajak Abrisam sambil bangkit dari tidurnya.
"Maafkan Zaidan karena mengusik istirahat mu."ucap Rosa karena tidak enak.
__ADS_1
"Ngga apa-apa, siapkan baju Zaidan, biar aku yang pakai kan, dan kamu mandi saja."
Rosa mengangguk patuh, lalu menyiapkan segala keperluan untuknya dan Zaidan. Setelahnya ia bergegas masuk kamar mandi.
Guyuran air hangat membuat badan Rosa lebih rileks kembali. Ingin berlama lama, tapi sadar ada Abrisam yang belum mandi dan masih menunggunya. Bergegas ia pun mempercepat mandi.
Bau wangi membuat Abrisam menoleh ke arah Rosa yang baru saja selesai mandi dan kini sedang berjalan menuju ke arahnya.
'Bisa mati berdiri, kalau malam ini aku tidur satu kamar dengan nya.' batin Abrisam sambil menelan saliva.
"Kamu bisa mandi sekarang mas, baru nanti kita sholat sama-sama." ucap Rosa membuyarkan lamunan Abrisam.
'Pengennya sih mandi berdua sama kamu. Eh, apa-apaan aku ini.' batin Abrisam beradu.
"I_iya." Abrisam segera mengambil bajunya lalu berjalan cepat menuju kamar mandi. Tak ingin otaknya semakin traveling kemana-mana.
Berulang kali ia mengguyur air ke kepalanya, berharap bayangan Rosa bisa hilang dari kepalanya. Tapi hal itu tak mudah, mengingat malam ini keduanya akan tidur bersama dalam satu kamar.
'Coba kalau dia istri ku sungguhan, pasti langsung aku terkam.' otaknya kembali terkontaminasi dengan sesuatu yang buruk.
Setelah cukup lama, berada dalam kamar mandi, ia pun keluar.
"Ayo kita sholat Maghrib berjamaah." ajak Rosa ketika melihatnya sudah selesai dan kini terlihat rapi.
'Astaga, aku saja ngga pernah sholat, gimana mau jadi imam?' batin Abrisam panik.
Rosa pun segera menggelar sajadah, dan memakai mukenanya. Ia tengah mendudukkan Zaidan di samping sajadahnya.
"Ayo mas." ajak Rosa lagi, suaranya yang biasa saja malah terdengar mendayu dayu di telinga Abrisam.
"Eh iya." Abrisam segera bangkit berdiri lalu mendekat ke arah Rosa. Ia sudah berdiri di depan nya tapi tak kunjung mengawali sholat.
"Em, Ros, sejujurnya aku ngga pernah sholat. Aku ngga tahu gimana bacaannya." ucap Abrisam akhirnya mengakui kekurangan dirinya yang membuat Rosa terkejut.
__ADS_1