Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami
92. Sebuah keputusan


__ADS_3

"Bukankah sebentar lagi sidangnya akan di mulai? Ayo kita segera masuk ke dalam. Semoga cowok itu bisa mendapatkan balasan yang setimpal." ucap Abigail sambil berdiri.


Namun, sebelum Abigail sempat berdiri, Lidya sudah menarik pergelangan tangannya. Hingga membuatnya terjatuh dan ambruk di pangkuan Lidya. Tentunya, karena lelaki itu kurang keseimbangan.


"Arghhh....." Lidya mengerang kesakitan.


Abigail terpaku karena jaraknya dengan Lidya sangat dekat. Membuat ia spechlees, dan bahkan erangan Lidya justru terdengar indah ditelinga.


Sekian menit hal itu berlalu, keduanya tetap dalam posisi yang sama. Lidya perlahan menggerakkan badannya karena tak kuat menahan berat badan Abigail yang berbadan tegap nan atletis.


Namun, hal itu justru membuat Abigail masuk ke dalam dunia fantasi dewasa. Jantungnya berdegup sangat kencang. Air liurnya bahkan mulai menetes.


Lidya yang gemas, karena Abigail tak kunjung menggeser tubuhnya. Melayangkan sebuah cubitan di bagian pahanya, sehingga membuat lelaki itu tersadar.


"Arghhh...." giliran Abigail yang mengerang kesakitan, karena cubitan Lidya bagai sengatan lebah. Ia pun mengusap pahanya berulang kali.


"Lidya, kenapa kamu mencubitku?"


"Kakak! Kakak ngga sadar atau memang sengaja mencari kesempatan? Aku sudah ngga kuat lagi menahan berat badan kakak." cerocos Lidya, sambil mendorong tubuh Abigail sekuat tenaga.


Abigail baru sadar, ketika memindai keadaannya, lalu segera menggeser tubuhnya. Kini keduanya duduk saling berdekatan.


"Bukannya kamu ya, yang sengaja mencari kesempatan? Aku berdiri, tangan ku malah kamu tarik."


"Eh, itu....." Lidya menggaruk kepalanya, menyadari jika itu memang salahnya.


"Tadi Lidya memang mau minta maaf sama kakak, karena sudah berprasangka buruk." ucap Lidya sambil menunduk.


Abigail menarik senyum. Ia sangat bahagia bisa sedekat itu dengan Lidya. Ucapan permintaan maaf yang keluar dari mulut gadis cantik itu bagai guyuran air es yang menyejukkan hatinya. Karena mau mengakui kesalahannya.


"Kakak sudah memaafkan kamu. Sebelum menilai segala sesuatunya, lebih baik tabayun dulu. Agar tidak timbul fitnah. Sekarang ayo kita masuk ke ruang sidang."

__ADS_1


Lidya mengangguk, dan berjalan mengekor Abigail.


Dalam hati masing-masing, mereka sangat bersyukur, karena kesalahpahaman di antara mereka berhasil terselesaikan dengan baik.


Di tengah-tengah senyum yang mengembang di wajah mereka, ada yang memandang sinis dari kejauhan. Dialah kedua orang tua Rico.


Hatinya semakin membenci Rosa. Karena wanita itu, kini anaknya terpaksa mendekam di penjara. Karena Rosa pulalah, Lidya ikut melaporkan Rico ke polisi.


Dan, hal itu, menjadikan rencana ibunya Rico untuk mendekati keluarga Lidya berhenti. Karena keluarga itu mulai menjaga jarak. Tidak rela jika anaknya harus berdekatan dengan Rico.


"Gagal sudah untuk memiliki besan yang cukup kaya, dan menantu cantik seperti Lidya." Batin ibunya Rico dengan geram.


Wanita yang hanya cantik lahir, namun tidak cantik batinnya itu mengepalkan tangannya. Seolah-olah siap menonjok wajah Rosa.


"Sejak dulu, kamu selalu saja mengganggu hidup kami. Meskipun kamu sudah cantik. Tetap saja, aku tak sudi melihat wajah mu." gerutu Bu Rita lagi.


"Sudahlah Bu. Jaga sikap mu. Kalau perlu, kita harus minta maaf pada mereka, agar mereka mau mencabut dan menutup kasus ini. Agar anak kita bisa bebas."


"Maaf Bu, tapi benar apa yang dikatakan bapak. Jika anda dan bapak mau meminta maaf pada mereka. Dan mereka mau memaafkan, bisa saja mas Rico bebas, atau paling tidak hukumannya bisa menjadi lebih ringan." imbuh sang pengacara.


Bu Rita menoleh ke arah pengacaranya dengan tatapan yang tajam.


"Jika aku harus minta pada mereka, agar anakku bisa bebas, lalu apa pekerjaan mu? Enak saja mau makan gaji buta. Sawah ku sudah habis untuk membayar mu. Jika sampai gagal, uang akan ku tarik lagi."


"Ibu, jangan seperti itu. Malu di lihat orang. Ayo, kita masuk saja, sebentar lagi sidangnya akan segera di mulai." ucap pak Rahman menenangkan istrinya.


Meskipun Bu Rita masih jengkel dengan kebahagiaan yang ditampakkan oleh Rosa dan rombongannya, wanita itu akhirnya mengikuti apa kata suaminya. Masuk ke ruang sidang.


Rosa dan rombongannya juga ikut masuk ke ruang sidang. Rico pun kembali memasuki ruang sidang. Dan seperti dulu, ia di kawal oleh 2 orang petugas yang masing-masing membawa senjata api.


Bu Rita menatap Rico dengan wajah merah padam. Air matanya seakan hendak lolos dari tempat penampungan. Wanita itu tak sanggup melihat perubahan yang ada pada diri anaknya.

__ADS_1


Karena Rico terlihat semakin kurus, wajahnya kian banyak ditumbuhi rambut halus. Rambut di bagian kepala juga terlihat gondrong. Rico tidak setampan dulu.


"Pak, anak kita pak." ucap Bu Rita, dan akhirnya air mata yang sejak tadi ia tahan lolos juga. Pak Rahman menepuk pelan bahu istrinya, untuk menenangkannya.


"Tenanglah Bu, kita serahkan semua ini pada pihak yang berwajib."


"Gimana bisa tenang sih pak. Kita bisa tidur nyenyak, anak kita tidak bisa. Kita bisa makan enak, anak kita tidak bisa....."


"Sssttt... sudah bu. Sidang sebentar lagi akan segera di mulai, jangan berisik melulu."


Belum selesai istrinya mengungkapkan isi hatinya, pak Rahman menempelkan ujung jarinya, menyuruh istrinya diam. Karena sejak tadi selalu saja bicara panjang lebar, yang membuat telinganya semakin panas.


Jika tak sadar istrinya cantik wajahnya, sudah sejak dulu pak Rahman meninggalkannya. Punya anak satu, kelakuan tidak benar. Sawah pun ikut terjual. Membuat pak Rahman juga pusing tujuh keliling.


Kini, semua sudah memasuki ruang sidang. Tampak si kembar dan kedua orang tuanya duduk di belakang Rosa dan Lidya.


Sidang pun di mulai. Seorang petugas membawa tes DNA. Hakim pun membuka dan membaca isinya. Pengacara Lidya berdiri untuk menyampaikan jika dari pihak kliennya membawa seorang saksi.


Abigail pun berdiri dan menjelaskan apa yang ia ketahui dulu, saat sengaja membuntuti Lidya dan Rico, yang bolos sekolah. Ia juga menjelaskan perihal penggerebekan saat Lidya di bawa ke sebuah kamar.


Setelah Abigail selesai menjelaskan, pengacara dari pihak Rosa juga melakukan hal yang sama, yakni membawa seorang saksi.


Abrisam pun bangkit berdiri dan menjelaskan apa yang ia ketahui.


Tentu saja kesaksian si kembar membuat kedua orang tua Rico semakin meradang. Karena hal itu bisa memberatkan anak satu-satunya mereka.


Pengacara Rico yang khawatir jika kliennya kalah, segera mengajukan banding. Namun oleh hakim, hal itu di tolak.


Sidang berjalan cukup alot, mengingat tersangka adalah seorang yang masih berstatus pelajar. Dan, korban pun juga masih berstatus pelajar.


Namun, mengingat bukti-bukti yang ada, akhirnya hakim dengan tegas mengambil sebuah keputusan.

__ADS_1


__ADS_2